Posted by: sopyanmk | 11/07/2009

PESAN-PESAN MEMILIH MENURUT GURU BIDANG STUDI

Setiap orang punya cara dan gaya yang berlainan dalam menyampaikan pesan-pesan pilihan. Kerjaan ini adalah kerjaan waktu pilpres sms-an dengan Pak Didi ditambah Bu Manik dan Pak Jamal. Berikut adalah beberapa pesan berdasarkan guru bidang studi:
• Pilihlah Capres/Cawapres yang memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi, bertanggung jawab, dan jujur, serta bersih dari korupsi…
• Pilihlah guru yang tidak banyak gaya terutama gaya kinetik… kata guru Fisika
• Guru Bahasa Indonesia
Pilihlah yang pidatonya bagus, susunan katanya tersusun rapi sesuai dengan kaidah bahasa. Ceuk guru Bahasa Indonesia
• Pilihlah yang tidak berkepribadian baik, tidak mudah stres, dan memiliki mental yang baik.. kata guru BK
• Sebelum memilih harus di EDIT, SOFTWAREnya harus harus di update dan bukan bajakan, terus jangan asal COPY PASTE kata Guru Komputer
• Pilihlah yang sehat, yang kuat, yang membuat bangsa ini bermental juara, kata guru Olahraga. Bari mikir euy….
• Makanya pilih yang otak kanan dan otak kiri harus seimbang, lensa mata harus sehat. Uhuy…. biologi banget
• Kita harus memilih sesuai hati nurani, berarti harus bersih, suci, sehingga kita bisa memilih mana yang baik dan yang buruk sesuai tuntutan Rasul. Uhuy… agamis banget
• Semoga gaji kita BERTAMBAH, rizki kita tidak BERKURANG, sehingga kita bisa BERBAGI, pahala kita pun akan BERKALI lipat. Pangkat kita juga jadi naik… Uhuy… matematis banget
• Capres ideal adalah yang bisa LARUT dan BEREAKSI untuk rakyat. Saur guru Kimia
• Carilah capres yang sejuk, bebas polusi, dan mau menjaga kebersihan hati dan jiwanya… kata guru PLH bari lieur…
• Memilihlah yang akan membawa bangsa kita menjadi bangsa yang besar seperti jaman Majapahit dan Sriwijaya kata guru Sejarah…
• Jadikan pemilu ini Indah supaya Indonesia menjadi cantik dengan warganegaranya yang harmoni. Begitu guru musik berkata…
• Memilih harus mempertimbangkan untung dan ruginya kalau kata guru ekonomi…

*) Sopyan Maolana Kosasih

Ujian akhir nasional usai sudah. Segenap perasaan mengharu biru ketika kelulusan dan hasil ujian sudah diketahui hasilnya. Bahkan sejak awal, kontroversi Ujian Nasionalnya pun terus mendapat tanggapan yang beragam. Tak jarang, ada orang tua yang dengan segala macam cara dilakukan oleh orang tua dari hal yang legal sampai illegal supaya anaknya mendapatkan nilai yang memuaskan. Namun, hasil Ujian Nasional yang cukup bagus ternyata belum mendapatkan rasa aman bagi orang tua karena tahu nilai yang dicapai anaknya bukan yang tertinggi atau mendapatkan saingan yang cukup signifikan bukan hanya dari sekolahnya tapi juga dari sekolah lain. Perjuangan belum selesai bagi orang tua.

Fase berikutnya adalah fase yang cukup berat dan banyak dilakukan oleh orang tua siswa dengan jemput bola mendatangi sekolah-sekolah paforit untuk mendapatkan informasi akurat mengenai mekanisme penerimaan di sekolah tersebut. Bahkan tak jarang mereka mulai melakukan pendekatan personal demi mendapatkan pelayanan ekstra. Subjektifitas orang tua terhadap sekolah yang ada di sebuah wilayah memang dirasakan cukup tinggi. Secara tradisional orang tua yang peduli dengan anaknya sudah memetakan sekolah mana yang gurunya bagus, berkualitas, layanan sekolah dan fasilitasnya lengkap, serta berjuta kriteria terus dicari untuk melakukan pembenaran bahwa pilihan yang ia ambil tidak salah. Hal itu dilakukan oleh orang tua tiada lain dan tiada bukan semata-mata demi memenuhi perasaan prestise diri dan keluarganya di mata kolega dan kerabatnya.

Cara pensikapan orang tua dalam memilih sekolah yang disesuaikan dengan kriteria dan strata dirinya tidaklah salah. Pertanyaannya adalah, mengapa orang tua hanya memikirkan anaknya supaya masuk di sekolah-sekolah yang sudah “bagus”? Mengapa orang tua tidak memilih sekolah yang bisa menerima putra putrinya sesuai dengan kapasitasnya? Apakah memang ada sekolah bagus dan tidak bagus? Apakah sekolah terbaik di daerahnya akan menjadi jaminan kesuksesan putra-putrinya?

Pertanyaan-pertanyaan itu saya sampaikan tidak dalam konteks kecemburuan kepada sekolah favorit, namun pertanyaan-pertanyaan di atas saya sampaikan semata-meta ingin mengembankan kesadaran kepada orang tua bahwa sekolah dimanapun adalah baik karena semuanya menggunakan standar yang sudah di syahkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Hal yang ingin saya utarakan lainnya adalah bahwa jika ada sekolah yang dianggap tidak baik bukan berarti mereka harus ditinggalkan atau kalaupun terpaksa masuk bukan berarti harus merasa rendah diri, namun bagaimana orang tua berjibaku berasama-sama dengan guru untuk memberikan yang terbaik secara sinergi.

Kalau kita melihat acuan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Bagian Ketiga tentang Hak dan Kewajiban Masyarakat Pasal 8 berbunyi: Masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan. Dilanjutkan pada Pasal 9 berbunyi: Masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan. Di sana jelas bahwa di setiap sekolah ada peran yang tidak boleh diabaikan oleh setiap orang tua yang sudah berkomitmen menyekolahkan anaknya di suatu sekolah. Walau secara materia dia sudah bisa memenuhi kewajiban-kewajibannya kepada sekolah bukan berarti ia tidak lagi peduli untuk melakukan upaya-upaya yang dapat memajukan sekolahnya menjadi lebih baik dan semakin baik.

Pada hal ini saya lebih menyoroti peran orang tua di sekolah tingkat dasar (SD – SMP) yang sejauh ini terlihat peran orang tua semakin menjauh. Betul, sekolah tingkat dasar itu gratis karena ada program BOS dari pemerintah, namun bukan berarti peran orang tua untuk melakukan pengembangan mutu sekolah yang jelas akan berdampak pada putra-putri menjadi terhenti. Seharunya, peran komite sekolah menjadi semakin dinamis dan mampu mengajak semua orang tua untuk semakin erat mendukung dan berpartisipasi secara maksimal. Dukungan dimaksud tidaklah melulu uang, namun peran-peran lain dalam pembelajaran jelas-jelas memerlukan partisipasi dari semua pihak. Proses penyadaran ini memang harus mendapatkan perhatian serius sehingga undang-undang yang dibuat oleh pemerintah tidak menjadi hiasan dan pelengkap saja sedangkan isinya tidak pernah dijewantahkan dalam kenyataan di lapangan.

Pada sebuah sekolah ideal ada peran-peran yang seharusnya bersinergi dan interdependen. Mereka saling memahami dan saling memberikan kepercayaan sesuai peran masing-masing. Semakin kepercayaan itu dijalin maka akan semakin berdampak positif pada hasil yang diharapkan oleh semua pihak. Saya jadi teringat dengan buku yang ditulis oleh Steven Covey, seorang pakar kepemimpinan dan konsultan sekolah yang ulung. Ia menulis buku yang berjudul The Leader in Me. Pada buku tersebut dijelaskan bahwa pendidikan itu hanya akan dicapai jika semua bersedia dan bersepakat untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang diharapkan oleh semua pihak seperti: orangtua, guru, Kepala Sekolah, staff Tata Administrasi Sekolah, dan masyarakat. Di mana semua pihak berdiri dan berperan di posisi masing-masing dengan penuh respek.

Kesepakatan-kesepakatan itu menjadi acuan bagi sekolah dalam kegiatan sehari-hari dan juga akan dijadikan patokan oleh orang tua ketika ia melihat perkembangan anaknya dari hari kehari di sekolah. Secara ekstrim, jika kesepakatan-kesepakatan itu dilanggar maka semua orang dapat dengan mudah menuntut dan meminta pertanggungjawaban, walau dalam buku itu dengan jelas digambarkan menjadi sangat tidak mungkin ada kasus tersebut. Bayangkan, dalam waktu singkat sebuah sekolah yang hampir ditutup oleh pemerintah negara bagian karena kekurangan siswa tiba-tiba berubah menjadi sekolah terbaik dengan slogan Magnet School.

Kalau di Amerika Serikat bisa, saya yakin di Indonesia pun bukan hal yang tidak mungkin. Semua orang bisa melakukannya dalam situasi dan kondisi yang berbeda sekalipun, asalkan semua syarat-syarat yang ada di buku tersebut dapat dipenuhi dan tidak sekedar dipenuhi namun benar-benar tumbuh suatu kehendak bersama yang siap diimplementasikan dalam tindakan yang penuh tanggung jawab. Sudah banyak di Indonesia ini kisah-kisah heroik tentang pendidikan. Pertanyaannya adalah apakah orang tua masih berpikir terima jadi dan tidak mau bekerja keras untuk sekolah putra-putrinya?

Sebaik apapun sebuah sekolah jika peran orangtua tidak ada sama sekali maka dapat dipastikan bahwa sekolah tersebut tidak akan pernah bertahan lama dan menjadi kering dari inovasi. Orang tua adalah the best quality assurance yang akan mengabarkan kepada semua orang seperti apa sekolah putra-putrinya, seperti apa perilaku guru-gurunya, seperti apa inovasi-inovasi yang dilakukan gurunya, program-program apa yang dilakukna oleh sekolahnya. Betapa keringnya sebuah sekolah jika saja semua beban dan tanggung jawab pembelajaran itu hanya dibebankan kepada sekolah saja. Sekolah gratis bukan berarti peran orang menjadi hilang dan menganggap peran orangtua murid sudah digantikan oleh negara. Sungguh itu adalah peran sempit dari sebuah harapan yang besar.

Untuk sekolah, sebaiknya memulailah komunikasi yang baik dengan orangtua murid. Jadikan Komite Sekolah sesuai dengan tata aturan yang sudah diundangkan. Berikan kepada mereka peran dan kesetaraan dalam tanggung jawab meningkatkan mutu pendidikan di sekolahnya. Komite Sekolah bukan hanya pelengkap, namun bisa menjadi sebuah kekuatan besar yang akan meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan di sekolah. Jadi, kenapa tidak sekolah memulai dari awal menjalin harmonisasi dan keterbukaan. Tentu semuanya harus dipastikan sesuai dengan rambu-rambu yang ada dan telah disepakati.

Komite Sekolahpun hendaknya semakin proaktif bukan hanya kepada sekolah namun lebih proaktif lagi memotivasi semua orangtua untuk berperan aktif. Komite Sekolah bukan lembaga yang diciptakan untuk memungut iuran saja namun di sana terpampang sebuah harapan besar dan tanggung jawab bersama sekolah meningkatkan pelayanan mutu dan kualitas pembelajaran. Ada ruh gotong royong, bagaimana Komite Sekolah mengetahui siapa saja orang tua yang kurang mampu, orangtua yang sedang tertimpa musibah, dan hal lainnya. Sehingga eksistensinya akan menjadi dibutuhkan dan dinantikan.

Bayangkan jika sinergi itu berjalan, maka transparansi sekolah dengan sendirinya akan bisa diwujudkan. Jika transparansi sudah terealisasi akan muncul kepercayaan. Jika kepercayaan itu sudah didapatkan, maka dapat dipastikan orang tua akan mendukung penuh program-program sekolah yang akan dilaksanakan. Standar pelayanan dan program sekolah yang dibuat berdasarkan BOS bisa ditunjukkan kepada Komite Sekolah. Bahwa jumlah program dengan alokasi yang ada belum bisa maksimal dalam memberikan pelayanan kepada siswa dan orang tua. Jika fakta-fakta itu nyata, siapapun orangtua sudah dapat dipastikan akan memahami pentingnya peran dan dukungan orangtua. Tetapi, peran mereka bukan semata-mata melalui iuran karena bisa jadi orang tua akan mencarikan sponsor atau donatur besar untuk memenuhi program-program ideal. Bahkan mungkin akan lebih dari itu.

Kalau elemen-elemen itu berjalan, maka sekolah seperti apapun sekarang dimana akhirnya putra-putrinya disekolahkan. Bukan tidak mungkin dalam waktu setahun kedepan atau berapapun lamanya hanya soal waktu untuk berubah dan menjadi yang terbaik. Jadi jangan takut putra-putrinya tidak berhasil belajar di sekolah favorit karena dimanapun selaku orangtua harus siap untuk memajukan dan mendukungnya. Jadi berperanlah sebagai orangtua yang proaktif bukan sebagai orangtua yang menyerahkan semua urusan anaknya kepada sekolah.

Selamat atas keberhasilan putra-putrinya! Semoga mereka menjadi yang terbaik dengan melalui tahapan-tahapan baik pula!

*) www.sopyanmk.wordpress.com

Posted by: sopyanmk | 03/07/2009

Honor Menulis di Koran

Kamis kemarin akhirnya saya menerima honor menulis di koran. Koran yang menjadi sejarah itu adalah Radar Bogor. Thanks alot Radar Bogor, you make my dream come true. Sebetulnya, tulisan itu sudah dua artikel yang dimuat dan itu tidak termasuk dengan liputan-liputan tentang diriku yang pernah beberapa kali dimuat di Radar Bogor… halah narsis amat nih…

Artikel pertama adalah refleksi hari pahlawan dan Kampanye tanpa program. Ini menjadi menarik karena hal-hal yang ditulis menjadi sangat original. Semoga motivasi untuk menulis akan terus meningkat… ingin bikin buku…..

Amin…

Posted by: sopyanmk | 30/06/2009

Diklat Nasional di Graha Dewi Sartika Bogor

Bogor 28 Juni 2009, saya diundang oleh Tim Edukasi Harapan Ibu yang mempunya program 1000 laptop untuk guru. Salah satu kegiatan yang diadakannya adalah mengadakan sosialisasi dalam bentuk diklat nasional. Pembicara yang diundangpun cukup hebat. Pembicara-pembicara yang kompeten dalam dunia pendidikan. Ini menarik karena tema-tema yang diambil sangat sangat top dan memang sedang menjadi trend yaitu masalah pengembangan ICT.

Sejauh ini ICT di sekolah masih seperti benda magis yang menjadi sangat kaku untuk menjadi bermakna dalam aktivitas kelas. ICT seolah-olah hanya berhak di sentuh oleh guru ICT bukan untuk guru kelas atau guru pelajaran lain. Padahal penggunaan ICT adalah mutlak harus menjadi kebutuhan semua guru dalam berbagai aspek pembelajaran. ini yang harus terus digelindingkan kepada semua guru, sehingga para guru menjadi bersemangat dan terus berinovasi dalam pendidikan.

Saya mendapatkan tugas untuk mempresentasikan kegiatan-kegiatan yang pernah dilakukan, mulai dari Kegiatan Konferensi Guru Asia-Eropa ke-3 di Bogor, ke-6 di Yunani, dan ke-7 di Malaysia. Semoga malah dapat kesempatan Konferensi ke-8 di Denmark Juli yang akan datang, amin. Tidak lupa saya menunjukkan klip-klip yang dilakukan selama di Amerika. Oh iya, saya juga menunjukkan salah satu karya siswa saya tentang Geotopia….. wuih… mereka sepertinya terkaget-kaget. Alhamdulillaah…

Sederhana saja tujuan saya menunjukka ini, supaya guru-guru termotivasi dan mengubah persepsi bahwa penggunaan ICT bukanlah barang mahal dan sulit untuk dilakukan. Ini semua bisa dilakukan oleh semua guru tanpa terkecuali. Susah, bisa ya bisa tidak tergantung dari niatan seseorang apakah ia punya keinginan untuk maju atau hanya sekedar menonton keberhasilan orang dan mengkritik tajam semua inovasi-inovasi yang dilakukan sahabatnya. Tapi, saya garansikan saat ini guru seperti itu sudah tidak ada lagi.

Sebetulnya saya ingin upload file presentasi di sini tapi kapasitas blognya sudah penuh jadi mungkin saya sisipkan saja materi presentasinya di scribd yang bisa diakses oleh semua orang tanpa memberatkan blog ini. Mudah-mudahan bisa menginspirasi, bahwa untuk merancang kegiatan berbasis “Classroom Exchange” dengan berbagai negara bukanlah kegiatan.

Kalau ada temen-temen yang memang tertarik dengan dunia classroom exchange? Just contact me… I am here and ready to help you. Berikut adalah link materi yang saya sampaikan: http://www.scribd.com/doc/17099326/Menata-Dunia-Baru-Melalui-Classroom-Exchange

Salam pendidikan

Posted by: sopyanmk | 30/06/2009

Pendidikan Kontekstual, Solusi untuk calon TKI

Oleh: Sopyan Maolana Kosasih *)

Maraknya kasus pelecehan oleh para majikan atau agen-agen TKI yang ada di dalam negeri atau luar negeri jelas menimbulkan duka mendalam bagi bangsa Indonesia. Kasuss Siti Hajar dan Padahal mereka secara ekonomi sangat berjasa dalam menambah devisa Indonesia. Pada tahun 2008 saja TKI menyumbang devisa sebesar 82 triliun. Prestasi besar ini sayangnya sampai saat ini masih belum dikelola oleh negara dengan baik malahan kebanyakan dari para pahlawan devisa tersebut sering menjadi korban eksploitasi dari mulai agen perekrut, penyalur tenaga kerja, sampai para majikan yang mempekerjakan mereka. Bahkan tak jarang mereka pun dijadikan sapi perahan ketika baru mendarat di tanah air. Sungguh mengenaskan, ironisnya mereka semua seolah pasrah karena memang mereka tidak tahu cara membela diri dan memastikan hak-haknya

Berdasarkan pengalaman pribadi pada waktu akan menghadiri Konferensi Guru Asia-Eropa di Yunani tahun 2006, saya satu pesawat dengan serombongan para TKI yang akan mengais rejeki di luar negeri. Mungkin mereka akan di Arab Saudi atau di negara Arab lainnya. Karena mereka memang duduk berkelompok dan sepertinya enggan untuk berbincang kepada orang asing. Bisa jadi doktrin seperti itulah yang mereka ajarkan selama di tempat pendidikan. Bisa jadi benar atau salah.

Keprihatinan saya baru terlihat ketika saya harus transfer pesawat di Qatar menuju Yunani sedangkan para TKI harus transfer pesawat menuju negara masing-masing. Saya mencoba mengamati semua gerak-gerik mereka dan memastikan kemana mereka akan pergi. Namun, setelah turun dari pesawat mereka berkerumun dan terlihat bingung harus menuju ke mana mereka selanjutnya. Di Qatar suasananya jelas berbeda karena di sana bahasa yang dipakai adalah Arab dan Inggris. Saya dapat memastikan bahwa kemampuan Bahasa Arab mereka pun tidak terlalu baik apalagi Bahasa Inggris. Sehingga mereka pun bergerombol diluar tidak segera Read More…

Older Posts »

Categories