Posted by: sopyanmk | 08/07/2012

JAGOAN ITU KINI RANKING 3


Saya mengenalnya sejak di kelas VII. Kebetulan saya mengajar IPS untuk kelas mereka, memang sedikit berbeda dari yang biasanya ngajar PKn. Tapi mau bagaimana lagi, ketika tugas datang maka semua harus siap menjalankan tugas. Searching and browsing adalah salah satu langkah awal yang biasa saya lakukan ketika bertemu dengan peserta didik baru. Sambil melakukan proses pembelajaran, sambil melihat karakter seperti apa anak-anak yang masih imut-imut ini. Saya mengenalnya dengan cepat karena namanya unik mirip artis band yang berubah jadi komedian akhir-akhir ini, selanjutnya saya panggil ia dengan nama panggilan Rio. Dari luar ia terlihat pendiam, jarang berinteraksi apalagi berkomunikasi, tapi dibalik itu saya melihat ia memendam gejolak energi yang besar tergambar dari bahasa tubuh dan bola matanya.

Sampai suatu saat dia terlibat dalam selebrasi ulangtahun temannya yang jago karate dengan cara memukul dan menamparnya beramai-ramai. Sampai temannya itu berdarah-darah hidungnya kena pukul. Ketika ditelusuri siapa saja yang mukul, ternyata anak itu juga ikutan. Sebetulnya hanya selebrasi biasa yang saat ini sering dilakukan oleh anak-anak remaja, tetapi yang berbahaya adalah ketika anak yang ulangtahun akhirnya menjadi korban karena kejadian saat itu tidak terkendali. Akhirnya Rio tercatat di buku BK dalam kasus pemukulan dan tindak kekerasan. Setelah diingatkan, beberapa waktu tidak ada kejadian lanjutan. Sayangnya Rio diam-diam mulai terpengaruh untuk terlibat dalam kelompok yang dipimpin oleh kakak kelasnya. Jam terbang dalam berbagai tawuran Rio semakin hari semakin panjang dan eksistensinya mulai diperhitungkan. Sampai akhirnya ketika kasus tawueannya terbongkar, Rio pun ikut di dalamnya.  Nasihat dan janji sudah diucapkan bahkan perjanjian di atas materai yang ditandatangani oleh orangtuanya bahwa jika Rio sekali lagi terlibat tawuran harus mengundurkan diri dari sekolah.

Rio pun naik ke kelas VIII. Di kelas barunya saya memang tidak terlalu memantau karena saya sudah tidak menjadi pembina OSIS dan memang tidak mengajar di kelas VIII.  Di sela-sela minimnya komunikasi, kadang-kadang saya masih menyempatkan berinteraksi walau hanya sekedar say halo. Namun catatan pelanggaran terhadap aturan-aturan sekolah semakin banyak dan menjadi buah bibir guru-guru yang mengajar ataupun yang mengenalnya. Secara pribadi saya mencoba objektif ketika berkomunikasi dengannya.

Menjelang tengah semester tiba-tiba saya mendapatkan informasi dari murid yang menjadi informan bahwa telah terjadi tawuran. Saya mencoba menelusuri agar tidak menyolok, namun hampir seminggu masih tidak menemukan titik terang. Mereka memang semakin ahli menyembunyikan kejadian yang sudah terjadi khususnya tawuran. Hal ini mereka lakukan karena mereka sangat tahu kalau konsekuensinya adalah diminta mengundurkan diri dari sekolah. Keputusan ini diambil karena berdasarkan investigasi yang dilakukan oleh guru BK dan Pembina Kesiswaan, setiap anak yang terlibat tawuran menunjuk kepada tiga orang yang salahsatunya adalah Rio. Rio pun seperti tidak kuasa menolak atau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ada kekuatan besar yang ditakuti oleh Rio, sehingga ia hanya tertunduk lesu dan menerima keputusan untuk mengundurkan diri dari sekolah.

Sampai suatu malam kira-kira pukul 24.00 WIB tiba-tiba saya mendapat SMS yang ketika dibaca cukup membuat hati sesak, bunyinya “GUA MERASA DIPERLAKUKAN SEWENANG-WENANG OLEH GURU DAN GUA BUTUH KEADILAN”. Setelah membaca SMS itu pikiran saya sempet merasa emosi, sambil menghela nafas saya membalas “GUA BUTUH MURID YANG MAU BELAJAR UNTUK BERLAKU ADIL BUKAN PENGECUT”. Tampaknya SMS saya mengejutkannya karena sampai esok siangnya saya tidak mendapat balasan. Sejujurnya, pada saat keputusan Rio dan dua kawannya diminta mengundurkan diri, saya tidak tahu persis kejadiannya karena memang secara sistem saya berada di luar.

Setelah menjelang sore, saya mengirimkan SMS dengan lebih lembut untuk menanyakan pengirimnya, karena saya tidak memiliki nomor Rio. Setelah dia memperkenalkan dirinya, barulah saya mencoba menggali apa yang menyebabkan kegundahannya. Ternyata ia merasa komunikasi interogasi tidak adil dan memojokkan seolah dirinya yang paling bersalah dan harus paling bertanggungjawab sehingga ia diminta mundur dengan sukarela atau terpaksa. Mencoba memahami dari persepsinya, saya merasakan bahwa semua kejadian tawurn itu bukanlah mutlak kesalahan dia. Hanya saja dari apa yang didengar dan dikatakan teman-temannyalah yang membuat dia terpojok. Sebuah pergaulan yang kejam, dimana suatu saat, siapapun, bagaimanapun, akan ada orang-orang yang dikorbankan demi sebuah kepentingan dibalik berbagai kejadian.

Ini mengerikan dan tentu akan memunculkan perasaan ketidakadilan, apalagi dari sebagian yang mengenal dekat tentu tidak menerima kenyataan ini. Bahkan beberapa muridpun melaukan demo kecil untuk meminta keadilan. Bahkan di jejaring sosialpun bertebaran komentar dan posting yang menyerang kebijakan sekolah terkait mundurnya tiga anak tersebut. Sempat saya ajak berkomunikasi di jejaring sosial dan pada hakikatnya mereka tidak memiliki argumen apapun. Saya mencoba melakukan pendekatan kepada teman-teman sekelasnya dan mengajak diskusi tentang keadilan. Setelah berkomunikasi panjang dan ditutup dengan candaan ternyata mereka tidak mau diperlakukan adil atas kasus ini. Ketika saya bertanya “mau keadilan?” mereka menjawas serempak “mau!”. Tetapi ketika diakhir dengan kalimat “Baik, saya akan minta keadilan kepada kepala sekolah, bahwa setiap yang terlibat kekerasan harus mengundurkan diri”. Seremapk mereka menjawab “jangan!!!!!”. Ternyata jauh di dasar hatinya, mereka memahami atas apa yang sekolah putuskan.

Beberapa minggu kemudian, saya mendapat SMS yang berbunyi “GURU-GURU ITU DAN SEKOLAH ITU TELAH MENGHANCURKAN MASA DEPAN GUA”.  Entahlah, kalimat itu bisa ditafsirkan menjadi sebuah reaksi prustasi atau penyesalan. Prustasi karena dia tidak mampu beradaptasi di sekolah barunya atau bisa jadi itu adalah penyesalan atas apa yang ia sudah lakukan. Sayapun membalasnya dengan sedikit bercanda “YAKIN, SEKOLAHMU YANG DULU MENGHANCURKAN MASA DEPANMU ATAU SIAPA YANG MENGHANCURKANNYA?” Ia membalas lagi “SEKOLAH BAPAK!”. Saya tersenyum karena ketika ia merespon ia akan cerita, lalu saya melanjutkan dialog “BAGAIMANA BISA? MASA DEPANMU ADA DI TANGAN KAMU SENDIRI”. Ia kembali menjawab “KARENA SEKOLAH YANG SEKARANG KUALITASNYA JELEK, PADAHAL SAYA MAU JADI DOKTER”. (Jgerrrrrrr…)  Jawaban yang tidak terduga. Jagoan itu mau jadi dokter ternyata. Buru-buru  saya meresponnya dengan bertanya “KAMU MAU JADI DOKTER? HEBAT YA!!! SAYANG DULU KAMU TIDAK BELAJAR LEBIH SERIUS PADAHAL SEKOLAH INI TERNYATA BAGUS”.

Saya tidak tahu apa perasaannya dengan jawaban saya yang satir yang memang sebaiknya dihindari oleh guru, tetapi saya penasaran dan ingin mendapatkan reaksi seperti apa. Tapi dia mengatakan bahwa sekolah barunya tidak sehebat sekolah yang ia tinggalkan. Hmmm akhirnya dia mengakuinya walau terlambat. Dia cerita tentang kualitas gurunya yang asal-asalan, tidak menguasai materi, datang terlambat, serta sederet pembuktian tentang karakter guru yang selama ini identik. Jadi sedih, apakah guru-guru di sana seperti itu. Saya hanya bisa mengirim sebuah pesan penutup dari percakapan itu “SESEORANG BERHASIL BUKAN KARENA SEKOLAH DAN GURUNYA SAJA, SESEORANG BERHASIL KARENA KEKUATAN TEKAD DAN TOTALITAS USAHANYA”.  Dia pun mengucapkan terimakasih.

Akhir semester sudah berlalu, ditengah keisengan yang sedang melanda saya mengirim SMS “APA KABAR RIO, RANKING BERAPA?”.  Tak lama ia menjawab “SAYA RANGKING 3. BAGAIMANA DI SEKOLAH SANA MASIH TAWURAN”. Apa? Saya terkejut ketika ia menulis ranking 3. Tapi saya yakin ia serius menuliskannya. Saya senang setengah mati karena Rio berhasil masuk siswa terbaik. Saya godain dengan SMS berikutnya “JUSTRU SAYA MAU TANYA, ANAK DI SINI MASIH TAWURAN ATAU TIDAK? KAN KAMU PASTI TAHU…”. Dia membalas “SAYA MEMILIH PACARAN DIBANDINGKAN TAWURAN”. Hmmm ternyata ada gadis yang bisa meluluhkan hatinya. Saya bersyukur akhirnya sang jagoan itu memilih jalan terbaik dan sudah mendapatkan imbalannya dengan menjadi ranking ke3. Gudlak jagoan…!

 


Responses

  1. pa pake namanya aja atuh desta gitu

  2. Bagus pak ceritanya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: