Posted by: sopyanmk | 01/05/2009

Tragedi Kegagalan Pendidikan Politik Di Indonesia


Hingar bingar pemilu di Indonesia sudah berlalu. Episode saat ini yang paling hangat adalah langkah para kontestan pemilu yang secara hasil survey quick count dan hasil sementara penghitungan yang dihasilkan di KPU adalah menggugat keabsahan kinerja KPU dan ujungnya menuntut tanggung jawab pemerintah akan hal ini. Penulis dalam hal ini tidak bermaksud mengkritisi para politisi yang sudah jelas memiliki kepentingan dan target. Hal yang ingin penulis kritisi adalah meledaknya korban pemilu di berbagai kalangan yang sudah menggagas dirinya untuk menjadi calon legislatif dari beragam parpol.

Kajian ini menjadi menarik ketika media massa secara agresif memberitakan para caleg yang stress, stroke, bahkan bunuh diri menjadi hiasan yang terus menerus muncul. Pengusiran warga sampai pengambilan kembali sumbangan yang sudah diberikan akibat dari penerima sumbangan yang tidak memilih dirinya. Sungguh ironis, seharusnya Panwaslu atau Bawaslu dengan segera melaporkan kasus terjadinya money politic. Ini sangat kasat mata, namun entah dimana panwaslu ataupun bawaslu. Kita harus berkaca, ternyata jabatan publik itu begitu menggoda iman banyak orang. Entah apa yang menjadi motivasi mereka. Jabatan, komisi dari setiap perda/UU, uang suap, atau proyek-proyek yang nilainya menggiurkan. Semoga dari sekian hal di atas masih ada pejuang-pejuang yang mempunyai niat untuk membela rakyat. Syukur-syukur kalau setelah menjabat benar-benar membela rakyat.

Sampai waktu yang sudah ditetapkan oleh KPU pada agenda pemilu, ternyata KPU tidak bisa memenuhi waktu yang sudah ditetapkan yaitu penyelesaian penghitungan. Tarik ulur, penggelembungan suara, sampai akal-akalan caleg untuk mengulur waktu seolah tanpa malu terus dilakukan. Polisi dan Panwaslu? Seperti tidak mendapat peran apa-apa.

Dengan menjamurnya parpol yang mendaftar untuk mengikuti pemilu dengan sendirinya membuka keran pengurus di berbagai daerah yang memang menjadi syarat sebuah partai politik. Untuk mewujudkan itu semua hampir dapat dipastikan hanya sedikit saja orang yang memiliki kualifikasi yang memadai dan memahami betul dunia politik. Sisanya? Jangan ditanya, mereka yang bersedia jadi relawan partai politik adalah banyak yang memang sekedar ingin berjudi mengadu nasib dan berharap dapat keajaiban menjadi wakil rakyat. Padahal, para caleg yang ada tidak mengerti hak dan tanggung jawabnya jika kelak terpilih menjadi wakil rakyat baik di daerah maupun pusat. Rendahnya pengetahuan ini tidak lepas dari pendidikan politik di Indonesia yang sejauh ini belum mengakar dan menjadi bagian dari pola pengembangan karakter dan warga negara yang melek hukum, politik, dan menjadi warga negara yang baik.

Perjalanan masa lalu dalam menanamkan pendidikan politik dari tingkat mulai pendidikan dasar sampai sekolah menengah hampir bisa dikatakan mustahil. Kita masih ingat bagaimana pelajaran yang relevan lebih diarahkan pada nilai-nilai dan pengulangan materi dengan pengembangan yang minimal. Metode doktrin dengan pendekatan kepada kepentingan penguasa telah membuat pendidikan kebangsaan menjadi mata pelajaran yang tidak menarik dan menjadikan siswa menjelma menjadi generasi Asal Bapak Senang (ABS) demi mendapatkan nilai tinggi dan bisa lulus ujian. Pola inilah yang kemudian dikritisi untuk bermetamorfosa ke dalam pendekatan yang moderen dan berdasar pada trend kewarganegaraan yang moderen.

Sayang, ketika perubahan itu sudah dimulai di dunia pendidikan ternyata di kalangan masyarakat hal tersebut tidak mendapatkan tindak lanjut sehingga program pendidikan kewarganegaraan menjadi tidak holistik. Kebanyakan dari masyarakat masih berjalan dalam pola-pola lama yang pada akhirnya melanggengkan budaya korupsi dan kesewenang-wenangan. Lihatlah di sekeliling kita yang masih penuh dengan pungutan dan masyarakat menjadi tidak berdaya untuk melawannya. Mulai dari pembuatan KTP, konversi gas, pembuatan kartu tanda pencari kerja, legalisir, bahkan BLT dan ASKESKIN. Ini jelas tidak menguntungkan bagi bangsa yang besar ini. Namun hal ini pula yang menarik orang-orang untuk menjadi pejabat. Baik sebagai eksekutif maupun legislatif. Harapan mereka sederhana, mendapatkan pelayanan ekstra seperti ningrat yang akan menaikkan derajat dan martabat diri dan keluarganya. Memperjuangakan rakyat? Semua bisa diatur.

Tipikal caleg seperti ini jelas ia tidak siap untuk menang apalagi untuk kalah. Kalau menang, bisa jadi masa jabatannya tidak akan bertahan lama karena dengan cepat ia akan berurusan dengan penyidik dari KPK atau kejaksaan atas kesewenang-wenangan dirinya atau ketidaktahuannya dalam menjalankan peran dan fungsinya. Beberapa caleg yang pernah saya interview rata-rata mereka tidak tahu pengetahuan dasar dari seorang anggota legislatif, seperti:

1. Komisi-komisi yang ada di DPRD Kabupaten/Kota, padahal ia berjanji akan memperjuangakan rakyat. Ketika saya tanya anda akan memperjuangan masyarakat di komisi apa? Mereka tidak bisa menjelaskan dengan benar. Jadi, bagaimana ia mau memperjuangkan rakyat?

2. Tidak mengetahui besaran APBD, ini adalah kesalahan fatal bagi seorang caleg. Bagaimana mungkin ia mau memperjuangkan rakyat kalau alas yang setiap tahun digelontorkan untuk pembangunan tidak ia ketahui. Maka munculah janji semu yang melulu itu-itu saja. Misalnya: pendidikan gratis dan kesehatan gratis. Kalau peningkatan kesejahteraan keluarga, bantuan untuk pengusaha kecil, kebersihan lingkungan, pelayanan prima, dan lain-lain sepertinya masih belum bisa mereka dibayangkan.

3. Tidak mengetahui potensi di dapil masing-masing. Seperti jumlah penduduk, sekolah rusak, jumlah guru honorer, pengangguran, jalan rusak, rumah yang tidak layak huni, serta kekayaan alam di wilayah tersebut.

4. Tidak mengetahui jumlah DPT. Akibatnya para caleg baru protes begitu mengetahui banyak warga yang seharusnya memilih atau diharapkan memilih ternyata tidak terdaftar. Padahal kalau saja mereka peduli dan mengetahui itu dari awalnya. Jadi, apa yang bisa diharapkan dari wakil rakyat yang tidak mengetahui pengetahuan dasar seperti di atas?

Untuk para calon legislatif yang sudah terpilih, saya ucapkan selamat dan mulailah serta meluruskan niat. Jangan lupa, bertindaklah membela rakyat dan tunjukanlah kepada semua orang apa yang sudah dan akan lakukan. Ini bukan kesombongan tapi sebagai laporan kepada konstituen anda bahwa anda sudah berperan menjadi wakil rakyat yang bertanggung jawab bukan sebagai wakil rakyat yang ternina bobokan dalam gelimang tangis rakyat yang tidak tahu kemana mereka harus mengadukan penderitaan nasib yang sedang dihadapinya.

Kita perlu belajar lagi untuk berbesar hati dan terus berada di depan untuk mengawal reformasi menuju Indonesia yang damai, sejahtera, dan mampu bersaing dengan negara-negara besar. Cukup sudah kita menjadi objek pasar negara-negara luar, padahal kita punya segalanya. Mulailah kita memperjuangkan program-program pro rakyat yang akan mesejahterakan dan ini akan berimbas pada posisi anda di masa pemilu yang akan datang. Jika masih berminat ikut pemilu lima tahun kedepan, mulailah dari sekarang berkarya dan membuktikan bahwa anda layak dipilih dan terpilih. Selamat berjuang!


Responses

  1. betul banget pak..
    memang banyak sekali tindakan-tindakan yang kurang baik seperti money politic itu…
    bahkan, sekarang pun banyak sekali mulai dari teman-teman saya….
    saya pun ikut prihatin dengan tindakan itu, tapi mau bagaimana lagi pak, jika itu sudah menyebar dan meluas?
    apakah perlu diberikan kewenangan akan hal itu?

    semoga tulisan bapak membangun untuk semuanya, karena hanya kesadaran diri sendirilah yang akan mengubah dirinya…
    semangat terus ya pak.. hehehe


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: