Posted by: sopyanmk | 21/03/2009

Refleksi 35th (Bagian 1)


Hari ini, adalah hari dimana kebanyakan orang harus bergembira riuh rendah bahkan banyak yang merayakannya. Tidak terasa, ditengah gegap gempita masalah yang datang, suka cita yang mengharu biru, serta dinamika hidup yang kadang harus menguras tenaga dan air mata, terlewati sudah 35 tahun usia itu. Sebuah proses hidup yang harus dilalui dengan warna warni kejadian yang kadang-kadang harus diam sejenak dan membiarkan segala sesuatunya berlalu.

Sebuah kisah yang penuh dengan keajaiban, sepertinya mustahil seorang anak yang dilahirkan di tempat yang jauh dari hirup pikuk keramaian dunia pada waktu itu, namun spirit yang sudah dipancangkan oleh orang tua untuk maju dan menjadi yang terbaik telah tertanam bahwa siapapun bisa berhasil. Betapa selalu teringat dan terlihat kedua orang tua saya yang selalu berhadapan dengan masalah, melawan arus, tekanan dari atasan, semuanya tidak menyurutkan untuk tetap berjuang. “Nak, kamu harus lebih baik dari ayahmu! Kakekmu juga dulu berkata begitu. Jangan mudah menyerah, bertahanlah dalam kesederhanaan demi masa depan. Ayahmu tidak bisa mewariskan sawah, toko, dan kekayaan lainnya, yang bisa diwariskan hanyalah ilmu untuk bekal kamu di masa yang akan datang.” Kata-kata itulah yang sering diucapkan ayahku disela-sela memasak nasi di pagi hari sambil mendengarkan ceramah subuh dari radio.

Ibuku memberikan satu wejangan yang dahsyat pada saat momentum perjalanan hidup dimulai. Pada isak sedih ketidak percayaan diri karena mendapat tugas di Ciamis untuk menjadi tenaga pendamping pengucuran kredit bagi petani. Saya hampir menyerah, betapa tidak…. saya tidak pernah tinggal di luar kota yang jauh dari orang tua selain di tempat kuliah di Bandung. Hampir-hampir saja saya mengundurkan diri. Untunglah “Mamah” berkata sambil berlalu, “Orang Ciamis bisa hidup di Cianjur dan berhasil. Orang Ciamis pernah tinggal di rumah kita dan menjadi keluarga besar kita. Maka, pergilah kamu ke Ciamis dan tunjukkan bahwa orang Cianjur bisa hidup dan berhasil di Ciamis. Carilah orang tua dimanapun kamu berada, temukan ayah kamu di sana, ibu kamu di sana.” Ternyata saya mendapatkan apa yang orangtuaku ucapkan. Saya bertemu orangtua yang sangat sayang sekali. Sungguh luar biasa…

Dari perjalanan itulah, saya menjadi berani untuk pergi ke tempat lain untuk mencari penghidupan. Perjalananpun bahkan sempat menginjak tanah para dewa di Yunani, negeri Paman Sam, terakhir Malaysia. Perjalanan itu menjadi mudah dilalui karena sudah berada dalam momentum. Terima kasih Mamah dan Apih yang sudah dan terus memotivasi saya untuk menjadi yang terbaik.

Istriku, kamu datang seperti diutus Allah pada saya ketika suasana hati berada dalam keletihan dan kehilangan motivasi. Saat itu, hampir semua hal sangatlah tidak mungkin untuk dicapai. Nilai kuliah yang tidak karuan, motivasi untuk bekerja hampir tidak ada, semuanya seolah tercurah pada satu kondisi dimana orang-orang terbaik yang sebelumnya diharapkan tetap berada bersama dalam perjuangan mulai menjauh. Kamu datang dengan kesederhanaan dan menghantamkan kedalam pikiran sebuah paradigma baru tentang kehidupan. Cara berpakaian, memperbaiki nilai, serta sebuah keteraturan yang menjadi semakin indah dan memberi nuansa baru dalam kehidupan baru. Hmmmmm orang pacaran pasti selalu indah.

Waktu itu, ia sangat bekerja keras dengan kursus di Goethe Institut sedangkan saya tak satupun keahlian penunjang yang dilakukan. Nilainya sudah di atas angka tiga, padahal jurusannya Bahasa Jerman. Kata orang itu adalah salah satu jurusan yang sulit untuk dilewati. Hmmm masa jurusan PKn tidak bisa lebih baik nilainya.

Kepergian ke Ciamis, menyelesaikan skrispi, seolah tantangan baru setelah sebuah kenyataan terasa pahit saat itu. Saya gagal menyelesaikan skripsi karena Pak Dosen yang pada akhirnya saya sadari turut berjasa dalam mengarahkan saya menjadi yang terbaik saat ini. Hati pedih dan sedikit gengsi karena kekasih diwisuda duluan…. Tapi, biarlah itu berlalu dan saya harus terus berlari untuk tugas yang harus saya lakukan. Akhirnya masa kuliah pun dapat dilalui dengan hasil yang terbaik dan seperti mimpi mencapainya.

Episode mencari kerja pun dimulai dari pulang kandang ke almamater SMA. Sekolah terbaik di kota Cianjur yaitu SMA Negeri 1 Cianjur. Mengajar PKn dan Sosiologi, dengan uang honor sekian, rasanya tidak mungkin membiayai pernikahan yang sudah semakin dekat. Itulah rahasia Allah, setelah pernikahan perjalanan pun ditunjukkan. Istri yang saat itu sudah mengajar di Perguruan Cikal Harapan Bumi Serpong Damai (BSD) mau tidak mau saya harus pulang pergi Cianjur – Tangerang. Namun saya tidak kehilangan akal, kalau mengajak istri ke Cianjur sama saja dengan kemunduran. Maka saya mencari lowongan pekerjaan di sekitar Jakarta.

Maka Perguruan Annisa pun bersedia memberikan kesempatan kepada saya untuk mengajar. Waduh, setelah sekian lama bergelut dengan anak SMA secara klasikal tiba-tiba saya harus bergelut dengan anak SD kelas 2 denggan metode active learning. Minder sekali saya waktu itu. Dosen yang sering cerita active learning hanya Pak Prof. Kosasih Djahiri. Namun ternyata secara real sangat berbeda. Saya sangat menikmati dan bangga sekali bisa mengajar di sekolah itu. Hal lainnya adalah karena saya dekat dengan istri. Bisa selalu berbulan madu.

Bulan berikutnya setelah pernikahan segala sesuatunya mulai berubah, ternyata istriku langsung telat datang bulan. Surprise, ini mengejutkan sekaligus menyenangkan. Namun, perjalanan hidup selalu mengejutkan dan terkadang di luar perkiraan. Menjelang anak pertamaku lahir, ayahandaku meninggal karena sakit yang sudah menahun. Shock, depresi, prustasi itu seolah kembali datang. Istriku yang sudah mengambil cuti dipersiapkan melahirkan di Cianjur dengan pertimbangan untuk menemani Mamah agar tidak terlalu kehilangan Apih. Setelah lahiran, bolak balik akhirnya sakit langganan dan penyakit lamaku kambuh. Typhoid katanya….

Kejutan berawal ketika datang ke sekolah sambil membawa surat dokter. Ibu Kepsek malah memarahi saya karena dianggap tidak bertanggung jawab sudah meninggalkan kelas. Padahal saat itu saya membawa surat dokter. Hari itu juga, keputusan saya ambil… saya harus keluar dari sekolah itu. Saya pamit sama Ibu Yayasan bahwa saya mau keluar karena sakit. Kejutan berikutnya saya menganggur enam bulan. Itu membuat saya prustasi karena saya hidup dari gaji istri dan saya harus tinggal di rumah mengasuh anak pertamaku. Sedangkan istriku setiap hari pergi bekerja untuk mengajar. Saya tahu, betapa istriku sedih meliihat kenyataan bahwa saya keluar dari tempat kerja. Namun ketabahan itu ia tunjukkan dan terus memberikan dukungan dan saran. Ia selalu mengatakan bahwa peluang kerja jauh lebih banyak di Jakarta dibandingkan dengan di Cianjur atau Bandung.

Perjalanan melelahkan itu ahirnya mendapat hasil. Atas kebaikan Ibu Rt dan Pak Hanafi di BSD saya akhirnya mendapat panggilan ke Madania pada tahun 2001. Setelah melalui prosedur penerimaan akhirnya saya lolos dan mengajar di Madania. Sebuah sekolah yang kecil dan masih menyewa ruko untuk kelas-kelasnya. Jadi saksi sejarah ternyata. bersambung….


Responses

  1. Wah! jadi penasaran pingin membaca kelanjutan kisah Kang Sopyan nih!🙂
    Very interesting story! Semoga menjadi inspirasi bagi yang lain.
    Salam
    Satria

  2. Pengalaman hidup yang menarik dan insya Allah banyak hikmah yang dapat dipetik, terutama olehku.

    Ternyata, semua berproses…

    Selama, Kang Sopyan yang telah sukses melewati kehidupan…

    Semoga selalu sukses dan bahagia.

  3. Huuu…. air mataku mengucur. Kalau aku seorang produser aku akan berkata, “Sinetronkan cerita ini…,” sayangnya kini aku bukan produser, jadi cuma ditulis aja.
    Sukses kang Sopy

  4. Pak Sopyan, selamat ulang tahun. Menarik sekali kisahnya. Subahanallah.🙂

  5. Perjalanan hidup yang luar biasa…mungkin intinya adalah : nasib kita adalah hasil dari ikhtiar kita tentu atas izin Allah.

    Selamat untuk 35 tahunnya, semoga harapan yang belum tercapai bisa tercapai pada perjalanan selanjutnya.

    Bagi-bagi ilmunya juga ya…….

  6. life sucks.. but it’s not the excuse for us to stop dreaming.. happy b’day, may all your BIG dreams come true..

  7. waws..
    it’s amazing…..

    salut buat guruku ini,
    sebuah perjalanan hidup yang sangat berliku tapi bisa terselesaikan dan mendapatkan hasil yang sangat membanggakan..
    succes selalu untuk guruku ini.. hehehe🙂

  8. Terima kasih Bu Selly, Bu Anna, Pak Satria, Anton dan semua teman-teman. Seneng juga ya menulis begini….

  9. Seruuuuuuu, saya jdi berefleksi ketik membaca cerita ini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: