Posted by: sopyanmk | 15/06/2012

MENUNGGU REINKARNASI KI HAJAR DEWANTARA


ImageMiris memang kalau kita melihat judul yang menjadi tagline dari artikel ini. Sepertinya semua hal yang terkait dengan pendidikan adalah hal yang mustahil untuk dilakukan perubahan. Sepertinya masalah pendidikan di negara tercinta in sudah akut dan mengkhawatirkan. Kalau secara acak bertanya, sepertinya pendidikan yang ideal dan sesuai dengan cita-cita negara yang tercantum pada alinea ke-4 hanyalah sebuah utopia. Betapa tidak, setelah 67 tahun Indonesesia merdeka orientasi atau visi pendidikan Indonesia seperti berjalan ditempat, mandeg seolah tersekap dalam ruang-ruang konsep idealis yang pada akhirnya terjebak dalam kebingungan dan tidak berjalan kemana-mana.

Langkah tidak populer selalu sulit dilakukan walau akan menjadikan perubahan yang signifikan dan mampu menyingkirkan onak-onak benalu yang selalu menggerogoti dan menyedot semua potensi pendidikan menjadi bahan eksploitasi dengan berbagai cara-cara yang secara formal mampu bersembunyi dibalik jubah domba yang bertebaran di Indonesia. Secara objektif kita bisa melihat daftar permasalahan pendidikan yang dari tahun ketahun hampir tidak beranjak dan terjerumus ke dalam lobang yang tidak pernah berubah. Masih lekat dalam pikiran kita beberapa permasalah yang menjadi isu nasional tapi disikapi seolah menjadi kelaziman. Beberapa permasalah itu diantaranya: gedung sekolah yang rusak, penyimpangan bantuan sekolah, penyalahgunaan kekuasaan dengan modus pemerasan oleh atasan atau oknum dinas pendidikan, sarana-prasarana yang tetap minim, BOS yang masih sering terlambat, uang Sertifikasi yang selalu terlambat bahkan tidak diberikan beberapa bulan, kecurangan dalam kelulusan, tidak meratanya penempatan guru, serta masih banyak lagi permasalahan yang terkait dengan kepentingan.

Pada sisi lain kita juga melihat permasalahan peserta didik dari hari kehari semakin memprihatinkan. Kita semakin sering melihat para peserta didik laki-laki berkumpul seusai sekolah demi eksistensi bersama kelompoknya yang mengakibatkan seringnya tawuran. Kenakalan remaja (juvenile deliquency) sering berubah arah menjadi kriminal. Tak berbeda nasibnya dengan para peserta didik perempuan, kini mereka semakin banyak membanjiri pusat perbelanjaan seusai jam pelajaran atau bahkan membolos demi sosialita bersama teman-temannya untuk cuci mata melihat barang-barang yang mewah dan tersebar di berbagai pusat perbelanjaan. Akibatnya kita sering mendengar para gadis-gadis remaja terlibat atau bahkan menjadi korban trafficking.

Meningkatnya beban hidup seolah menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan. Kini permasalahan anak yang kurang mendapat perhatian yang cukup dari orang tua sering berdampak kepada prestasi di sekolah maupun pada waktu berinteraksi dengan teman-temannya di sekolah. Konflik adalah hal yang sudah menjadi kebiasaan dan menjadi simbol popularitas para anak baru gede. Bayangkan betapa tidak menariknya pembelajaran di kelas yang semakin terbatas pada sekat-sekat ruang yang kaku dan jumud sehingga bisa dibayangkan ketika kelulusan (walau diluluskan) betapa gembiranya mereka dengan melakukan selebrasi yang memuakkan. Sekolah seperti penjara! Itu yang sering terdengar oleh masyarakat. Cermin dari ketidakmampuan sistem pendidikan yang adalah semakin menjamurnya lembaga bimbel, home schooling, atau sekolah alam. Ini seolah menjadi bentuk reaksi akan semakin tidak dipercayanya sistem pendidikan yang ada.

Carut marut ini tidak bisa lepas dari kondisi sistemik yang sudah berurat dan berakar, sehingga banyak yang takut untuk melakukan perubahan. Jangankan merubah sistem dimana guru itu bekerja, merubah sikap diri sendiri yang cenderung transaksional pun enggan dilakukan karena zona nyaman yang sedemikian menggoda. Lalu sejatinya pendidikan itu untuk apa?

Ki Hajar Dewantara yang sejauh ini pemikiran-pemikirannya yang sudah direalisasikan di Perguruan Taman Siswa menjadi ironi. Setelah mendapat gelar kepahlawanan, kini dunia pendidikan seolah jauh dari “Bapaknya” pendidikan Indonesia. Cita-cita mulia kini sudah berganti menjadi cita-cita materiil yang sejatinya itu adalah jawaban dari prestasi yang sudah ditunjukkan kepada dunia pendidikan. Jelas ada yang salah dalam sistem ini. Isu remunerasi yang digagas untuk kementerian keuangan, departemen pajak, TNI dan POLRI, lalu menjadi tabu ketika berhadapan dengan guru. Ajaib…

Berlanjut…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: