Posted by: sopyanmk | 18/06/2009

Tetap Berjuang Para Pejuang! (Surat untuk Para Ksatria Indonesia)


Oleh: Sopyan Maolana Kosasih *)

Semenjak tragedi yang terus menerus terjadi di dunia militer Indonesia berupa gugurnya para pahlawan yang sedang melaksanakan tugas negara, saya terus mengamati dan mencermati semua komentar-komentar yang muncul di mass media. Dari mulai ucapan bela sungkawa, dukungan, kritikan, bahkan hujatan dan cercaan berseliweran silih berganti. Riuh rendahnya kampanye PILPRES seolah menjadikan setiap momen kejadian terutama yang berimplikasi negatif. Secara pribadi, saya merasa bangga bahwa sejauh ini minat para generasi muda untuk mengabdikan dirinya sedemikian tinggi dan tetap tinggi sampai saat ini. Mereka tidak tetap konsisten mengabdi dan menjalankan tugas dan tanggung jawabnya walau ditengah gelombang proses reformasi dan kritikan setelah hampir 32 tahun berada dalam bayang-bayang Dwifungsi ABRI.

Sejujurnya, sebagai orang awam dalam militer saya tidak mengerti mengenai mekanisme alutista dan semua anggaran-anggaran serta tetek bengek lain yang memang sudah menjadi standar dalam sebuah sistem militer. Namun, secara pribadi saya merasa bahwa keberadaan sebuah sistem militer di sebuah negara adalah sebuah keharusan dan menjadi salah satu kebesaran sebuah negara. Lihatlah Amerika, China, Rusia, serta beberapa negara lain yang memiliki kekuatan militer besar begitu disegani oleh negara-negara lain. Bahkan Iran dan Korea yang memiliki pengembangan nuklir telah membuat banyak negara menjadi ketar-ketir ketakutan, padahal mereka memiliki instalasi senjata nuklir yang luar biasa banyak. Tren pendekatan militer saat ini berhasil ditunjukkan oleh Korea Utara yang mengancam memperbanyak rudal berhulu ledak nuklir jika diembargo oleh DK PBB.

Berdasarkan kenyataan ini, saya memandang perlu kalau bangsa kita memiliki para ksatria yang mumpuni bukan hanya dari kesamaptaan fisik belaka namun ditunjang pula oleh peralatan penunjang yang bisa meningkatkan performa para TNI menjadi kekuatan berlipat ganda. Setiap tahun menjelang Ujian Akhir Nasional para calon lulusan SMA dan sederajat yang memang sudah bermimpi untuk mengabdikan jiwa raganya menjadi benteng pertahanan dan pelindung keamanan bangsa melalui institusi TNI selalu dipenuhi oleh antrian. Ketulusan mereka untuk berada di garis depan harus kita acungkan jempol. Karena keamanan dan kenyamanan yang kebanyakan orang sipil rasakan salah satunya adalah berkat peran saudara-saudara kita di TNI-Polri.

Ketulusan mereka dalam mengemban tugas memang luar biasa, banyak diantara mereka yang harus bertugas di pulau terpencil, atau diperbatasan wilayah yang jauh dari akes ke manapun tapi mereka bersedia komiten untuk menjaga setiap jengkal wilayah NKRI dari serangan negara asing. Doktrin-doktrin nasionalisme yang kuat selain menjadi motivasi para prajurit untuk berkreasi dalam pelayanan, doktrin itu pun menjadikan pengikat erat terhadap komitmen kepada kesatuan dan tanah air. Mungkin kita juga tidak bisa menutup mata kalau ada beberapa oknum yang menyalahgunakan kekuasaan dan pengaruh militernya, namun sekian banyak para ksatria tetap berpegang teguh memegang komimen menjadi ksatria pinilih bangsa besar Indonesia.

Seiring runtuhnya rezim Orde Baru di Indonesia, maka peran militerpun diharuskan berubah menyesuaikan diri. Terlebih lagi amandemen UUD 1945 yang dengan signifikan merubah beberapa mekanisme yang selama ini dianggap tidak sesuai dengan cita-cita luhur proklamasi. Tentara kembali ke barak. Itu adalah slogan yang sering didengungkan setelah hampir 32 tahun berada dalam berbagai lingkar hidup dan kehidupan bernegara dalam berbagai strata kehidupan. Perubahan ini jelas bukan perkara yang mudah karena dengan sendirinya akan ada peran-peran yang selama ini dipegang militer telah beralih ke sipil. Sekali lagi, itu bukan perkara yang mudah buat para petinggi militer untuk menerima ini semua. Bahkan tidak jarang para purnawirawan sering menyoal amandemen dan mengajak kembali ke UUD 1945. Sekali lagi, para militer aktif dengan penuh tanggung jawab tetap berkomitmen menjadi ksatria dan menjadi penjaga keutuhan bangsa.

Harapan Kedepan

Kini, ditengah anggaran yang minim serta sorotan dari berbagai pihak terhadap dunia militer. Saya berharap para ksatria tetap menjunjung tinggi Sapta Marga dan sejarah bahwa prajurit berasa dari masyarakat dan tetap harus menjaga harkat dan martabat rakyat Indonesia dengan menjaga keutuhan bangsa ini dari Ancaman, Tantangan, Hambatan, dan Gangguan (ATHG) baik dari dalam maupun dari luar. Bangsa kita adalah bangsa yang dianugerahi berjuta kekayaan alam yang tidak terhingga. Kekayaan yang berada di daratan, hutan, sungai, gunung, serta lautan memang menggoda banyak pihak yang tidak bertanggung jawab untuk mengeruk kekayaan alam dan memperkaya diri sendiri atau kelompoknya. Sehingga keberadaan para ksatria inilah yang akan memastikan semuanya berada dalam kendali pemerintah yang harus digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Godaan suap dan kesenangan akan menjadi intrik yang luar biasa. Sepintas, tidak ada seorangpun yang dirugikan dan semua dilakukan sama senang. Namun, dalam jangka panjang perilaku itu akan menghancurkan tata ekonomi kerakyatan (ekonomi Pancasila) yang diamanatkan dan menjadi cita-cita luhur dalam UUD 1945. Untuk itu jauhilah para ksatria! Ada kebanggaan yang tidak ternilai ketika para ksatria mampu menunjukkan integritasnya sebagai seorang figur tauladan di negeri ini. Gerakan moral kejujuran dan sikap ksatria yang ditunjukkan oleh para militer akan menjadi gelombang besar kejujuran dan tanggung jawab sebagai seorang warganegara di tengah krisis identitas dan krisis harga diri yang terus terjadi.

Semasa kecil, saya sering mendengarkan para dalang berkisah tentang para ksatria-ksatria yang selalu berlawanan. Ada ksatria jahat dan ada ksatria yang baik dengan akhir cerita selalu dimenangkan oleh para ksatria baik. Cerita ini jelas sudah semakin sulit ditemukan dan hadir dalam penanaman nilai-nilai yang berbasis budaya. Kini cerita-cerita kepahlawanan telah berubah, tokohnya, musuhnya, serta teknologinya semakin berkembang, tetapi inti dari cerita para ksatria tetaplah ksatria. Tidak lekang oleh panah dan hujan. Ksatria selalu maju membela kebenaran dan memperjuangkan bangsa ini dengan tulus.

Kini, ditengah issu peralatan tua yang dimiliki militer Indonesia. Saya beraharap para ksatria tetap menjunjung tinggi motivasi untuk terus memberikan yang terbaik. Saya pun bangga dengan langkah-langkah negara yang berjanji akan memperbaiki sistem alutsista. Semoga pada masa penantian ini para ksatria terus berlatih dan sabar, karena dengan terus memperbaiki kemampuan diri maka akan muncul nilai-nilai luhur dalam diri kita. Pada kisah pewayangan sering dikisahkan, setelah para ksatria kalah dalam pertempuran mereka tidak menjadi patah arang. Para ksatria sering dikisahkan berguru atau melakukan tapabrata untuk memperbaiki dan meningkatkan segala kemampuannya. Jadi tidak ada salahnya ditengah bencana yang melanda dunia militer Indonesia, para ksatria melakukan tapabrata dan melakukan refleksi mendalam untuk menemukan kesejatian diri menjadi insan paripurna.

Semoga para ksatria tetap bertahan dan bangga menjadi ksatria pinilih yang menjadi kebanggaan Indonesia. Maju terus pantang mundur! Gugur dalam tugas adalah kebanggaan dan kehormatan! Tidak ada satupun pengorbanan yang sia-sia dimata Tuhan dan mari berbuat yang terbaik! Tuhan bersama orang-orang yang membela kebenaran dan keadilan. Amin.

Salam Sapta Marga!

*) Penulis adalah Guru PKn SMP Negeri 3 Bogor

http://www.sopyanmk.wordpress.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: