Posted by: sopyanmk | 28/06/2012

MENUJU GENERASI COGNITIVE LEVEL 1 (Refleksi pada Workshop Awal Tahun Pelajaran)


Salah satu jargon Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada era SBY jilid II adalah munculnya jargon “MENUJU GENERASI EMAS”. Setelah berkutat dengan pendidikan karakter, CI-BI, Sekolah inklusi, Sekolah Adiwiyata, Kelas Olahraga, dan Tragedi Hambalang maka pemerintah berusah membangkitkan optimisme para orangtua bahwa pendidikan saat ini ada pada jalur yang benar sehingga bisa di klaim kalau hasil dari pendidikan saat ini menuju generasi emas. Entah mendapatkan landasan teoritis atau riset dari mana Pak Menteri menghasilkan kesimpulan untuk menggulirkan program GENERASI EMASnya. Padahal kondisi di lapangan sepertinya masih jauh panggang daripada api. Entahlah sepertinya Pak Menteri harus belajar terjun langsung kelapangan tanpa harus memakai parasut biar mampu merasakan kepedihan dan realita pendidikan seperti apa adanya tanpa rekayasa laporan para penjilat.
Bagi guru, kata-kata standar kompetensi, kompetensi dasar, dan RPP adalah hal yang sangat familiar. Hal ini akibat dari kehidupan yang selalu terkait satu sama lain. Ketika sedang melakukan proses pembelajaran, melakukan evaluasi, atau pada waktu analisis butir soal ketiga hal tersebut akan terus terkait. Uniknya, pada berbagai kegiatan pada waktu memberikan pelatihan kepada guru, permasalah ini seolah tidak tuntas terbahas walau pada pelaksanaannya setiap orang seolah merasa paling bisa dan sudah paham. Secara formal memang tidak bisa dipungkiri kalau RPP sudah dibuat dan dimiliki oleh setiap sekolah/madrasah. Rasanya tidak ada satu sekolahpun saat ini yang berjalan tanpa ada RPP, tetapi belum tentu RPP itulah yang membuat sekolah itu berjalan. Hal yang paling saya khawatirkan adalah jangan-jangan pendidikan itu berjalan di sekolah tanpa tahu mau diperlakukan seperti apa peserta didiknya.

Sebetulnya pikiran tentang rendahnya pembelajaran yang berkutat di ranah kognitif level rendah (C1). Semakin terlihat jelas kala penulis memberikan workshop tentang pengembangan RPP di satu madrasah yang cukup besar di Bogor. Sejujurnya, hal itu sudah terlihat ketika melihat RPP di tempat lain. Hanya semakin terusik ketika mengawali pelatihan dengan meminta guru menyebutkan visi sekolah. Setelah disebutkan ternyata terasa sekali perbedaannya antara harapan yang tertulis pada visi dan kenyataan pada kegiatan pembelajaran. Kalau lebih ekstrim tentu akan ada pernyataan “sudah di RPP level rendah, pada pembelajarannya bisa jadi tidak dijalankan sama sekali”. Ini kondisi nyata di lapangan, dimana secara sistem ada bidang kurikulum, kepala sekolah, pengawas, dan seterusnya. Menjadi ironi ketika di level bawah masih bergulat dalam pembelajaran level rendah sedang di “MENARA GADING KEMDIKBUD” mengukuhkan jargon “GENERASI EMAS”. Bukankah semakin ironi?

Secara objektif kita harus jujur bahwa pendidikan ini perlu perubahan, bukan saja perubahan signifikan di anggaran tetapi bagaimana pendidikan itu berjalan di ranah high order thinking. Bermula dari sana maka pendidikan akan menjadi agen perubahan untuk menatap Indonesia yang semakin baik. Beberapa langkah yang bisa dijadikan alternatif untuk perubahan, diantaranya:
1. Pelatihan High Order Thinking kepada guru
Mengapa harus kepada guru? Logika sederhananya adalah tidak mungkin guru memberikan pembelajaran jika kapasitas berpikir guru masih sederhana. Ketika guru terbiasa berpikir tingkat tinggi maka dengan sendirinya akan menularkan kepada peserta didik. Ini perlu pembiasaan dan pelatihan yang berkesinambungan. Di lapangan masih banyak guru yang keberatan ketika peserta didik bertanya yang memerlukan jawaban dari hasil berpikir tingkat tinggi dengan berbagai alasan.

2. Menanamkan kepercayaan kepada peserta didik
Mereka adalah mahluk sempurna yang diciptakan Tuhan dengan bekal pengetahuan yang jauh lebih lengkap dan jika dibandingkan dengan gurunya bisa jadi menjadi jauh sekali lebih baik dan lengkap. Logikanya, mereka sudah mulai belajar dari TK sedangkan gurunya belum tentu pernah belajar di TK. Guru-guru belajar dalam keterbatasan informasi yang mengandalkan kepada wawasan guru, sedangkan hari ini televisi, internet, majalah, handphone dan media lainnya yang terus memborbardir wawasan siswa untuk diserap dan akan memperkaya wawasan. Celakanya guru masih bertahan pada prinsip guru adalah mahluk paling tahu, paling mengerti persoalan, dan paling cekatan dalam urusan pembelajaran. Akibatnya peserta didik tersisih dan hanya menerima dogma/doktrin yang penuh keterbatasan dan belum tentu bermanfaat bagi peserta didiknya. Berilah kepercayaan kepada peserta didik untuk menunjukkan potensi dirinya, pengetahuan, dan pengalaman hidupnya yang bisa jadi berguna bagi guru. Ini yang disebut mengajar sambil belajar. Hal ini tentu butuh nyali akan sebuah prinsip bahwa murid pintar tidak akan merendahkan martabat guru. Kembangkan potensinya agar mereka menemukan jatidiri dan martabatnya buat bekal di masa yang akan datang.

3. Semangat perubahan
Sekarang waktunya untuk berubah! Ada dogma yang mengatakan menjadi bagian dari perubahan atau menjadi orang yang dilindas perubahan. Ingatlah, pengetahuan tahun 80-an, 90-an, apalagi 70-an belum tentu relevan pada tahun-tahun sekarang. Ada ketulusan untuk melakukan perubahan, bahwa perubahan itu tidak menyakitkan dan tidak menakutkan. Ada kebanggan yang harus diyakini bahwa dengan perubahan akan ada ratusan, ribuan, bahkan jutaan peserta didik yang akan terkena dampak dari sikap mau berubah menuju Indonesia yang lebih baik.

4. Sinergi
Untuk melakukan perubahan tentu diperlukan sinergi, lalu dengan siapakah guru bersinergi? Guru harus bersinergi dengan kepala sekolah, pengawas, orangtua, dan para pemangku kepentingan. Guru harus memiliki kebebasan untuk bersinergi dengan siapapun demi peningkatan mutu pendidikan. Guru tidak harus dicurigai untuk bersinergi apalagi kalau kepala sekolah memahami ke arah mana sinergi itu dilakukan. Saat ini masih banyak kepala sekolah yang curiga ketika guru melakukan sinergi dan kolaborasi dengan pihak lain terutama yang di luar sistem sekolah. Begitu juga pihak Dinas Pendidikan yang sering paling merasa punya otoritas dan paling penting dalam soal pendidikan di kota/kabupaten dimana mereka berada. Bisa jadi ada benarnya mereka (DISDIK) penting, tetapi apakah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan dan kemajuan pendidikan di kota/kabupaten mereka?

5. Bebas korupsi
Pernyataan ini memang pahit dan menyakitkan, tetapi kita harus jujur kepada nurani kita, apa jadinya pendidikan yang salah satu tujuannya ingin memberikan perubahan ke arah yang lebih baik ternyata dikerangkeng oleh lingkungan dan sistem yang korup. Ketika pendaftaran berlangsung, korupsi sudah dimulai, ketika pembelajaran berlangsung bau-bau korupsi tercium, ketika dana bantuan untuk sekolah maka bantuan itu seringkali tidak utuh, biaya program pelatihan selalu meleset, menjelang ujian nasional semakin memprihatinkan. Kalau mekanisme yang terjadi masih terus berjalan, jangan kaget kalau generasi kedepan selain hanya memiliki kapasitas berpikir yang rendah, bisa jadi ahlak yang muncul pun dari peserta didik adalah perilaku koruptif yang akan semakin merajalela.

Tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan siapapun tetapi sebagai bentuk keprihatinan dan kepedulian kepada semua pihak untuk melakukan perubahan. Semoga tulisan ini membangkitkan nyali para pegiat pendidikan untuk bersinergi membenahi sistem pendidikan nasional yang selama ini tidak maksimal diurus. GENERASI EMAS mari kita lanjutkan dengan langkah nyata, bukan sekedar iming-iming angin sorga dan sulap dari sang maestro. Ini langkah nyata yang memerlukan kerja keras dan ketulusan. Kita mampu jika kita mau mengerjakannya bersama-sama. Semoga masa depan putra-putri kita semakin baik untuk masa depan cemerlang.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: