Posted by: sopyanmk | 08/07/2012

Guru masih perlu seminar?


Seminar adalah kata yang tiba-tiba menjadi booming ketika isu sertifikasi merebak. Dari yang awalnya dikerjakan untuk memfasilitasi guru agar bisa ikut berbagai kegiatan dan mendapatkan sertifikat, tiba-tiba berubah yang penting bayar nanti dapat sertifikat. Pada masanya, bisnis sertifikat menjadi bisnis yang menjanjikan. Perilaku korup memang tidak kemana. Kini era portofolio sudah berlalu, namun pemahaman para event organizer tentang seminar masih terus berjalan, sayang sekali kalau mereka tidak update dan memahami persoalan di lapangan dengan lebih komprehensif. Bukan hal yang aneh sebenarnya, karena bisa jadi orientasi mereka adalah mobilisasi masa dan berorientasi pada keuntungan. Hanya saja, masa sih tidak punya hati nurani? Masih mau mengeksploitasi guru.

Secara objektif, dari beberapa lokakarya yang pernah diikuti guru sering tidak serius mengikuti kegiatan itu. Sudah tahu, bosen, cape, mau pulang, dan segudang alasan. Padahal itu kongkrit berguna pada keterampilan seharusnya dimiliki oleh guru dan bisa dimanfaatkan atau dilakukan pada kegiatan pembelajaran. Bisa dibayangkan lokakarya saja kondisinya seperti itu, apakah tidak bisa dibayangkan tingkat kebermaknaan dan kegunaannya jika seminar yang diikuti? Setelah sekian puluh tahun guru hanya bisa menerima pembinaan, doktrin, dengan segala tetek bengeknya, kemudian harus berubah untuk lebih mandiri, imajintif, dan produktif. Apakah cukup dengan seminar? Bukankah seminar itu hanya sebatas kajian dan wacana saja? Kongkritnya bagaimana? Dikembalikan kepada guru? Materi yang tinggal nelen aja susah apalagi wacana. Gosip sih iya…

Bukan mau usil, hanya saja negara ini perlu reformasi pemikiran dari hanya sekedar oportunis alias asal jadi dan kepentingan sesaat menjadi berpikir jauh melampaui ruang dan waktu untuk sebuah investasi dimasa yang akan datang. Negara ini perlu perubahan begitupula dunia pendidikan ini perlu perubahan. Kemudian mau dimana kita memerankan diri kita? Apa kita mau memerankan agen perubahan dan memberi manfaat dalam bentuk investasi pengetahuan kepada generasi berikutnya atau kita berpartisipasi mencari remah oportunis? Hanya Tuhan dan sopir bajaj itu sendiri yang tahu, kapan dan mau kemana bajaj itu belok.

Semoga tulisan ini bisa mempengaruhi banyak orang yang memang selalu terkait dengan dunia seminar menyeminar. Berpikirlah kedepan untuk yang terbaik bagi bangsa ini. Kalau semua berkontribusi kepada perubahan, bukan hal mustahal kalau negara ini akan kembali kepada lajur yang benar. Semoga…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: