Posted by: sopyanmk | 05/09/2009

Buka Bareng Bersama Mas Agi Rahmat


Kemarin, Jumat 4 September 2009 akhirnya acara yang dirancang selama seminggu bersama Ibu Lisda akhirnya terlaksana dengan baik. Pengalaman seru terutama pada waktu diperjalanan menuju rumah Ibu Lisda. Saya (numpang mobil Mas Agi) mengikuti petunjuk Pak Awang seorang guru yang mengajar disekolah Ibu Lisda serasa lama untuk sampai ke lokasi. Namun disepanjang jalan itu membuat imajinasi saya terbang entah kemana bahkan saya sulit membayangkan suatu daerah yang benar-benar luar biasa. Sepanjang jalan yang hijau dan teduh serta suasana yang alami membuat otak kanan dan adrenalin terus mengalir. Hanya ada satu pertanyaan yang menggelitik kami, mengapa di tanah yang sedemikian subur dan rindang aliran air di sungai dan danau terlihat mengering? Padahal sebelumnya, kami melewati jalan yang menuju ke daerah yang berada di wilayah binaan Cifor terlihat hutan yang begitu lestari.

Setelah sampai di lokasi, yang pertama kali terlihat adalah antusiasme dan optimisme para guru yang mengajar mulai dari TK – SMP. Ibu dan Bapak guru yang sangat percaya diri. Melihat bangunan SMP yang terlihat masih baru, dengan peralatan yang sederhana tidak mengubah cara memandang saya terhadap kebesaran sekolah yang dipimpin oleh Ibu Lisda. Mungkin orang bilang “AURA” ketulusan dan motivasi maju itulah yang membuat SMPIT Nurul Fajar bagi saya sangat luar biasa.

Acara dilakukan dengan sederhana, setelah dilakukan pembukaan… saya kebagian bercerita mengenai pengalaman saya menjadi guru. Wah kadang-kadang Ibu Lisda suka berlebihan kalau memuji, padahal bisa pergi ke luar negri mungkin biasa-biasa saja. Saya sampai lupa diri untuk berhenti kalau saja tidak ingat di belakang saya ada Mas Agi yang siap berbagi ilmunya. Pokoknya, ada sebagian cerita hidup saya di sana yang semoga bisa memotivasi teman-teman yang hadir. Tapi, saya juga sadar bahwa setiap cerita itu bisa dilalui oleh siapapun.

Selanjutnya Mas Agi menjelaskan tentang perubahan, ia menjelaskan bahwa di dunia ini ada 3 hal yang tidak pernah berubah, yaitu:
1. Perubahan,
Pada tahap ini Mas Agi bercerita tentang rumus matematika:
a) (-) x (-) = (+)
b) (+) x (+) = (+)
c) (-) x (+) = (-)
d) (+) x (-) = (-)
Sebuah prinsip dasar matematika yang semua orang ingat dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari ketika melakukan perhitungan, namun orang-orang sering lupa bagaimana rumusan itu diaplikasikan dalam kehidupan sosial, ritual, dan kenegaraan.
Mas Agi bercerita bahwa (-) x (-) = (+) mengandung arti bahwa jika suatu keburukan jika kita sampaikan sebagai suatu keburukan maka itu akan menjadi kebaikan. Jadi mengatakan sesuatu yang munkar atau jahat dengan sebutan perbuatan itu munkar dan jahat akan menjadikan kebaikan. Karena setiap orang dipastikan akan tahu bahwa tidakan itu adalah kejahatan atau keburukan. Begitupun rumusan (+) x (+) = (+) mengandung arti bahwa kebaikan jika dikatakan sebagai suatu kebaikan maka itu akan menghasilkan kebaikan. Kita harus berani bahwa setiap kebaikan adalah kebaikan supaya semua orang tahu bahwa hal tersebut adalah kebaikan.

(-) x (+) = (-) diterjemahkan Mas Agi menjadi seperti paradoks padahal tidak sama sekali. Maksudnya adalah jika keburukan dikatakan sebagai sebuah kebaikan maka itu akan menjadi keburukan. Begitupun (+) x (-) = (-) dimaknai bahwa jika kebaikan dikatakan sebagai keburukan maka dapat dipastikan akan menghasilkan keburukan. Rasanya semua peserta mafhum akan hal ini. Dimana saat ini seringkali kita menemui sebuah fenomena di masyarakat kebaikan dianggap sebuah keburukan dan kemunduran dari sebuah peradaban moderen atau sebaliknya betapa masivnya saat ini promosi keburukan sehingga sepertinya lambat laun keburukan itu menjadi eksis dan menjadi sebuah kebaikan yang semakin banyak diikuti oleh kaum-kaum yang lemah imannya.

2. Prinsip
Mas Agi menyebutkan prinsip sebagai sunatullah, karena menurutnya prinsip-prinsip itu nyata dan tidak bisa ditolak oleh siapapun. Contoh: matahari terbit pagi hari dan terbenam sore hari, benda akan jatuh ke bumi jika dilemparkan ke atas, dan masih banyak contoh yang berkaitan dengan prinsip. Mas Agi menjelaskan bahwa jika yang disampaikan itu tidak memenuhi kaidah sunatullah maka itu bukan prinsip. Pada titik ini Mas Agi menjelaskan, bahwa kita harus menjadikan prinsip-prinsip dalam kehidupan itu harus mengacu pada sunatullah. Saya jadi berfikir bahwa mungkin saya sering mengaku bahwa saya memiliki prinsip A, padahal kalau kita mau jujur prinsip itu jelas tidak sesuai dengan kaidah sunatullah. Panjang sekali Mas Agi bercerita di sisi ini. Mas Agi berpendapat bahwa dari kaidah-kaidah itu ada nilai besar yang seharunya menjadi acuan, yaitu:
a) Kejujuran
b) Keterbukaan
c) Transparan
d) Kepastian/tepat waktu

Beliau memberikan gambaran mengenai prinsip ini, bahwa ada 3 faktor yang menjadi kunci kesusksesan seseorang jika mengikuti prinsip-prinsip atau sunatullah. Ada tiga orang yang dianggap berhasil sebagai seorang atlit, yaitu: Muhammad Ali, Michael Jordan, dan Tiger Wood. Salah satu nilai yang ditunjukkan adalah mengenai tepat waktu. Dalam sejarah mencatat bahwa Muhammad Ali sejak usia 16 tahun meyakini bahwa dirinya akan menjadi juara dunia begitupun pelatihnya meyakini hal tersebut. Menurut pelatihnya, Muhammad Ali itu sangat istimewa, dari sejak mulai berlatih sampai ia menjadi juara dunia ia selalu datang tepat waktu dan konsisten dengan jadwal latihannya. Bahkan sehari setelah kemenangannya dalam pertandingan, ia akan tetap datang untuk berlatih tanpa harus merasakan mabuk kemenangan.

Salah satu kunci sukes lain adalah konsistensi dan menabung. Menurut Mas Agi, hal yang bisa dijadikan alat ukur keberhasilan seseorang adalah konsistensi yang ia tempuh untuk mencapai cita-cita atau suatu keahlian. Merujuk pada sebuah riset yang mengatakan bahwa keberhasilan seseorang akan tercapai jika sudah menempuh masa latihan 10.000 jam. Dalam konversi waktu, jika latihan itu dilakukan selama llima jam dalam sehari, artinya kurang lebih seseorang itu akan berlatih selama 8 tahun. Jadi betapa bisa dibayangkan bagaimana para atlit dari Cina atau negara lain yang bisa mengukir prestasi di usia muda, ternyata di negaranya memang sudah mempersiapkan para atlit sejak mereka muda. Akibatnya ketahanan prestasi mereka pun cukup lama. Di Indonesia? Kita perlu berlatih dahulu dari sekarang untuk mencapai angka 10.000 jam.

3. Pilihan
Semua orang punya jutaan pilihan, namun dari jutaan atau milyaran pilihan kita sudah menetapkan pilihan. Bahkan yang tidak mau memilih atau tidak mau mengambil pilihan adalah sebuah pilihan dalam kehidupannya. Kita yang menjadi diri kita saat ini (ada yang menjadi guru, direktur, dokter, polisi, atlit, atau apapun) adalah sebuah pilihan dari sebuah proses panjang atau kecelakaan pilihan. Kita bisa menentukan kapan pun dimanapun akan pilihan-pilihan itu. Apakah kita akan konsisten dengan pilihan kita saat ini, atau kita akan mengubah sebagian kecil dari pilihan kita saat ini, atau mau secara ekstrim kita memilih hal baru dalam kehidupan kita.

Ada tiga fondasi untuk melakukan perubahan
1. Motive/paradigma
2. Kebiasaan
3. Karakter

Ketika berada dalam pilihan, kita akan dihadapkan pada tahapan panjang untuk berubah. Karena ternyata orang hanya mau berubah di tataran kebiasaan. Padahal kebiasaan-kebiasaan itu kalau tidak dilandasi oleh perubahan motif atau paradigma, maka perubahan itu menjadi sebuah angan-angan belaka. Untuk menjadi berubah, sudah saatnya kita memulai perubahan dengan mengenal paradigma kita saat ini. Setelah itu baru kita menentukan mau seperti apa kedepan.
Sepertinya cerita-cerita di atas tidak ada habisnya, sayang waktu Maghrib sudah tiba dan paparan dari Mas Agi pun ditutup. Semoga apa yang saya tulis saat ini bisa memotivasi kita untuk selalu berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya. Setelah shalat Maghrib, hidangan Nasi hangat dan sayur asam serta pedamping lainnya sungguh nikmat sekali. Jadi ingat firman Allah, nikmat apalagi yang mau saya dustakan dari semua ini.


Responses

  1. mantab kang. eh ya, kapan punya waktu ke jakarta. ada perlu dikit nih kang. ada revisi akta tinggal 3 pasal dan mohon sign. aku tunggu ya kabar baiknya. thanks

    mantab!! buka puasanya..jadi iri ketemu mas agi “gundul” lagi nih..

    habe

  2. Lho… masih belum selesai toh? kapan dong ketemuannya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: