Posted by: sopyanmk | 26/04/2010

Catatan Kecil dari Workshop Mendidik Tanpa Teriakan


Workshop ini diselenggarakan oleh IGI bekerjasama dengan CETS dan di sponsori oleh Telkom Flexy dan bertempat di STO Medan merdeka Barat. Sebuah ruangan yang nyaman, audio yang canggih dan peserta yang antusias. Narasumbernya Mas Agung sunggung luar biasa dalam mengkondisikan peserta untuk terlibat aktif dan melebur dalam kegiatan workshop.

Menjadi unik ketika peserta diminta berpasangan lalu salah satu dari mereka diminta untuk mengepalkan tangan dan yang satunya diminta untuk membukanya. Maka adu tanganpun berlangsung, yang satu maksa dan yang satunya lagi nahan…
Setelah dibahas oleh Mas Agung, “Lihat, alternatif untuk membuka tangan pasangannya hanya dengan paksaan, tidak ada yang membujuk, atau mengeluarkan uang untuk membukanya”. Spontan saja semua peserta gerrrrrrrrrr dan jadi malu hati…

Narasumber juga meminta para peserta untuk menuliskan setiap kelompok 12 nilai dari seorang guru. Hasilnya sungguh mengagumkan. Wacana tentang nilai-nilai menjadi seorang guru tereksplorasi dengan baik. Hmmmm sepertinya memang harus terus diingatkan akan nilai-nilai dari sebuah profesi yang bernama guru. Jangan-jangan, sudah semakin banyak orang-orang yang sudah lupa betapa guru itu memiliki nilai-nilai yang luar biasa dan harus ditebarkan kepada anak didiknya. Bayangkan jika guru yang mengajar tidak memiliki nilai-nilai itu? Apa kata dunia?????????

Mas Agung pun tidak lupa menunjukkan falsafah pendidikan Indonesia:
Ing Ngarso Sung Tolodho
Ing Mado mangun Karso
Tut Wuri Handayani

Satu lagi yang sering dilupakan guru-guru. Ngomongin contoh? entahlah…. apa benar atau tidak, tapi trend tidak disiplin, jangan-jangan akibat sebuah cerminan dari falsafah satu. Cari pelampiasan diluar sekolah, nyontek, tawuran, akibat dari terlupakannya falsafah kedua. Lihat saja semakin berjubelnya bimbel di Indonesia. Jangan-jangan mereka merasa tidak mendapatkan falasafah ketiga. Apa benar ya?

Pertanyaan selanjutnya adalah apa itu disiplin?
Pertanyaan yang mudah dikeluarkan tapi sulit untuk dijelaskan dan mencari titik temu dari pikiran semua peserta. Baru nyadar rasanya, kita sering ngomongin sesuatu yang tanpa makna. Teriak disiplin namun kadang-kadang kita tidak memaknai kata tanpa paham apa yang seharusnya dilakukan.

Mas Agung menjelaskan ada 5 posisi kontrol yang sering digunakan dalam mendidik anak, murid, atau bawahan, yaitu:

1. Posisi Penghukum
Lazim sekali kita menemukan guru yang menerapkan posisi ini. Siapapun murid yang datang terlambat, hhhmmmmmmm hukum! Siapapun yang tidak mengerjakan PR, hukum…. dan seterusnya…. (masih kah?)

2. Posisi Pembuat Rasa bersalah
Biasanya guru sering ngomong pelan, datar, tapi nyelekit…. dan seolah siswa harus bertanggungjawab atas pelanggaran ini karena akan berdampak besar pada pihak lain. Siswa akan dipojokkan pada posisi bersalah dengan ceramah bla bla bla…… berjam-jam… ada alasan kali ya gak nyiapin bahan ajar hahaha.

3. Posisi Teman
Ini sering kejadian di sekolah standar internasional, di sekolah swasta, atau guru muda. Di sekolah standar internasional dan swasta biasanya guru ingin mendekat kepada siswa supaya dia aman di sekolah tidak mendapatkan komplain (pengalaman ya? ah enggak juga…. ) tipe ini rada-rada carmuk apalagi kalau ortunya tajir. Haaaaaaahhhhhhhhhhhhhhh. Pura-puranya CARE tapi yaitu dia, tidak menyelesaikan akar masalahnya….

4. Posisi Pemantau
Posisi yang lebih baik daripada tiga di atas. Peran ini dilakukan oleh guru berdasarkan konsekuensi yang sudah disepakati. Kamu melakukan ini, kamu dapat ini. Ia tidak menghukum karena reaktif tapi menghukum berdasarkan kesepakatan yang sudah disepakati. Posisi guru hanya menegakkan aturan.

5. Posisi Manager
Guru tidak memvonis, tidak menyalahkan tapi melakukan dialog dan memberikan ruang kepada siswa untuk menemukan kesalahannya dan memberikan kesempatan kepadanya untuk memperbaiki kesalahan yang sudah ia lakukan. Tentu berdasarkan kesepakatan dan nilai-nilai aturan yang sudah ditetapkan.

Sisanya sudah ketahuan…
Acara ini menjadi ajang curhat guru-guru mengenai permasalahan yang ada.

Hampir lupa, Mas Agung ngajak guru-guru nge-RAP….
wah… ibu-ibu semangat sekali…..

Oh iya, di sana aku juga ketemu Mas Aji dari Al-Kautsar Sukabumi…. Reuni Malang deh.

Salam Cerdas!!!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: