Posted by: sopyanmk | 29/01/2009

Kampanye tanpa Program Kerja


Kampanye tanpa Program Kerja
(budaya politik yang yang memprihatinkan)

Miris, adalah kata yang pertama kali muncul ketika melihat gelombang pamer muka dimana-mana. Jalan raya, bundaran, kios, bahkan di tengah pohon tinggi menjulang. Semuanya tanpa maksud dan makna yang jelas atas perilaku dan pemasangan media kampanye tersebut. Muka tersenuyum manis dengan latar belakang mohon doa restu serta contreng nomor sekian adalah tipikal yang mudah ditemukan di setiap gambar yang mejeng di mana-mana. Saya malah curiga, jangan-jangan mereka mencetak poster-poster itu dari satu percetakan serhingga mereka hanya ditawari form isian dan menyerahkan photo. Akibatnya, keluarlah pola, gaya, dan cara yang sama.

Rendahnya kreatifitas dalam mempromosikan dirinya tidak lepas dari rendahnya kemampuan dan penguasaan ilmu serta wawasan politik seseorang. Lihat saja, banyak para caleg yang tiba-tiba sibuk bikin facebook padahal ia juga belum punya e-mail bahkan tidak pernah bersentuhan dengan komputer. Sepertinya hal tersebut tidak jadi masalah jika ia memiliki tim yang solid. Tapi betapa mahalnya biaya yang harus dikeluarkan untuk dapat melenggang dan menduduki kursi empuk yang saat ini terus menerus diincar oleh KPK. Masih banyaknya para caleg yang minim dalam dunia politik tak bisa dipisahkan dari kejar tayang para partai yang baru muncul. Dengan iming-iming caleg No. 1 walau akhirnya berubah menjadi suara terbanyak cukup memikat para voluter dan kaum-kaum oportunis untuk mengadu nasib. Bayangkan, apa yang akan diperjuangkan untuk rakyat jikalau ia terus menerus memperjuangkan dirinya, keluarganya, dan kepentingan partainya. Jadi, wakil siapakah mereka?

Jika ke depan situasi seperti ini tidak mengalami perubahan secara signifikan, akan muncul tradisi dan seolah-olah menjadi kekuatan hukum terhadap tata cara dalam pemilihan umum. Saya pribadi khawatir jangan-jangan mereka tidak mengetahui UU Pemilu terbaru. Hal itu terjadi karena sampai saat ini budaya instruksi dan petunjuk masih kuat tertanam dalam masyarakat kebanyakan. Korbannya, mereka harus rela kehilangan poster-poster yang sudah dibayar mahal untuk dicetak bahkan memasangnya dimana-mana. Saya pernah berdialog dengan caleg yang sudah terpampang namanya dimana-mana bahkan punya facebook. Ia adalah orang yang cukup terkenal dan lebih memilih dunia politik untuk kepopulerannya. Saya melihat bahwa keinginan untuk mendekati konstituen itu rendah sekali. Bahkan ia menolak untuk melakukan kegiatan pelayanan kepada masyarakat di daerah pilihannya hanya karena program yang saya sampaikan bukan bidangnya. Sungguh mengenaskan, lalu apa yang ia lakukan kalau hanya berpikir semuanya harus sesuai dengan bidang saya.

Respon seperti itu semoga tidak dilakukan oleh setiap caleg yang ada. Tapi, kalau melihat gejala itu cukup tinggi. Bayangkan, Obama saja bisa datang ke rumah-rumah dan mempromosikan dirinya sebaik-baiknya. Ia tidak melulu pamer poster atau jejaring di internet. Ia bersama tim suksesnya melakukan berbagai cara untuk bisa bertemu konstituen, berkomunikasi dan menjelaskan misi-visi partai, serta mengajak untuk memilih dirinya. Mudah-mudahan di sisa waktu yang ada para caleg dapat merubah orientasi kampanyenya menjadi lebih merakyat dan fokus kepada apa yang akan ia lakukan untuk membela rakyat, bangsa, dan negara. Namun harus diingat bahwa semua itu memerlukan energi yang besar yang tidak cukup dengan hanya promosi bagi-bagi sembako, kalender, atau poster. Banyak hal ang bisa dikerjakan untuk melakukan simbiose mutualisma bersama rakyat.

Saya ingin juga mengingatkan kepada para caleg 2009, tunjukkan program-program anda kepada masyarakat jika nanti terpilih menjadi anggota dewan. Tunjukkan di sini buka bermakna membuat catatan kecil yang dibagi-bagi kepada masyarakat namun tunjukkan kepada masyarakat sehingga masyarakat merasakan program-program itu dari sekarang. Kalau itu muncul dan rakyat sudah merasakan kerja keras kita, maka Bapak/Ibu caleg tidak akan kesulitan untuk mencari juru kampanye. Karena masyarakat binaan itulah yang akan menjelaskan semuanya kepada semua orang bahwa anda adalah orang yang kafabel dan bisa dipercaya. Dalam pengamatan saya, cara-cara cerdas seperti itu akan memiliki nilai jual tinggi.

Saya menulis ini hanya ingin menyampaikan keprihatinan atas aliran dana sia-sia yang digunakan untuk kampanye yang tidak dirasakan oleh rakyat. Rakyat tidak akan kenyang dengan teriakan dan janji-janji manis di televisi. Rakyat tidak akan merasa terbantu jika hanya disuguhi senyuman manis di poster-poster dan baligo yang mengganggu keindahan kota. Mungkin mereka akan memilih jika anda mengeluarkan uang ratusan juta dan dibagi-bagi menjelang hari pemilihan. Namun, sanggupkan menyediakan uang dalam jumlah besar untuk melakukan perjudian? Yakinkah bahwa setiap orang yang diberi uang akan memilih anda?

Sebagai guru , hal ini jelas menjadi keprihatinan cukup besar. Bayangkan, betapa sistem ketata negaraan yang ada di luar sana seolah menjadi begitu senjang. Bukankah mereka juga akan belajar dan melihat apa yang terjadi di masyarakat. Mereka saat ini tidak hanya belajar dari sekolah saja. Bahkan dalam salah satu metodologi pendidikan pun pendekatan contextual teaching adalah salah satu pendekatan yang terus dianjurkan. Pendidikan kewarganegaraan jelas mengacu kepada perilaku rakyat, aparat, serta semua aspek yang terkait dalam sistem pemerintahan di Indonesia. Jadi, mari bersama-sama membangun sistem negara ini dengan cerdas. Hilangkan ego pribadi, keluarga, kelompok, atapu partai.

Rakyat semakin pintar, jadi berpikir dan berbuatlah dengan lebih cerdas. Jadikan bangsa ini bangsa yang hebat dengan segala macam potensi yang ada. Pemilu dibuat bukan untuk ajang suap menyuap rakyat lalu anda tertawa dalam gelimang harta setelahnya. Saatnya anda maju semata-mata untuk membela dan meyakinkan bahwa tidak ada seorangpun rakyat di negara ini yang kelaparan, tidak ada seorangpun anak yang tidak pergi kesekolah karena tidak memiliki biaya, tidak ada seorangpun di negeri ini yang teraniaya. Jadilah pejuang yang akan dikenang bukan jadi pejuang yang akan dikecam. Rakyat melihat, Tuhan bahkan Maha Melihat.

Semoga Tuhan meridhoi perjuangan anda semuanya.

*)Guru SMP Negeri 3 Kota Bogor


Responses

  1. 1. keun da budak
    2. itu salah satu ciri bahwa di negara Indonesia jumlah pengangguran makin terus bertambah, sehingga banting setir membuat impian/ gambling dengan “siapa tahu aya jurig tumpak kartu suara”.
    3. Jalan pintas menjadi selebritis tanpa harus ikut audiensi indonesia idol atau sejenisnya.
    4. Calon punya perusahaan percetakan sehingga untuk memperkenalkan perusahaannya mereka mencantumkan dibawah nama calegnya nama perusahaan percetakan tersebut.
    5. Euweuh gawe…
    6. Iseng lagi….
    7. Caleg Narsis…
    8. Caleg lebai…
    9. Mun boga duit, urang ge ngiluan ah… bae rakyat kalaparan ge da tibaheula ge rakyat mah kalaparan… hehe..
    10. mun teu boga duit….. Cicing we…
    11. dan lain-lain

  2. nice info

    i like your artikel

    thanks

    please visit my site
    kampanye damai pemilu indonesia 2009

  3. Saya pun prihatin. Sampai ada teman saya yang bilang CALEG=Can Amal Loba legEG 😦

    Sebetulnya masa kampanye ini sangat baik dimanfaatkan bagi pendidikan politik. Sebagai guru PKN mestinya Pak Sopyan tahu, betapa menyedihkannya pengetahuan masyarakat umum tentang kewajibannya sebagai warganegara. Harus dipintarkan supaya bisa berubah.

  4. Itu dia Ibu, sedihnya banyak dari mereka bahkan tidak paham UU pemilu dan langkah2 yang strategis. Sayang nih tidak ada yang mengangkat saya jadi konsultan politik hehehehe. Makanya, sampai saat ini kesenjangan di sekolah dengan di luar tidak sinkron. Namun bukan berarti para caleg ongkang-ongkang kaki memanfaatkan kebodohan rakyat…
    Yuk kita bangun bangsa ini

  5. Saya yang mengangkat, mau? Ha..ha..

    Untuk jangka panjang, pendidikan politik kepada masyarakat awam perlu ada yang menangani juga,’kan. Kebodohan jangan dipelihara.

    Percaya nggak, mental orang terjajah masih merajai jiwa bangsa ini.
    Yuk, bangunkan!

  6. waduh…. asyik juga sepertinya hehehe. Siap-siap, memang kita harus bersinergi untuk membangun bangsa ini. Saya merasa ketika di Amrik imej mereka liberan dalam segala hal, ternyata terlihat sangat nasionalis. Di depan rumah pasti ada bendera, bandingkan dengan di Indonesia. malah penuh dengan bendera caleg tapi hampir tidak ada sang merah putih…
    duuuuuuuuuuuuhhhhh

  7. Perubahan tatacara memilih yang menyebabkan akhirnya banyak caleg harus menempuh cara tsb. Gimana mau menyampaikan materi program kepada rakya, wong rakyat aja gak kenal dengan caleg tersebut. Akhiernya ya kampanyenya ya kampanye narsis, pilih si aku contreng nomor sekian. Cuma itu. Siapa yang pilih kalo cuma gitu…ya keluarganya yang pasti dan segelinter oerang yang mungkin kenal baik dengannya. tapi setap aja saingan didalam partai juga banyak belum lagi dari partai2 lain yang juga dikenal orang dekat pemilih.

    Pemilu kali ini adalah ajang bursa kerja pak…gak banyak beda dengan jobfair yang pernah ada untuk menjaring minat pelamar, di pemilu menjari para pemilih.

    Sekarang gimana kita nih…mau pilih siapa? atau mau milih apa gak. Tapi kalo gak milih nanti kena hukuman haram dari MUI…hehehe apa kita yang harus proaktif mencaritahu siapa2 yang punya kualitas bagus…kok jadinya harus konstituen yang aktif ya…ah kadang dunia memang terbalik…

    gak langganan radar…sorry. seseklai coba kirim ke media indo atau mungkin kompas kali…siapa tau juga dimuat. keep writing.

  8. Itulah, kita semua prihatin tapi sepertinya langkah-langkah itu sepertinya belum mendapatkan perhatian yang seharusnya. Apa harus ada workshop buat caleg?
    hehehe

  9. Ada kok yang perhatian, Pak. Menawarkan program berdasarkan apa yang sudah dikerjakan selama ini.
    PKS buat kok workshop buat Caleg (wah, iklan…)

    Bagaimana pendapat Bapak dengan orang-orang pintar yang maunya Golput? Rela ya wakil rakyat ditentukan oleh orang-orang tanpa idealisme? Saya kok berharap ada seleksi juga untuk pemilih. Hanya orang-orang dengan kriteria tertentu saja yang boleh memilih… Hehe.. tambah ruwet.

  10. Hehehe… percaya Bu😉, bahkan banyak yang seperti itu untuk menunjukkan keberhasilan. Sangat provokatif hehehe… Saya sih sebetulnya yakin setiap caleg dan parpol punya program, pertanyaan saya adalah apa program itu? Saya saja tidak tahu… apalagi rakyat kecil.

    Kalau orang pintar golput? Dari opini saya sederhana saja, karena mereka tidak mau dibodohi. Lihat saja contohnya, jalan di bogor tetap rusak, KTP masih bayar, sekolah mau roboh, dokter di puskesmas tidak mau melayani maksimal, ngurus administrasi harus bayar, dan DPRD tidak bisa menekan eksekutif. So, what DPRD for? UU dan Perda terus dibuat? Pengawasan? itu yang saya tidak tahu… bahkan guru teriak2 didzhalimi tentang sertifikasi, apakah DPRD tahu? padahal ada komisi yang membidangi itu. Sedih…

    Jadi, semakin pintar orang akan semakin rendah partisipasinya… bisa jadi alasannya begitu. Sampai saat ini saya tidak melihat bukti nyata dari gembar-gembor parpol. Tapi, jangan tanya saya akan milih atau tidak. Ini rahasia Bu?🙂. Semoga bisa diinformasikan ke teman-teman di PKS. jadilah berbeda, mungkin jujur tapi jujurnya belum terasa nih… Ayo terus berjuang untuk rakyat.

    Eh, mungkin juga publikasi dan testimoni rakyat yang kurang. Kalau testimoni di TV sudah hebat lho…

    Wah jadi panjang bisa satu artikel lagi😉

  11. Ya, jadi, belum terasa… belum nyata.
    Support terus kami dengan nasihat-nasihat dan doa ya.
    Thanks, pak Konsultan!

  12. Dengan senang hati Bu…
    Saya secara pribadi lebih mengedepankan kepentingan negara dan bangsa hehehe (nasionalis banget ya). Jadi saya tetap mendukung Bu…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: