Posted by: sopyanmk | 20/01/2010

Aku ingin berubah, Pak!


Saya punya seorang murid yang bisa jadi menurut orang-orang ia adalah anak yang dahsyat. Segala macam keisengan sudah pernah ia lakukan dan menjadi pelanggan tetap guru BK (Bimbingan dan Konseling). Pada setiap kasus, namanya pasti disebut. Namanya hampir bisa dipastikan menjadi headline di ruang guru.

Suatu hari saya dikejutkan oleh pesan di wall fesbuk oleh kata-kata yang sederhana. “Saya ingin berubah, Pak! Tolong saya.” Jujur saya terkesima mengingat betapa tulus dan tingginya pengharapan itu kepada saya. Adrenalin saya terus memuncak dan memikirkan langkah apa yang harus dilakukan. Selain itu muncul pula anomali-anomali pikiran, seperti: bagaimana kalau saya tidak bisa memuaskan dahaga untuk berubah? bagaimana kalau saya tidak sabar? Bagaimana kalau saya? bagaimana kalau saya? Bagaimana kalau say?..

Kecamuk ini cukup membuat panas dingin otak saya. Saya hanya ingin melakukan sesuatu dan ingin melakukan perubahan walau kecil bagi diri muridku.
Saat ini yang ada dipikiranku ada beberapa hal:
1. Bertemu dan ngobrol setiap hari.
2. Memberikan kegiatan positif apalagi udah kelas 9
3. Membantu solusi belajar?
4. Aku butuh ide….
__________________________________________
Berikut adalah komentar-komentar dari para sahabat:

  1. Ary Gunawan Subhanallah akhirnya momentum itu datang juga. 1 sd 3 langkah kecil berenergi luar biasa…semoga istiqomah.amin….
  2. Lisda Fauziah Harahap pada dasarnya manusia punya 3 kebutuhan, kebutuhan jasadi (makan-minum, istirahat,olahraga), kebutuhan fikri (berfikir, wawasan, ide-ide), dan keburuhan ruhi (perasaan-seni, hubungan dengan Allah, disayangi). Dicukupkan dan dseimbangkan saja, Pak
  3. Dewi Anggraini didukung banget..mdh2n berhasil…dia pasti akan terkenang sepajang hidupnya..hebat…inspiring teacher..!
  4. Wahyu Budhi Hanggono amanah besar, saya rasa memang diajak ngobrol dulu aja, mengetahui latar belakang, alasan2 melakukan keisengan dan semacamnya, gak yg berat2 dulu, secara perlahan dikasih kegiatan, gutlak
  5. Wow pak, artinya murid bapak percaya dan hormat banget sama bapak. Saya gak kenal anaknya, jadi gak tahu persis apa kebutuhannya, dia inginnya berubah seperti apa? yang pasti, support bapak sesederhana apapun pasti akan membantunya. Maaf gak bisa kasih nasihat yang memadai, saya percaya bapak pasti lebih kenal anaknya dan kebutuhannya.
    Salam saya untuk murid bapak,
    Puti
  6. sebuah ungkapan tulus dari seorang anak manusia. anak terebut sepertinya dalam lubuk sanubarinya telah menyadari bahwa apa yang selama ini telah dia lakukan adalah kurang tepat. dan dia ingin berubah. namun dia tidak tahu harus berbuat apa agar bisa berubah. mungkin saat ini dia belum menemukan tempat bergantung yang tepat. dan kini dia telah menemukannya yaitu kepada bpk Sopyan dia mengharap suatu pencerahan untuk mewujudkan perubahan yang dia idam-idamkan.
    saran :
    1. tanpa sepengetahuan siapapun, bpk hampiri dan buat perjanjian untuk bertemu di suatu tempat.
    2. ciptakan suasana yang indah dalam pertemuan tersebut antara bpk dan anak…
    3. pancing dan biarlah dia bercerita sesukanya tentang apapun hingga dia melakukan hal-hal yang kurang tepat…
    4. pancing juga agar dia bercerita apa yang ingin dia harapkan dari permohonan yang telah ia sampaikan kepada bpk…
    5. pancing juga agar dia mengungkapkan apa-apa yang hendak dilakukan agar perubahan dapat terjadi pada dirinya sendiri tanpa bpk doktrin…harus begini…harus begitu… jangan begini… jangan begitu… dan seterusnya..
    6. biarlah dia mengekspresikan dirinya di hadapan bpk apa-apa yang akan dia lakukan untuk perbaikan dirinya sendiri…
    7. usahakan bpk tidak memihak kepadanya disaat dia menyalahkan atau mendiskriditkan seseorang sehingga dia bertingkah seperti saat ini…dan justru berilah pennjelasan yang membangun agar dia bisa menghormati orang yang telah diapersalahkan…
    8. tegur dan sapa setiap kali berjumpa…
    9. tanyakan keberadaannya…kabarnya dan apapun untuk membangkitkan gaerah hidupnya…
    10. Bangun Imannya.
    salam
    Mas Ba
  7. Assalamu’alaikum Wr Wb……..
    Salam kenal mas Sopyan,Cerita anda mengingatkan pengalaman yang saya hadapi dengan siswa saya beberapa tahun yang lalu. Saya cuma ada sedikit saran…….. Anda hadapi dengan kelembutan hati seorang bapak,anda ajak dia bicara dengan kebeningan hati dan Terakhir sisipkan namanya dalam sholat malam yang bapak lakukan. Semoga dia menjadi seperti yang dia impikan……
    Salam saya untuk siswa bapak.
    Wassalam.
    Tugi Hartono
  8. Ini adalah kesempatan ynag luar biasa buat seorang guru, inilah tantangannya akan lbh berari apabila seorang guur bisa membenarkan 1 anak yang bermasalah daripada meluluskan 100 anak juara. Saya sangat hargai itu. Menurut saya yang bisa coba dilakukan oleh bapak adalah :
    1. berempati pada anak itu dan pujilah dia atas keberanian dalam mengambil keputusan untuk berubah.
    2. Posisikan bahwa bapak adalah temannya , bukan sebagai guru yang mengajarinya .
    3.Ajak dia temukan bakatnya sehingga dia bisaberubah ke arah yang membuat dia suka serta bahagia.
    4. Ajak guru guru lain untuk menghargai niat anak itu, supaya anak itu mendapat support yang positif.
    semoga bermanfaat ..teruslah menajadi guru yangluar biasa
    salam
    melly kiong
  9. Ketika Sang Guru Ditagih🙂
    Apa yang disampaikan siswa Pak Sofyan, menurut saya adalah fajar cerah pendidikan Indonesia. Saya bermimpi seandainya ini adalah fenomena “puncak gunung es”. Apa yang disampaikan siswa tersebut menurut pendapat saya adalah “tagihan” kepada guru. Apa jadinya siswa yang setiap hari, yang “katanya” sekolah tapi tidak mendapatkan atau merasakan perubahan ? (Perubahan yang saya maksud tentu perubahan yang lebih baik). Munculnya satu kesadaran “berubah” inilah yang “mestinya” diusahakan oleh setiap guru, hingga setiap saat siswa akan “penasaran” dengan perubahan yang ditawarkan oleh para guru. Bukankah perubahan itu misterius dan mendebarkan ?

    Seorang siswa yang mengharapkan perubahan bisa jadi akan menjadi seorang yang besar nantinya. Semoga para guru tidak “keberatan” mencetak dan mendidik para calon orang-orang besar ini😉 Ada beberapa pertanyaan yang tiba-tiba menyeruak dari benak saya, relakah kita, guru, jikalau siswa kita lebih pintar dari diri kita ? Seberapa besar “keridhaan” kita pada siswa yang “cepat paham” dan pandai berdiskusi ? Seberapa kuat kita melayani anak-anak kita untuk berdiskusi ? Seberapa sabar kita mengajak mereka “berubah” ?
    Ketika Sang Guru ditagih, bagaimana perasaan beliau ini ? Gembira atau “menghindar” ?

    Ruh pendidikan (dan pengajaran) menurut saya adalah perubahan ke arah yang lebih baik yang dibangun dari interaksi siswa, guru, orang tua, dan masyarakat, dalam balutan ilmu yang jujur dan bertanggung jawab. Belajar adalah proses perubahan. Bagaimana mungkin ilmu tidak berubah (baca : berkembang ?).
    Akhlaq, kemandirian, cara/pola berpikir, … yang mana yang ingin berubah ?

    Demikian sekilas pendapat saya. Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan. Mohon selalu bimbingan, saran, dan nasehatnya.
    Kepada Pak Sofyan, terima kasih sekali telah berbagi “perasaan” kepada kita. Semoga milis ini bisa menjadi ajang curhat yang mencerahkan, insya Alloh.

    Salam “perubahan”
    PakPur

    NB : Alhamdulillah, pas OL, pas ketemu topik asyik🙂

  10. Lisda Fauziah Harahap subhanallah ..saya ikut belajar ya.

Responses

  1. Subhanallah. Selalu ada pembelajaran dalam setiap peristiwa. IQRA’..
    Salam semangat…!!
    Mampir Pak jk ad wkt

  2. Terimakasih Mbak..
    Insya Allah mampir


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: