Posted by: sopyanmk | 15/07/2009

BELAJARLAH PADA SUMPAH AMUKTI PALAPA


*) Sopyan Maolana Kosasih

Setelah menyaksikan debat Capres yang semula diprediksikan akan alot dan saling gempur dengan adu program yang sudah disiapkan oleh para pakar tim Capres. Ternyata, debat dibelakang panggung dianggap lebih menarik buat para Capres daripada ketika berhadapan di sebuah panggung formal yang digelar oleh KPU. Saya sendiri sudah meminta kepada para murid untuk menonton acara debat presiden dan memberikan komentar terhdap jalnnya diskusi tersebut. Secara pribadi, saya sangat menghargai strategi yang diterapkan oleh para Capres, namun kalau melihat keseragaman mereka dalam memberikan jawaban jelas menunjukkan bahwa konsep-konsep perubahan atau inovasi pelayanan serta program kerja untuk kesejahteraan rakyat ternyata tidak berbeda. Artinya rakyat yang memilih belum tentu mendapatkan harapan-harapan yang selama ini diimpikan dan digembar-gemborkan dalam iklan dan kampanye.

Melihat ini semua saya jadi teringat ketika diskusi dengan teman saya dan tiba-tiba tercetus sebuah wacana tentang bagaimana para penguasa pada zaman dulu yang menunjukkan itikad, komitmen, dan program yang terukur. Salah satu tokoh yang muncul dari diskusi selanjutnya adalah Mahapatih Gajah Mada yang dikenal kedahsyatan programnya untuk menyatukan nusantara. Setelah ia menyelesaikan programnya, ia pun bersumpah yang dikenal dengan Amukti Palapa.

Hal yang menarik dari diskusi saya adalah, karena sejauh ini kami tidak menyadari akan informasi tersebut yang seolah-olah kita melihat Gajah Mada melakukan sumpah dengan tiba-tiba dan akhirnya menang. Sungguh kisah ini menjadi kurang bermakna bagi kita yang hidup saat ini dengan penjelaasan sejarah yang seadanya. Ini harus menjadi pekerjaan rumah bagi siapapun yang bertanggung jawab dan peduli terhadap kejayaan bangsa ini. Saya ingin menyampaikan bahwa kejayaan masa lalu bukanlah semata-mata timbul dengan keajaiban dengan tonggkat sihir yang hanya dengan sekali tepuk maka semua hal yang dicita-citakan dapat diwujudkan. Dari diskusi tadi kita semua yakin bahwa sebelum Gajah Mada mengemukakan sumpahnya, ia sudah terlebih dahulu melakukan kajian mendalam dengan diskusi dan perdebatan alot mengenai kemungkinan-kemungkinan untuk menaklukan dan menyatukan nusantara. Kami juga yakin bahwa programitu dibuat dengan melibatkan banyak pihak. Intelejen, ahli perang, ahli tata negara, perbekalan, pakar senjata, politikus, dan semua pihak yang memang dibutuhkan untuk mengadakan sebuah gerakan besar.

Diskusi pun semakin seru dan betapa perjalanan mental dan hati kita ketika berdiskusi menumbuhkan sebuah dimensi lain atas keberhasilan sang maestro Gajah Mada. Setelah perencanaan program matang, sang Mahapatih pun dipastikan melakukan presentasi kepada Maharaja Hayam Wuruk atas segala program penyatuan nusantara. Setelah lobby-lobby itu disetujui maka sang Mahapatih pun bersumpah untuk mewujudkan program itu. Bunyi sumpah yang kalau dibandingkan dengan program-program yang dibuat oleh para pakar saat ini jelas sangat sederhana sekali. Bahwa ia punya program untuk menyatukan nusantara dan ia berkomitmen tidak akan memakan buah palapa sebelum semua programnya tercapai. Dari apa yang ia sampaikan dalam sumpahnya, kita bisa melihat bahwa Gajah Mada tidak bermaksud menyiksa diri dengan tidak memakan buah palapa karena apa yang ia sampaikan adalah peneguhan hati dan sebagai bukti optimisme akan keberhasilan sebuah program.

Kita pun sebenarnya bisa melihat dari kisah-kisah pewayangan yang pada umumnya sering menuturkan kisah kepahlawanan yang ingin menggapai kesaktian dengan melakukan tapa brata. Ia tidak melakukan apapun sampai kesaktian yang ia inginkan tercapai.

Sekali lagi saya pastikan bahwa semua harapan dan keinginan itu bukan semata-mata khayalan belaka karena apa yang ingin ia capai itu bukan sebuah keniscayaan. Jadi, baik sumpah ataupun tapa brata adalah sebuah media atau proses yang harus dilalui untuk memastikan segala sesuatunya bisa dicapai.
Saat ini, berkaca kepada kampanye pilpres atau pilleg sepertinya hampir bisa dipastikan bahwa semua program-program yang disampaikan hampir sulit untuk direalisasikan. Semua program yang disampaikan rata-rata bersipat top down dan seperti mengingatkan saya pada rezim-rezim sebelumnya. Sebelum era reformasi dimana kondisi masyarakat masih belum terbuka seperti sekarang. Bisa dimungkinkan kalau program-program instruksional dapat diterima karena wawasan masyarakat belum memahami alternatif lain. Bahkan semuanya sudah terbukti kalau program dibuat berdasarkan kehendak penguasa hasilnya sering menjadi mubazir dan hanya sekedar asal jadi dan berjalan. Setelah program selesai maka bisa dipastikan semuanya hilang tak berbekas.

Untuk menyusun sebuah program diperlukan sebuah interaksi antar programer dengan masyarakat karena kita tahu bagaimana sebuah program bisa dipahami jika satu sama lain tidak saling mengenal dan berkomunikasi untuk menyampaikan keinginan masing-masing. Kini sudah saatnya segala sesuatu yang dibuat dengan cara lama harus dirubah. Sebagai masyarakatpun kita wajib terus mengkritisi dan memastikan bahwa semua program itu harus dibutuhkan dan sesuai dengan situasi dan kondisi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: