Posted by: sopyanmk | 02/03/2009

Dimana Benderaku?


Berkibarlah benderaku

Lambang suci gagah perwira

Di seluruh pantai Indonesia

Kau tetap pujaan bangsa

Siapa berani menurukan engkau

Serentak rakyatmu membela….

Dan masih ada sepenggal sisa dari lagu itu. Sebuah kebanggaan dan gelora nasionalisme yang tidak bisa dilunturkan oleh dentum meriam serta rentetan senjata. Begitulah rakyat jelata dan semua pejuang membangun negeri ini. Penuh dengan luka, duka, dan penderitaan. Dulu, orang dengan bangga menggunakan asesoris bendera sebagai simbol nasionalisme. Para pelajar kembali dari negara asing untuk mengabdikan ilmunya demi Indonesia tercinta. Para pedagang, para petani, serta kaum cerdik cendikia begitu bangga akan bangsa ini.

Kini, di saat krisis datang silih berganti dengan diikuti pergantian presiden yang sedemikian cepat. Pola kebangsaan inipun menjadi berubah. Munculnya puluhan parpol yang secara legal dan memenuhi syarat boleh mengikuti pemilu seolah menjadi badai salju perestroika dan glasnot era Gorbachev. Menakjubkan, keran kebebasan dalam berpolitik seolah-oleh tidak bisa dihalangi dan dibatasi. Saya… mempunya hak politik yang sejajar dengan orang lain. Bahkan, ketika satu kelompok tersingkir… tak segan untuk membuat partai tandingan. Itu bahkan menjadi trend yang terus bergulir dari masa ke masa.

Kini, pertarungan hidup mati para parpol kembali menggeliat. Demonstrasi untuk suatu kelompok tertentu bahkan tak sungkan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya. Dari ujung jalan yang satu ke ujung jalan lainnya betapa banyak aneka warna berjejer dengan simbol kebesaran serta tak lupa nomor hasil undian menghiasi bendera. Tak peduli apakah itu mengganggu keindahan pemandangan kota atau bahkan tak jarang merusak pepohonan. Hmmm padahal partai mereka mengusung isu lingkungan hidup… aneh ya…? So, arah bangsa ini semakin membingungkan.

Saya berdialog dengan istri kawan saya yang menjadi caleg. Saat ini rakyat semakin materialistik dan tidak lagi mempedulikan program apa yang dibawa oleh para caleg. Yang penting mereka semuanya datang dengan memberikan bantuan kepada masyarakat baik individual maupun kelompok. Pokoknya maknyusss dijamin deh suara mereka mengalir. Alasannya sederhana, kalau mereka meminta setelah sang caleg jadi anggota caleg…. dijamin mereka tidak akan peduli. Waduh… apakah ini simbiose mutualisme atau homo homini lupus?

Kini, bendera yang berkibarpun tak lagi merah putih. Benar-benar beragam, ironisnya kemana merah putih itu? Kini, saya tidak tahu apakah Bunda Fatmawati akan merasa sedih akan hal ini? Hmmmm para putra-putrinya pun hampir lupa menunjukkan sang saka. Kebesaran merah putih sepertinya tidak bisa menjadi jembatan untuk meraih wong cilik. Bahkan, yang iklannya menakjubkan pun tetap tidak menunjukkan merah putih sebagai kebanggaan.

Semoga… episode ini bisa membelajarkan banyak pihak akan hakikat kebangsaan dan jiwa nasionalismenya.


Responses

  1. Content yg ada di blog bapa bagus2..
    Saya sich pasti kalah jauh !!

  2. Halo Marini,
    It is wonderful blog… tidak usah kalau menang… teruslah menulis dan tuangkan semua ide kamu. Saran bapak.. kamu beli buku tentang blog, murah hanya 15.000. Jadi kamu bisa develop blog kamu lebih wah lagi.
    Saat ini… its great… I am proud become your teacher.
    Cheers

  3. wah
    memang sekarang orang2 pada lupa pada kebersamaan dan republik yang dulu pernah diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa. orang sekarang cuma bilang ” politik kayak gitu”. begitulah kebanyakan realita para elit politik negeri ini. harapanku cuma Semoga indonesia segera menjadi baik. bukan begitu pak?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: