Posted by: sopyanmk | 17/05/2009

Salam Guru; Dimanakah kita berada?


Oleh Agi Rahmat.

Dahulu kala, orang mencari makan dengan berburu, dan menyimpannya di goa-goa. Hari ini kita menyebutnya era pemburu dan pengumpul. Seorang pemburu yang sukses adalah pemburu yang paling banyak membawa buruan, atau paling besar buruannya. Maka, “guru” yang sukses di era itu adalah guru yang bisa mengajarkan para “murid”nya berburu. Berburu paling lincah, paling tangkas, mulai dari mengenali jejak, menggunakan penciuman yang tajam, lalu mendisain dan membuat senjata-senjata ampuh dengan racun paling mematikan, sekaligus membunuh binatang terganas sekalipun, mungkin dalam hitungan detik. Murid-murid juara-nya-pun adalah murid-murid yang berbadan tegap, lari bak kijang, pandai berkelahi, dan mungkin bertampang paling seram. Sambil pulang berburu, para pemburu biasanya juga akan mencari “sangu” teman santapan buruan, yaitu berupa kentang, atau umbi-umbian, atau buah-buahan di jalan menuju pulang.

Hingga suatu suatu hari kita melihat, ada seorang guru yang justru mengajarkan para muridnya untuk hanya berburu 3 hari saja dalam seminggu. Sisa-nya mereka mengais-ngais tanah, dan menyiram-nyiram. Para pemburu ini bertanya-tanya, ada apa gerangan? Kami bekerja keras berburu setiap hari, sementara ada sejumlah orang justru hanya pergi ke tanah-tanah kosong sekeliling, mematok-matok, mengorek-ngorek, dan menyiram-nyiram dari pagi hingga sore. Bila sudah selesai, barulah 3 hari sisanya mereka pakai untuk berburu sekedar cukup untuk makan sehari-hari.

“Ki sanak apa yang sedang Anda lakukan?” tanya salah satu pemburu.

“Saya sedang becocok tanam” jawab salah satu dari penyiram tersebut.

“Apa yang kau harapkan dari bercocok tanam. Hanya mengorek-ngorek, menyiram-nyiram sepanjang hari?”

“Kami bercocok tanam agar kentang, umbi, padi dan buah yang kita butuhkan, bisa dibudidayakan, dan kita bisa mendapatkan hasil lebih banyak daripada yang kita cari di hutan”

“Ah omong kosong”

Hingga 4 minggu, para pemburu melihat tanaman mulai tumbuh, 8 minggu berbunga, dan melihat mereka merawatnya dengan telaten, bangun lebih pagi dan merawat tanaman-tanaman ini. Hingga tibalah masa panen biasanya menjelang 12 minggu. Kentang, umbi , padi dan buah, berlimpah. Berton-ton, berlebih. 50 kali lipat lebih dari “penghasilan” para pemburu.

Maka tersebutlah, “guru” yang hebat pada masa itu adalah para guru yang mampu mengajarkan cara memilih tanah yang subur, memilih bibit, menghindari dari hama, membuat pupuk alam, mengajarkan kesabaran, mengajak bicara tanaman dan seterusnya. Dan bukan hanya tanaman yang bisa dibudidayakan, hewan-pun sudah bisa dijinakkan dan dibudidayakan. Lebih banyak dari yang dihasilkan dari berburu.

Era berganti. Inilah era pertanian [dan peternakan]. Para guru “pemburu” 90% musnah, dianggap tidak sesuai dengan jaman. Kuno, dan tersingkir. Guru yang sukses pada era ini adalah guru yang mengajarkan kesabaran, keselarasan dengan alam, bercocok tanam, membudidayakan dan mengembangbiakan hewan. Dan murid-murid di era ini yang dianggap sukses adalah murid-murid yang mampu menghasilkan tanaman paling banyak dari luas lahan, atau paling cepat membiakkan ternak, paling sehat, paling bergizi. Sehingga mulai penguasaan tanah menjadi tren. Era kolonialisasi dimulai, tuan tanah menjadi “raja.”

Hasil berlimpah ternyata tidak selalu membawa berkah. Kentang berlimpah tak termakan dan banyak membusuk, begitu juga tomat, anggur, apel—Ingat lomba menginjak tomat di Spanyol? Atau, menginjak anggur di Perancis? Atau, kita melihat apel-apel yang dibiarkan jatuh menjadi sampah di perkebunan-perkebunan di Australia? Atau, buah pala yang hanya diambil bijinya di Ternate, daging buah Pala dibuang, karena dianggap tak berharga? Kesemuanya adalah peninggalan jaman bercocok tanam dan budidaya ternak. Ternak sapi berlebih hingga muncul tradisi matador muncul, rodeo dan seterusnya, termasuk sabung ayam.

Hingga suatu hari, munculah pemikiran bagaimana caranya agar kentang, tomat, apel, padi, dan makanan-makanan kita bisa diawetkan selama mungkin. Bagaimana daging, ikan bisa awet? Dari sanalah era baru muncul, era industri kita menyebutnya. Kentang tidak hanya ditanam, tetapi juga diawetkan, diatur distribusinya, diatur logistiknya, diatur kebutuhannya. Petani yang panen, para “industrialis” yang diuntungkan. Mengapa? Para “industrialis” membeli kentang ketika panen, mengawetkannya, di jual lebih mahal dengan cara membungkusnya mengemasnya dan memperbanyaknya dengan apa yang disebut dengan mesin dan teknologi, menjualnya sepanjang musim, tak kenal musim. Mereka mengatur harga, Melambungkan harga ketika sedang paceklik, dan menghancurkan harga ketika panen.

Dari sini pula, mesin-mesin ikut berbicara. Asap-asap, pencemaran, buruh, pekerja, pemodal, pemilik perusahaan, mulai diperkenalkan. Era inilah juga kemudian dikenal dengan Era kapitalis. Pemilik-pemiliki “uang” besarlah yang diuntungkan. Yang memiliki modal, mesin, metode, dan buruh-lah yang kemudian menjadi “pemenang kehidupan” di era ini.Mereka menjadi penguasa, mempunyai pengaruh besar dalam berbagai sisi kehidupan.

Para era ini “guru-guru yang sukses” adalah guru-guru yang mampu mengajarkan hitung-hitungan, mulai dari ilmu ekonomi, matematika, keuangan, dan segala hal yang berkaitan dengan membawa keuntungan yang paling cepat, paling besar. Guru-guru yang mengajarkan ilmu-ilmu kreatifitas berbasis industri. Dan seterusnya. Dan para murid yang sukses adalah para murid yang paling cepat mengumpulkan kekayaan, mengumpulkan asset, mengumpulkan modal, mengajarkan “scarcity”— kata lain dari ketamakan dan keserakahan—yang menguasai lebih dahulu adalah yang menang. Ilmu pandai memutarkan kata, dan menjadikan semua hal menjadi komoditi, sampailah kita di era “saham, bursa komoditi”—buah yang belum tumbuh-pun bisa diperjual belikan. Kita menyebut-nya dengan pre-marketing—menjual “gambar dan lokasi”—meskipun apartemen atau rumahnya belum jadi.

Bagaimana dengan profesi guru? Profesi menjadi “dikotak-kotak-an”, dibuat spesialisasi, diberi label, jurusan, mata pelajaran. Fokus katanya. Tak bisa dihindari akhirnya guru menjadi kelompok “marjinal”—menjadi pekerja, kalau tidak mau dibilang “buruh”—menjadi komoditi.

Guru kehilangan “jati diri.” Kehilangan makna. Berharap gaji, dari para pemilik modal, menjadi “buruh” untuk “industry pendidikan” dan bermental scarcity, terkotal-kotak.

Hari ini, khusus di Indonesia, kita sedang memasuki satu “era baru”—era informasi dan pengetahuan [information and knowledge; dan izinkan saya menggunakan kata-kata “knowledge” ketimbang “pengetahuan”].

Apa itu knowledge? Mari kita contohkan saja. Kalau kita membeli secangkir kopi di warung kopi di pinggir jalan kira-kira berapa harganya. Saya kira semahal-mahalnya Rp 2.000 saja. Untuk kopi yang sama, dikemas, disajikan dengan senyum pelayan yang cantik, atau yang gagah, di tempat ber AC, dan beri nama Kopi Starbuck, secangkir kopi itu bisa seharga Rp 35.000. Ada 17.5 kali lipat dibandingkan dengan harga di pinggir jalan. Apa yang membedakan? Orang menyebutnya, Customer Service, Brand, Marketing—yang kesemuanya kita rangkum dalam satu kata bernama “knowledge”.

Kita menjual pasir kwarsa di pulau-pulau terdekat dengan Singapore, dalam kuantitas, kilo, kapal. Ada sebuah perusahaan teknologi Komputer bernama Intel, menjual pasir kwarsa dalam kualitas “butiran”—karena pasir kwarsa inilah yang menjadi bahan dasar microchip. Apa yang membedakan cara kita menjual pasir dengan Intel—orang mungkin menyebutnya teknologi, riset dan seterusnya—yang pada dasarnya kesemuanya itu dibedakan oleh satu kata, Intel menjual dengan menggunakan “knowledge”

Apa dan bagaimana dengan Guru? Sekali lagi, hari ini kita perlu melakukan “kontekstualitas” peran guru. Makna “guru” yang begitu dalam, yang diambil dari bahasa Sanskrit, “guru” diambil dari dua kata ”gu” yang berarti “kegelapan,” dan “ru” yang berarti “pencerahan atau terang”—Maka makna terdalam “guru” adalah seseorang yang mampu membawa, yang mampu menunjukan dari jalan kegelapan, kebodohan, ke arah terang, pencerahan. Adalah pemaknaan dalam dan kuat sehingga bisa menjelaskan dengan sendirinya. Guru, orang yang digugu dan ditiru hanyalah salah satu dari tugas membawa orang dari kegelapan menuju pencerahan, yang tidak bisa dan tidak perlu dibahas.

Yang menjadi tantangan adalah; apa yang harus dilakukan seorang guru di era informasi dan pengetahuan ini, sebelum akhirnya guru hanya menjadi “penonton”? [Bersambung]


Responses

  1. Wonderful story of teacher! Saya sangat menikmatinya. Saya tidak sabar menunggu sambungannya.
    Salam
    Satria

  2. Harus menunggu Mas Agi menulis lagi Pak Satria hehehe

  3. berarti guru yg baik adalah guru yg mengajarkan kpd muridnya suatu proses atau sistem.

    bgtu bukan,.?maaf saya otak saya agak lemot nie,.,.

    gmn menurut pa agi nie ttg UN.,?

    saya pribadi gak setuju ttg sistem UN ini.,.

    salam kenal,.,.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: