Guru yang sering merasa tidak memiliki peran apapun, bahkan sering menjadi objek penderita bagi setiap kebijakan pemerintah atau oknum dalam berbagai lapisan. Ketidaktahuan ini berdampak pada pola kinerja yang cenderung pasrah dan takut untuk melakukan sesuatu. Tentu saja ini bukan keseluruhan atau pukul rata, tetapi kalau kita amati dalam berbagai perbincangan atau berinteraksi dengan para guru maka kita akan menyadari betapa profesi guru masih jauh menanamkan sikap profesionalitasnya. Belum lagi kendala guru honorer yang sampai saat ini menjadi permasalahan yang sampai saat ini belum bisa dipecahkan.
Contoh permasalah guru yang sering dijadikan perasan dan sering ditemui (sekali lagi ini kasus yang banyak terjadi dan bukan keseluruhan), adalah:
1. Kenaikan golongan pada saat pengambilan SK
2. Penyesuaian masa kerja
3. Daftar antrian sertifikasi
4. Pencairan sertifikasi
5. Uang BOS
6. Uang Block Grant
7. Seleksi Kepala Sekolah
8. dan lain-lain
Berkembangnya paranoid ini bukanlah proses instan karena sudah berlangsung lama dan mereka sudah menyaksikan betapa menyakitkannya akibat yang akan terlihat jika tidak bisa bekerjasama atau memahami keinginan mereka (baca: oknum).
Tahukah akibatnya? Sejauh ini dampak yang nyata dan tidak mau diakui adalah dengan diadakannya ujian nasional. Jika kita menelusuri dari awal ternyata sederhana, Pak Jusuf Kalla saat itu menjadi Wapres bertanya mengenai infra struktur pendidikan, mutu guru, sarana prasarana, dan sebagainya yang dijawab dengan menteri sudah OK banget. Menteri menjawab karena mendapat laporan dari Dirjen, Dirjen mendapat laporan dari Dinas Pendidikan Provinsi, Dinas Pendidikan Provinsi mendapat laporan dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dari Pengawas dan Kepala Sekolah. Jadi tidak ada yang salah dengan Wapres ketika memutuskan Ujian Nasional, karena berdasarkan laporan OK.
Dampaknya, karena kadung berkata OK maka Bupati/Walikota dan Dinas Pendidikan melakukan pendekatan ekstrim dengan melakukan pola kecurangan masive yang dianjurkan bahkan diajarkan sebagai bentuk pertanggungjawaban dari laporan tadi. Pelaksananya? Tentu saja guru yang dengan hati yang tercederai seolah tidak memiliki pilihan untuk menolak.
Di sisi lain, pendidikan memang penuh dengan pelecehan dan lelucon konyol, kalau melihat guru di sinetron atau iklan kita bisa melihat guru seperti orang idiot, bego, dan tidak ada sisi positifnya. Dikerjai murid, dijadikan lelucon dalam iklan, sehingga menambah parah citra guru di masyarakat. Sikap guru terhadap pelecehan dari media memang cukup memprihatinkan, hampir-hampir tidak melakukan tindakan dalam proses peningkatan citra. Jangan-jangan banyak guru merasa kalau mereka seperti itu jadi tidak perlu lagi membela profesi dirinya.
Bayangkan dengan cara yang berbeda, betapa guru memiliki kekuatan yang besar dan mampu mempengaruhi republik ini. Saya akan menjelaskan salah satu kekuatan itu, yaitu:
1. Jika guru mampu bersatu dan memiliki visi yang sama maka guru bisa menolak setiap perintah yang bertentangan dengan nurani dan hukum misalnya memberikan contekan kepada siswa pada saat UN. Ketika guru bersepakat menolak maka tidak ada yang bisa memaksanya karena semuanya ada dalam satu ikatan solidaritas.
2. Guru sepakat tidak memberikan tips kepada oknum Dinas pendidikan, jika dilakukan bersama-sama rasanya tidak mungkin semua guru akan dinistakan dan diintimidasi.
3. Guru melakukan kampanye kepada produk yang melecehkan guru seperti iklan mie sedap, iklan minuman, dan masih banyak lagi
4. Guru melakukan kampanye kepada siswa agar menolak menonton atau membuat trending topic di twitter untuk menolak sinetron konyol.
Sepertinya sebagian dari langkah-langkah itu kalau dilakukan bersama-sama di Indonesia maka mereka akan menjadi respek dan tidak lagi menjadikan guru sebagian bagian dari upaya mencari keuntungan baik secara pribadi atau perusahaan. Berani?
PERAN GURU DALAM PENINDASAN PROFESI
Posted in curhat | Tags: block grant, BOS, iklan, indonesia, mie sedap, minuman, pendidikan, pungutan, sertifikasi, Ujian Nasional
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432H
Posted in curhat
Gara-Gara Kalender, Rendang dan Opor jadi Basi
Hanya sekedar mengkritisi perbedaan lebaran tahun ini dengan tanpa bermaksud mempertanyakan perbedaan keputusan dari beberapa ORMAS karena jelas kapasitas saya sebagai pengamat televisi berbeda dengan kejumhuran mereka dalam memahami dalil-dalil. Hanya saja ada bebera hal yang menggelitik hati ketika melihat perbedaan ini terjadi, lebih mengejutkan munculnya beberapa hal tersebut dilatar belakangi para ulama yang cukup disegani. Hal pertama yang muncul dalam benak saya adalah betapa kurangnya para argumentator itu kemampuan berdiplomasinya, sehingga tidak ragu menyalahkan pihak lain bahkan mengabaikan dikarenakan ada kesenjangan status sosial.
Beberapa hal itu diantaranya: Pertama, adanya pernyataan yang cukup keras kepada dua orang yang melihat hilal di Kudus, Jepara, dan Cakung. Sayangnya ketiga orang yang melihat ini dianggap tidak ada karena Majelis Ulama Indonesia (MUI) menganggap mustahil bila dibandingkan dengan 69 tempat yang tidak melihat hilal. Buat saya ini ajaib, sekelas MUI berani memutus seseorang malahan tiga saksi divonis bohong? Bahkan Rasulullaah pernah bersabda, urusan hati adalah urusan dia dengan Allah sehingga Rasulullah hanya melihat apa yang dibicarakannya orang tersebut. Rasulullah pun selalu mendengarka para shabatnya yang memberi informasi untuk berpuasa atau berlebaran walau itu dari orang Baduy. Ini jelas kontroversi, karena MUI menganggap orang-orang yang melihat hilal itu tidak lazim dan mengada-ada. Ternyata masih saja kebenaran harus berlandaskan pada suara mayoritas. Atau karena orang yang melihat hilal itu bukan dari kelompoknya?
Ada lagi sisi seru dari kejadian itu yang saya baca dari beberapa blog dan web berita, kasus di Jepara. Para penglihat hilal sangat tidak percaya pada orang yang melihat hilal walau dia dosen Perguruan Tinggi Islam karena dianggap aneh bisa melihat hilal sendirian padahal yang lain pake teleskop tidak melihat. Sehingga kesaksiannya diabaikan. Ini memprihatinkan, apalagi salah satu tokoh ulama dari organisasi besar menyebutkan, bahwa orang yang melihat hilal itu bukan orang yang diberi SK oleh organisasinya yang kebetulan orang yang diberi SK itu disebutkan bergelar panjang sekali baik itu gelar agama maupun gelar perguruan tinggi. Sekali lagi batin ini menjerit, sekerdil inikah pemikiran para oknum tokoh ulama kita? Semoga Allah mengampuni kita semua dari kelalaian diri kita, say jadi teringat kisah Ummi Maktum sahabat Rasul yang buta. Bahkan Rasul ditegur Allah dalam ayat Al-Quran atas tindakannya yang mengabaikan seseorang karena strata sosial dan kondisi fisiknya. Kisah lain yang bikin prihatin adalah ketika seorang tokoh ormas mengatakan bahwa hiruk pikuk ini adalah gara-gara kalender. Whattttt? Tidak adakah argumentasi lain yang lebih ilmiah? Ini sangat mengejutkanku, jadi keriuhan di masyarakat disebabkan oleh para pembuat kalender? Ah ternyata dibalik kelapangan kajian ilmiah keagamaan di negeri ini ternyata masih saja ada yang berargumen dengan cara-cara yang nyinyir. Jadi yang salah dan bikin umat kecewa adalah para pejabat yang menentukan SKB cuti bersama? kalau iya, lalu dari mana landasan itu ditetapkan hehehe… pasti makin aneh dan tidak lagi rasional. Wallahu a’lam…
Uniknya, di masyarakat adem ayem aja… Malah muncul peribahasa baru, “Jangan gara-gara hilal setitik rusak opor sebelanga”. Selamat berlebaran dan merayakan idul fitri walau di hari yang berbeda, Allah, Rasul, Qur’an kita satu. Jadi berpeganglah pada ukhuwah islamiyah. Amin…
Bandung, 31 Agustus 2011
3.41 wib (Waktu Indonesia bagian Bandung)
Mengkritisi Dualisme Penentuan Hari Raya
Cici Jagoan Renang
Saya bertemu pertamakali dengan anak ini pada saat masih berstatus sebagai guru bantu di sebuah sekolah ternama di daerah Parung pada tahun 2001. Saat itu saya masih dalam tahapan pelatihan dan uji coba. Cici waktu itu masih kelas satu dan kebetulan saya ditempatkan untuk mendampingi guru kelas dan asistennya untuk membiasakan diri dan beradaptasi dengan system belajar yang memang berbeda dari sekolah lainnya. High standard adalah kalimat yang tepat untuk mendeskripsikan sekolah tersebut, walau pada fisiknya saat itu belum memiliki bangunan sendiri dan ngontrak di ruko. Tetapi metodologi dan pendekatan sangat luar biasa.
Pertamakali saya mengenal Cici sebagai anak yang sangat ekspresif, percaya diri, dan memiliki energy yang besar. Ia selalu menjadi jagoan ketika berada di lapangan pada waktu mengikuti pelajaran olahraga atau pada waktu bermain. Salah satu olahraga kegemarannya adalah renang. Kebetulan orangtuanyapun sangat mendukung dengan memberikan les renang bersama kakaknya. Sepintas ia tidak memiliki masalah serius Read More…
Posted in Buku | Tags: guru bantu, Parung, renang, system belajar



Recent Comments