Posted by: sopyanmk | 03/07/2012

Siapa yang Takut UN? (guru, kepala sekolah, kepala dinas, walikota, gubernur, atau Mendiknas)


Evaluasi pendidikan adalah sebuah proses utuh untuk melihat sejauh mana program pendidikan itu berjalan. Caranya bisa berbagai cara. Hal yang saat ini menjadi sorotan adalah evaluasi pendidikan yang dinamakan Ujian Nasional (UN). Kontroversi ini bahkan sampai ke ranah hukum dengan melakukan gugatan kepada Kementerian Pendidikan (saat itu) di Mahkamah Konstitusi. Pertanyaannya adalah mengapa guru takut dengan Ujian Nasional? Mengapa guru takut muridnya gagal pada Ujian Nasional?

Pertanyaan-pertanyaan konyol itu sebenarnya bisa dijawab dengan mudah. Lihat saja soal-soal ujian nasional, semua tidak melewati SKL (standar kompetensi lulusan). SKL adalah inti dari materi yang diujikan dari sekian SK/KD yang ada dari kelas awal sampai akhir. Lalu mengapa guru takut anaknya tidak lulus? Materi yang harus dikuasai jelas, setiap minggu guru mengajar, sekian pekan sekali mengadak ulangan harian, ada juga ulangan tengah semester, akhir semester, atau ulangan kenaikan kelas. Lalu mengapa takut UN?

Untuk pembelajaran, bagi anda guru yang takut UN ada beberapa persangkaan yang muncul di benak saya, yaitu:

  1. Guru mengajar hanya mengandalkan buku pelajaran yang dianggap “bonafide”
  2. Guru tidak pernah tahu relevansi SK/KD/RPP/SKL
  3. Guru tidak melayani dan megnenal peserta didik dengan baik
  4. Guru tidak berinteraksi dengan peserta didik sehingga tidak tahu mana yang perlu bantuan dan bimbingan dan mana yang sudah mandiri
  5. Guru di depan kelas tapi hatinya entah dimana

Ingat evaluasi adalah hal yang sangat luas, jangan menyempitkan pemahaman bahwa evaluasi hanya UN. Keputusan UN pasti diambil berdasarkan hasil evaluasi pendidikan. UN juga boleh dihilangkan tetapi sebaiknya berdasarkan evaluasi lagi bukan berdasarkan MK. Karena jika dilakukan pengambilan keputusan dipaksakan di ranah hukum bisa terjadi pergeseran urgensi pendidikan dipahami ke dalam urgensi hukum.

Hal yang membuat saya aneh, kenapa guru takut murid-muridnya dievaluasi dengan menggunakan standar nasional (UN). Padahal sudah maklum kalau Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ada di bawah kewenangan pemerintah pusat. Kalau mau ujian itu dilaksanakan di sekolah, harus ada revisi undang-undang tentang kewenangan pemerintah pusat pada bidang pendidikan.

Lagipula mengapa mempersoalkan KTSP? Jelas di sana dicantumkan ada standar kompetensi dan kompetensi dasar. Yang di tes kan menginduk dari sana plus ada juga SKL. Jangan2 guru ngajar gak jelas… ketika ujian berbeda dengan yang diajarkan, yang disalahkan UN. Kalau itu… guru dong yang salah… mengapa tidak lihat SK/KD dan SKL?

Entahlah…


Responses

  1. UN? Siapa takut? Semoga tidak ada UN Phobia. Ekhemmm…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: