Posted by: sopyanmk | 27/01/2011

Cici Jagoan Renang


Saya bertemu pertamakali dengan anak ini pada saat masih berstatus sebagai guru bantu di sebuah sekolah ternama di daerah Parung pada tahun 2001. Saat itu saya masih dalam tahapan pelatihan dan uji coba. Cici waktu itu masih kelas satu dan kebetulan saya ditempatkan untuk mendampingi guru kelas dan asistennya untuk membiasakan diri dan beradaptasi dengan system belajar yang memang berbeda dari sekolah lainnya. High standard adalah kalimat yang tepat untuk mendeskripsikan sekolah tersebut, walau pada fisiknya saat itu belum memiliki bangunan sendiri dan ngontrak di ruko. Tetapi metodologi dan pendekatan sangat luar biasa.
Pertamakali saya mengenal Cici sebagai anak yang sangat ekspresif, percaya diri, dan memiliki energy yang besar. Ia selalu menjadi jagoan ketika berada di lapangan pada waktu mengikuti pelajaran olahraga atau pada waktu bermain. Salah satu olahraga kegemarannya adalah renang. Kebetulan orangtuanyapun sangat mendukung dengan memberikan les renang bersama kakaknya. Sepintas ia tidak memiliki masalah serius dalam pembelajaran, kesan pertama dari orang yang bertemu dengannya ia akan dilihat sebagai anak yang menyenangkan, ceria, dan mudah bergaul. Itu semua memang begitu adanya. Cici yang menyenangkan.
Namun pada waktu pelajaran berlangsung, baru kita akan melihat bahwa ia sering mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas-tugas yang harus dikerjakan. Hal yang paling terlihat adalah ia memiliki keterbatasan dalam hal kosa kata. Sehingga ketika guru sedang menjelaskan, ia sering interupsi dan menanyakan arti dari kalimat yang diucapkan. Bisa dibayangkan,betapa guru harus menjelaskan pengertian atau maksud dari kalimat tersebut.
Ketika sedang mengerjakan lembar kerja, praktis saya dapat tugas untuk mendampinginya dan memastikan dia mengerjakan tugasnya dengan benar. Bukan harus memberikan jawaban tetapi membantu dia memahami apa yang seharusnya dikerjakan. Hal itu terkait dengan pemahaman bacaan yang diakibatkan oleh keterbatasan kosakatanya. Jelas memerlukan kerja keras dan kesabaran pada waktu mendampinginya.
Hasil tulisan yang ia buat memang sangat sederhana bila dibandingkan dengan teman-temannya. Tulisannya pun masih perlu terus berlatih. Kata psikolog hal itu disebabkan oleh dominannya potensi psikomotor atau motorik kasarnya. Memang tidak aneh karena pada saat kelas dua dia sudah bisa meraih medali emas untuk renang kelompok usia.
Pada tahun ajaran berikutnya saya diterima di sekolah tersebut dan diangkat menjadi guru kelas dua.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: