Posted by: sopyanmk | 24/05/2009

Kebangkitan Nasional: Sebuah Jargon Atau Harapan Hampa?


101 tahun lalu sudah berlalu sejak para pejuang mengumumkan kepada dunia akan harapan dan cita-citanya untuk keluar dari belenggu penjajahan dan menjadi tuan rumah yang bisa mengelola dan mesejahterakan anggota rumahtanggnya dengan sebaik-baiknya. Gelombang dukungan dan kesepahaman dalam menggerakan rakyat untuk bangkitpun semakin meluas dan ke berbagai pelosok daerah. Sungguh sebuah gerakan yang menakjubkan ditengah berbagai himpitan ancaman keselamatan dan ketiadaan fasilitas yang dimiliki namun sangat efektif.

Seharusnya para analis dan sejarawan hendaknya menengok atas keberhasilan para pemuda 101 tahun lalu itu bagaimana mereka bisa berproses dan berani melakukan sebuah gerakan nyata yang diharapkan dan diimpikan oleh masyarakat. Dalam pengamatan saya, langkah populis itu adalah program yang nyata dan bisa dirasakan oleh semua lapisan dan menjadi kebutuhan dasar manusia Indonesia saat itu.

Sebuah gerakan yang harus ditiru oleh para pemimpin bangsa serta para generasi muda yang mulai menata dan mencari jati dirinya dalam peran pembangunan nasional. Saat ini dikala gema menjelang perebutan kursi RI 1 ide-ide segar walau bukan ide baru mulai bermunculan. Ekonomi kerakyatan, kesejahteraan sosial, pemerataan, serta pemerintahan yang bersih terus bergaung memberikan angin surga. Namun tidak ada seorangpun yang bisa memastikan realisasi dari janji-janji itu apakah bisa terwujud tanpa syarat apapun atau membiarkan rakyat terus menunggu dan berharap bahkan menjadikan rakyat hidup dalam apatisme akibat dari tercederanya hati dan kehidupan mereka.

Bangsa Indonesia Bangsa yang Unggul

Sering kali kita mendengar atau membaca yang menjelaskan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang unggul dan hebat dibandingkan dengan bangsa lain. Pada satu titik bisa jadi pernyataan di atas benar. Semua manusia di dunia yang sudah mengenal Indonesia pasti akan sepakat bahwa kekayaan alam yang ada di Indonesia ini sungguh luar biasa. Hampir semua kebutuhan dasar manusia atau bahan-bahan industri bertebaran hampir di semua kawasan nusantara. Bahkan Indonesia termasuk dalam dua puluh negara kaya (G 20). Pada kondisi resesi sekarang, Amerika dengan terang-terangan menyebut India, China, dan Indonesia ke dalam salah satu negara yang diharapkan menopang pemulihan krisis di dunia. Sungguh sebuah kepercayaan besar sakaligus ironi bagi rakyat miskin yang jumlah puluhan juta terus menerus terkungkung dalam lingkaran setan ketidakberdayaan.

Keberadaan minyak yang katanya memiliki cadangan yang cukup banyak, namun ternyata tidak mampu dikelola oleh para insinyur dan para ahli perminyakan secara mandiri dan mencukupi kebutuhan bangsa ini. Gas alam yang terus bermunculan di berbagai daerah tidak bisa dikelola dan dimanfaatkan oleh BP Migas untuk menekan sulitnya distribusi dan pengambilan keuntungan yang besar oleh para pedagang BBM yang saat ini harganya terus meroket. Padahal, dengan investasi yang secukupnya bisa dipastikan ketersediaan BBG untuk kebutuhan masyarakat dalam memasak (saja) bisa diatasi dan diselesaikan secara lokal. Namun itu semua kembali kepada keinginan para pemegang kekuasaan dan para cerdik cendekia yang memiliki kapasitas dan kemampuan untuk merealisasikannya. Sebagai contoh kecil saya akan menyebutkan kota Bogor. Di Kota Bogor saat ini memiliki instalasi gas yang sudah tersambung ke rumah-rumah. Sayangnya instalasi itu tidak menyebar dan dijadikan program  masal supaya masyarakat di Kota Bogor bisa menikmat gas murah. Inilah yang disebut investi yang bisa jadi tidak akan mendapatkan keuntungan besar secara ekonomi bagi pengusaha atau negara namun jelas akan mensejahterakan rakyat dan secara jangka panjang akan menguntungkan negara.

Itu baru satu aspek saja, bayangkan kalau semua aspek kekayaan nasional di Indonesia bisa diwujudkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat maka masyarakat tidak perlu menunggu lama untuk merasakan kenikmatan kemerdekaan dan kebanggan sebagai bangsa Indonesia yang peduli pada kesejahteraan rakyat.

Ketika kebutuhan dasar rakyat sudah bisa dipenuhi, dengan sendirinya ekonomi rakyat akan bergerak sesui dengan naluri manusia untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan batinnya. Sesuai dengan tahapan kebutuhan manusia, ketika kebutuhan primer sudah bisa diatasi maka ia akan melanjutkan terhadap pemenuhan kebutuhan sekunder. Bahkan bukan sesuatu yang tidak mungkin kalau pada akhirnya mereka akan mengarah pada kebutuhan tersier secara global bukan hanya sebagian warga negara saja yang berhak menikmati anugrah besar dari Tuhan berupa kekayaan alam di Indonesia. Sekali lagi investasi pemerintah terhadap rakyat, investasi berupa kebanggaan para pemegang kekuasaan yang memang hanya dibatasi pada dua periode saja. Mungkin mereka tidak akan merasakan keuntungan finansial dari masa jabatannya namun semua orang akan mengenang bahwa ada seorang pemimpin lokal atau nasional yang melakukan investasi masa depan demi kesejahteraan rakyatnya.

Siapa yang Harus Memimpin Kebangkitan Nasional?

Pertanyaan yang muncul ditengah euforia ini adalah, siapakah yang seharusnya memimpin gerakan ini? Semua orang pasti dengan spontan akan menunjuk kepada para eksekutif serta setiap orang yang memiliki amanah dalam bentuk jabatan publik. Merekalah yang seharusnya maju kedepan dan memberikan contoh kepada bawahan dan rakyatnya. Bayangkan ketika semua orang bergerak bersamaan menuju ke arah yang lebih baik. Kita tidak lagi perlu menunggu waktu untuk menikmati kemerdekaan yang telah direbut dan dipertahankan dengan darah dan penderitaan pejuang.

Kisruhnya bangsa ini dengan segala permasalahan yang muncul dari mulai kemiskinan, penggusuran, kekerasan, serta beragam pelanggaran yang dilakukan oleh masyarakat sebenarnya lebih mengarah kepada bentuk perlawanan kepada kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat. Lihatlah dijalanan, para pengendara motor dan mobil dengan seenaknya melanggar aturan. Kalau dilihat secara psikologis, bisa jadi mereka itu melakukan perlawanan atas maraknya pungli di jalanan. Kenapa rakyat enggan membayar pajak? Karena selama ini penggunaan uang rakyat lebih banyak mengalir kepada keuntungan segelintir orang bahkan tidak jarang uang pajak menguap tak tentu rimba. Mengapa rakyat lebih senang melakukan destruktif? Karena mereka tahu bahwa keadilan tidak pernah ditegakkan sebagaimana mestinya.

Urutan-urutan yang akan bertambah panjang itu harus diurai secepatnya. Salah satu faktor yang harus dikedepankan adalah Miskinnya figur kepemimpinan. Semakin banyaknya petualang politik dari mulai legislatif maupun eksekutif dan yudikatif semakin menegaskan bahwa di tiga ranah itu tersimpan peluang uang yang bisa dikatakan hampir tidak terbatas. Dimana kekuasaan bisa dijalankan dengan sewenang-wenang. Jadi tidak salah kalau kecurangan dalam seleksi pegawai atau dalam pilkada atau pemilu menjadi sesuatu yang lumrah di nusantara.

Pemimpin dalam pengertian sederhana adalah orang yang memimpin. Rakyat atau yang dipimpin akan selalu menunggu dan melihat apa yang akan dilakukan oleh seorang pemimpin. Pergerakan rakyat dimanapun akan selalu sejalan dengan kebijakan dan perilaku para pemimpin. Ketika pemimpin berjalan di depan dengan orientasi mensejahterakan masyarakat yang dipimpinnya, maka rakyat akan berbondong-bondong melakukan program-program yang dirancang pemerintah untuk kesejahteraanya. Begitupun sebaliknya, kerusuhan yang muncul di masyarakat sedikit banyak sering diakibatkan oleh ketidak adilan para penguasa.

Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke 101 ini saya berharap kepada semua pihak untuk berperan sesuai dengan posisi, tugas, dan tanggung jawabnya masing-masing. Berbuatlah yang terbaik untuk menunjukkan kepada dunia betapa hebatnya kita semua jika berbaris dalam sebuah barisan yang terorganisir dan terencana sesuai dengan kebijakan-kebijakan yang sudah disepakati. Bila semua bertanggung jawab untuk menjalankan perannya dan tidak hanya mencari keuntungan sesaat dapat dipastikan rakyat pun akan berbondong-bondong berkarya. Tugas membangun bangsa bukan hanya tugas para penguasa namun diperlukan partisipasi dari rakyat dalam peran-peran keistimewaan dirinya masing-masing.

Kita pasti bisa!

*) Guru PKn di Bogor

http:sopyanmk.wordpress.com


Responses

  1. Tulisan yang menggugah, Kang Sopyan! Kalau saja Anda bisa memasukkan ide-ide ini ke paling tidak 10 orang siswa Anda setiap tahun sehingga mereka benar-benar meyakininya maka Anda telah melakukan perubahan tersebut!
    Never stop inspiring, because you are a teacher (a very good one).
    Salam
    Satria

  2. Terimakasih Pak Satria,
    Insya Allah dalam setiap pertemua, dalam setiap kesempatan saya berinteraksi dengan anak-anak yang terus saya lakukan adalah bagaimana mereka menjadi warga negara yang memiliki idealisme besar untuk membangun bangsa ini menjadi besar. Kita bisa melakukannya dan mereka akan menjadi orang yang berada di garis depan di masa yang akan datang. Saat ini saya sedang merancang pengajaran PKn yang terintegrasi dan moderen. Tahap awal saya akan mengadakan seminar di UNJ. Seminar itu akan berkelanjutan menjadi workshop yang memandu mereka kedalam tataran implementasi dan metode terkini.

    Mohon dukungannya. Bila ada kesempatan saya mengundang Bapak untuk datang di Seminar Internasional di UNJ tanggal 6 Juni 2009. Mungkin setelah itu Bapak bisa memberikan masukan kepada saya dan teman saya untuk pengembangan tahap selanjutnya.

    Salam,
    Sopyan

  3. Saya baca di tulisan Pak Sopyan yang mana ya tentang pentahapan perbaikan : dari individu, keluarga, masyarakat, bangsa lalu ummat manusia?

    Nah, barisan yang teroganisir dan terencana itu mestinya memang demikianlah pembentukannya.

    Selamat ya!

  4. Terima kasih atas masukannya…
    nanti say abuat tulisannya.
    Thanks for the inspiration and ideas…😉


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: