Posted by: sopyanmk | 03/10/2010

Sang Pencerah yang Mencerahkan Guru di DKI


Hari ini Kamis, 29 September 2010; IGI (Ikatan Guru Indonesia) memulai rangkaian program nonton bareng “Sang Pencerah” di MPX Grande Pasaraya yang dihadiri oleh 500 orang guru. Sebuah awal yang luar biasa karena rencananya program ini akan berlangsung di 10 kota besar di Indonesia. Peserta yang hadir cukup variatif karena ternyata yang datang tidak hanya guru tapi juga ada dosen dan mahasiswa PKn dari Universitas Negeri Jakarta. Kebetulan Jurusan PKn UNJ sedang mengembangkan pula pendidikan karakter yang saat ini sedang menjadi tren di kalangan elit Kemdiknas.

Nonton bareng ini difasilitasi di dua studio yang kapasitasnya masing-masing 250 penonton. Walau sempat di guyur hujan menjelang jam-jam pemutaran ternyata tidak menyurutkan para guru untuk datang berbondong-bondong, walau saya sendiri sempat sedikit linglung karena memang belum pernah main ke Pasaraya Grande.

Studio pertama memulai tontonan pada pukul 15.30 sedangkan tontonan kedua dimulai pukul 16.20. Jadwal ini memang sudah dirancang untuk mengantisipasi peserta yang datang terlambat dan jumlah penonton yang membludak. Saya sendiri nonton di studio 2 pukul 16.20 karena sekalian menunggu teman. Kegiatan awal dimulai dengan sambutan dari Pembuat film yang menjelaskan motivasi pembuatan film ini dengan penuh semangat. Beliaupun menjelaskan akan memberikan subsidi Rp2.500 rupiah dari tiket Rp15.000 untuk siswa-siswi dari guru yang hari ini menonton dengan mengisi lampiran. Sungguh luar biasa, bahkan ia pun bertanya mengenai efektivitas pembelajaran sejarah antara di ruang kelas – bioskop dengan kualitas film yang hebat.

Setelah itu tontonanpun dimulai, diawali dengan seorang anak muda yang berusia 15 tahun yang bernama Darwis. Sebuah anak yang penuh antusias pada waktu belajar agama Islam. Bahkan di usia yang relatif muda ini Darwis muda menunaikan Ibadah Haji. jelas ini bukan perjalanan yang mudah bagi anak usia 15 tahun pada era tahun 1800an. Sebuah perjalanan yang berani ditempuh karena niat dan keinginan untuk memperdalam ilmu agama.

Ada yang menarik ketika ia mengajar, pada waktu muridnya bertama “Hari ini mau belajar ap?”. Ahmad Dahlan (nama yang dirubah setelah kembali dari tanah suci) malah balik bertanya “Kamu mau belajar apa?”. Ia menjelaskan bahwa siswalah yang butuh ilmu bukan gurunya. Sungguh sebuah pendekatan yang mengejutkan di tahun 1800an. Padahal teori itupun hari gini oleh guru-guru hanya dianggap angin lalu.

Pada kisah lain Ahmad Dahlan mengisahkan metode pembelajaran dengan menggunakan Contextual Teaching. Ia dengan cepat menjelaskan masalah “kentut” pada saat anak-anak tidak menjawab salamnya. Pendidikan yang membebaskan adalah ide besarnya. Bebas dari kemiskinan, bebas dari kebiasaan-kebiasaan yang buruk namun sudah mentradisi adalah motivasi langkah-langkahnya. Ia berani menunjukkan konsistensinya pada saat shalat karena ia menganggap arah shalat salah. Kalau guru bisa seperti itu, mungkin sekolah akan maju atau para guru akan mendapat sanksi sosial.

Masih banyak pengalaman-pengalaman menonton tadi, sungguh inspirasional dan menyentuh.
Semoga program 10 kotanya bisa direalisasikan sehingga resensi film dari berbagai sisi akan melengkapi keutuhan cerita yang luar biasa ini.

Salam,


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: