Posted by: sopyanmk | 29/06/2010

Bandung, The Center of Asia and Afrika (The forgotten history)


(Catatan perjalanan ke Museum KAA 22 Juni 2010)

Jawaharlal Nehru begitu memuji Bandung dalam perjalanan sejarah dunia dengan mengatakan bahwa Bandung adalah pusat dari Benua Asia dan Afrika. Pujian ini bukan hanya basa basi, namun pujian ini datang dan terlontar atas suksesnya sebuah agenda internasional yang menghasilkan sebuah pernyataan sikap dari negara-negara yang selama ini terpinggirkan, terhinakan, dan ternistakan oleh penjajah. International Statement itu bernama “Dasasila Bandung” yang mampu menggetarkan dunia dan menginspirasi negara-negara terjajah untuk memerdekakan dirinya dan sejajar dengan semua bangsa. Coba kita baca pernyataan-pernyataan itu:

Dasasila Bandung

1. Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas-asas yang termuat didalam piagam
PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa).
2. Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa.
3. Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa, besar maupun kecil.
4. Tidak melakukan campur tangan atau intervensi dalam soalan-soalan dalam negeri negara lain.
5. Menghormati hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri sendiri secara sendirian mahupun secara
kolektif, yang sesuai dengan Piagam PBB.
6. (a) Tidak menggunakan peraturan-peraturan dan pertahanan kolektif untuk bertindak bagi
kepentingan khusus dari salah satu negara-negara besar,
(b) Tidak melakukan campur tangan terhadap negara lain.
7. Tidak melakukan tindakan ataupun ancaman agresi mahupun penggunaan kekerasan terhadap
integritas teritorial atau kemerdekaan politik suatu negara.
8. Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan cara damai, seperti perundingan,
persetujuan, arbitrasi, atau penyelesaian masalah hukum , ataupun lain-lain cara damai, menurut
pilihan pihak-pihak yang bersangkutan, yang sesuai dengan Piagam PBB.
9. Memajukan kepentingan bersama dan kerjasama.
10. Menghormati hukum dan kewajiban–kewajiban internasional

Ada banyak hikmah dari terselenggaranya Konferensi Asia-Afrika, salah satunya adalah kemampuan dari anak bangsa yang selama ini terjajah ternyata mampu berbuat sesuatu yang bahkan melampaui batas-batas wilayah. Pada saat negara-negara maju mengajarkan cara hidup damai, bangsa Asia-Afrika telah memulainya jauh-jauh hari. Pada saat ini bangsa-bangsa Eropa sibuk menjelaskan persamaan derajat, bangsa Asia-Afrika sudah melakukannya lebih dulu.

Sayang, kebanggaan itu hampir memudar dan banyak orang-orang yang datang ke Museum pun tak lebih dari sekedar keliling, baca-bici, photo-photo tanpa mampu mengapresiasi dengan ketulusan sebagai anak bangsa yang menginginkan kebaikan lebih setelah Indonesia merdeka 65 tahun.

Kini, anak bangsa semakin kehilangan arah bahkan kecintaannya terhadap negara semakin menyedihkan. Bagaimana tidak, disekeliling mereka tidak lagi terlihat simbol-simbol nasionalisme seperti:
1. kejujuran
2. kerja keras
3. harga diri
4. kerja keras
5. pantang menyerah
dan lain-lain.

Sebaliknya, kini kita bisa melihat dengan kasat mata:
1. korupsi
2. kolusi
3. nepotisme
4. pencabulan
5. kekerasan
semakin hari semakin merajalela….

Semakin menyedihkan, karena harkat martabat negara ikut tergadaikan seiring tergadainya kekayaan alam Indonesia.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: