Posted by: sopyanmk | 27/01/2011

RAPOR NARASI SEBUAH EVALUASI KOMPREHENSIF


Oleh: Sopyan Maolana Kosasih

Pendahuluan
Pada sebuah sistem pendidikan, evaluasi jelas memiliki nilai penting untuk menjadikan acuan perkembangan siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran selama satu periode tertentu. Sistem evaluasi memang memiliki karakteristik unik sesuai dengan kepentingan masing-masing sekolah. Pada sistem evaluasi yang terjadi di Indonesia yang saat antara PAUD dengan SD – SMA terdapat perbedaan yang signifikan. Di PAUD sistem evaluasi masih menggunakan narasi adapun mulai tingkat SD – SMA sistem yang digunakan adalah angka.

Perbedaan sistem ini jelas berpengaruh terhadap pendekatan guru kepada murid-muridnya maupun sikap murid dalam melaksanakan instruksi guru selama mengikuti kegiatan belajar mengajar. Secara jujur kita bisa melihat betapa dinamisnya kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di PAUD. Interaktif, mengedepankan proses, perhatian yang penuh dari guru, serta tumbuh dan berkembangnya kepercayaan diri anak-anak. Anak akan selalu antusias mengikuti pelajaran dan selalu berpartisipasi aktif dalam setiap kesempatan. Hal ini menjadi berlawanan ketika anak masuk ke jenjang sekolah dasar. Dominasi guru serta keterbatasan kreatifitas telah memicu kegiatan monolog dan cenderung otoriter. Belum lagi jumlah murid yang tidak ideal karena biasanya lebih dari 40 siswa untuk satu ruangan. Ini jelas menjadi kendala tersendiri.

Perubahan perlakuan ini jelas menyebabkan perubahan pendekatan dalam pembelajaran. Angka-angka yang muncul seringkali tidak sesuai dengan praktik kegiatan yang berlangsung. Beberapa kasus munculnya angka-angka yang seragam karena guru tidak memiliki data yang cukup untuk memberikan penilaian akhir. Tidak jarang pula guru tidak mengenal murid-muridnya dengan baik satu persatu. Maka guru pun ada yang mengambil jalan pintas dengan menyeragamkan nilai atau terbaliknya pemberian nilai antara yang kemampuannya masih kurang dengan yang kemampuannya tinggi. Sayangnya siswa atau orang tua tidak bisa melakukan klarifikasi terhadap pemberian nilai ini. Kalau orang tua diberikan hak untuk meminta klarifikasi, dapat dipastikan guru-guru yang memberikan nilai akan merasa bertanggung jawab dengan menunjukkan data-data akuratnya setiap saat. Selain itu faktor-faktor lainpun akan menjadi catatan selama siswa berada di lingkungan sekolah.

Pelayanan seperti di atas mutlak harus dirubah secara dramatis demi terciptanya generasi yang lebih baik dan mampu bertanggungjawab atas diri dan lingkungannya. Guru harus dikembalikan peran dan fungsinya untuk mendidikan dan membangun karakter sesuai dengan yang dicita-citakan dalam UU Sisdiknas. Guru harus memberikan pelayanan maksimal kepada siswanya dengan mengamati perkembangan secara lengkap dan utuh. Jelas pekerjaan ini tidak bisa dilakukan secara individual, perlu bersinergi dengan guru lain bahkan dengan berbagai pihak yang ada di lingkungan sekolah maupun dengan orang tua. Jika data-data ini digabungkan maka akan terlihat gambaran-gambaran yang utuh dan menyeluruh serta bisa meminimalkan ketidakakuratan selama proses penilaian berlangsung.

Betapa naifnya sekolah kalau sistem penilaian hanya dilakukan pada saat akhir pembelajaran saja. Adapun proses kegiatan belajar mengajar menjadi terabaikan dikarenakan guru tidak memiliki data bagaimana anak tersebut satu persatu mendapatkan perhatian baik anak yang memiliki kemampuan lebih baik dalam memahami pelajaran maupun mereka yang kesulitan. Padahal, dari proses itulah berbagai pihak akan memahami bagaimana setiap anak berkembang dan berpartisipasi.

Rapor Narasi Sebuah Alternatif
Jika kita kembali mengamati sistem evaluasi yang dilakukan siswa yang belajar di PAUD, maka kita akan tersadar betapa guru itu mengamati setiap perkembangan siswanya dan melaporkan setiap kejadian dalam proses pembelajaran dalam bahasa yang mudah dipahami oleh setiap orangtua atau pihak-pihak yang membutuhkan informasi anak tersebut. Data-data itu tentu sangat valid karena orangtua bisa langsung mengecek apakah putra-putrinya sudah menguasai materi yang diajarkan atau tidak. Hal itu bisa terjadi karena bentuk pelaporannya diberikan dalam bentuk deskripsi.

Mengapa bentuk deskripsi? Karena dengan deskripsi orangtua dapat dengan mudah memahami berbagai pernyataan yang menjelaskan kegiatan-kegiatan yang sudah berlangsung. Bandingkan dengan laporan yang hanya bersifat angka-angka saja. Orangtua hanya memahami dengan sempit apakah anak tersebut bisa mengerjakan ulangan atau tidak. Eksekusi ini jelas membahayakan kejiwaan anak karena mereka dengan sendirinya akan mendapat label dari angka-angka tersebut tanpa mampu menjelaskan kepada orangtuanya betapa ia sudah bekerjakeras selama pelajaran berlangsung. Minimnya penghargaan dalam proses bisa jadi akan melemahkan motivasi anak karena tidak mendapatkan penghargaan yang sewajarnya atas kerja keras yang sudah ia lakukan. Tidak heran bila ini terjadi, karena sering terjadi anak yang rajin hadir di kelas dan belajar keras dengan anak yang sering bolos tapi lebih cerdas akan mendapatkan nilai yang sama bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang rajin dan selalu hadir di kelas. Bukankan ini akan menambah prustasi sebagian anak?

Berikut adalah keuntungan dari menggunakan rapor narasi, diantaranya:
1) Orangtua akan mendapatkan informasi mengenai berbagai kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh siswa dalam satu periode tertentu secara lengkap dan bagaimana proses itu berlangsung;
2) Orangtua akan mendapatkan informasi mengenai kelebihan siswa dalam memahami materi pelajaran atau pada waktu siswa tersebut mengerjakan tugas-tugas yang diberikan;
3) Orangtua akan mendapatkan informasi mengenai kesulitan siswa pada saat mengikuti kegiatan pembelajaran. Pada sesi diskusi hal ini akan menjadi titik penting untuk mencari solusi bagaimana proses sinergi antara kegiatan pembelajaran di rumah dan di sekolah.
Berdasarkan uraian di atas kita bisa melihat betapa bermanfaatnya sistem evaluasi dengan menggunakan narasi.

Program ini terlihat menyulitkan guru atau bisa jadi akan dianggap merepotkan karena harus merubah pola dari sekedar memberikan angka-angka saja menjadi ditambah dengan memberikan deskripsi bagaimana siswa itu mendapatkan nilai tersebut. Namun hal itu bisa diatasi dengan berbagai macam pendekatan. Pendekatan ini bisa ditambah atau dikurangi sesuai dengan kebutuhan dan situasi kondisi di lapangan. Adapun beberapa hal yang harus disiapkan untuk memantau bagaimana seorang siswa mengikuti proses pembelajaran yaitu:
1) Menyiapkan program semester, hal ini dilakukan supaya proses pengamatan dan penilaian menjadi lebih fokus. Keakuratan progam semester akan berdampak kepada program pembelajaran yang akan disampaikan kepada anak. Guru juga akan dengan mudah membuat variasi-variasi serta penyesuaian-penyesuaian dalam model pembelajaran.
2) Catatan harian, catatan ini adalah ujung tombak dalam pembuatan laporan. Guru diharapkan mencatat baik secara garis besar maupun spesifik tergantung dari situasi dan kondisi siswa atau lingkungan pada saat pembelajaran berlangsung.
3) Lembar kerja, keberadaan lembar kerja jelas menjadi penting, karena dengan lembar kerja guru dapat membuktikan bagaimana anak tersebut memahami materi yang disampaikan pada setiap tatap muka.
4) Ulangan Harian, UTS, UAS, PR, Projek Kelas adalah sarana penunjang lain yang tidak kalah pentingnya. Keterkaitan antara satu dengan lainnya jelas akan menjadi patokan bagi guru dan orangtua bagaimana proses belajar anak ini berlangsung.

Jika proses ini dapat direalisasikan, maka setiap siswa akan dapat mempertanggungjawabkan apa yang sudah ia lakukan baik kepada gurunya mapun kepada orangtuanya. Selain itu, siswa dapat melakukan klarifikasi jika apa yang tertulis dalam laporan itu tidak sesuai dengan yang dilaporkan oleh guru dalam rapor narasinya sehingga umpan baliknya dapat dengan mudah dilakukan. Bandingkan dengan pelaporan hanya berdasarkan angka-angka saja, setiap anak seperti divonis dengan angka-angka yang secara objektif ia dapatkan dari hasil ulangan harian, UAS, dan UTS. Faktor-faktor lain sejauh ini masih sekedar pelengkap dan belum mendapatkan penilaian yang layak atas apa yang sudah dilakukan oleh siswa.

Penutup
Isu ini memang bukan isu baru dalam dunia pendidikan, namun jika hal ini dapat direalisasikan di setiap tingkatan. Diharapkan akan menjadikan sebuah perubahan secara sistemik dalam proses kegiatan belajar mengajar. Pendekatan ini pun akan menjadi tantangan kepada guru-guru untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada siswanya sehingga siswa akan menjadi termotivasi untuk berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan yang direncanakan oleh guru. Semoga Indonesia yang lebih baik dapat terwujud.

*) Guru, Mahasiswa PPS UNJ Prodi Teknologi Pendidikan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: