Posted by: sopyanmk | 16/01/2009

Pendidikan Indonesia Dipersimpangan Jalan


Tahun baru, harapan baru, mimpi baru, semangat baru, serta semua optimisme datang mengembang untuk menjadikan dunia ini menjadi lebih baik. Namun sejauh ini intrik-intrik di dunia pendidikan seperti tidak pernah sepi seiring dengan membuncahnya segala jenis kepentingan baik materiil maupun popularitas. Betapa mengherankan saat para guru diserang habis-habisan karena dianggap tidak mumpuni dan cenderung dipersepsikan out of date, ternyata banyak pihak terkait masih ongkang-ongkang dan menikmati hamparan uang bantuan yang diberikan pemerintah dengan tanpa berdosa. Seolah-olah semua itu adalah hak milik dan tidak harus dipertanggung jawabkan secara hukum baik di dunia mapun akhirat…. Halal … katanya.

Dunia semakin terbalik kala pihak-pihak itu pun seringnya menyalahkan guru dan menuntut loyalitas (nurut kemauan gue….😦 dan jangan protes). Jika ada kesalahan kecil, guru dideskreditkan dengan ancaman dipersulit kenaikan pangkat, tidak mendapatkan jam pelajaran yang sesuai, bahkan tidak diikutkan dalam berbagai pelatihan. Sayang, penomena sisa-sisa kebejatan orde baru ini  masih belum diurai sampai saat ini secara tuntas. Akibatnya mental-mental feodal masih bertahan dan dengan nyaman duduk di kursi empuk sambil menghitung keuntungan dan mencari angka-angka supaya tepat diletakkan di atas kuitansi untuk laporan pertanggung jawaban. Tak lupa juga menyiapkan selembar amplop untuk diberikan kepada orang yang datang supaya bisa melanggengkan proses tipu-tipu tersebut.

Pergantian jabatan kepala sekolah hanya sebatas kamuplase karena dari satu orang ke orang yang lain sudah dapat dipastikan memiliki tipikal yang sama. Toh semua sudah disepakati dalam forum MKKS (musyawarah kerja kepala sekolah). Jadi, mustahil rasanya jika ada kepala sekolah yang berani maju dan independen memberikan yang terbaik untuk sekolah barunya. Huh… bayangkan saja jutaan rupiah yang diinvestasikan untuk jabatan itu dengan apa harus digantikan jika bukan dengan melanggar hukum dan hati nurani.

Guru? Hanya bisa berharap dan akhirnya kecewa, kecewa, dan kecewa. Komite sekolahpun seolah tidak berkutik dan habis dimakan kekuasaan bahkan banyak yang terjebak dalam roda-roda kolusi yang disiapkan kepala sekolah. Dewan pendidikan? Entahlah, saya tidak tahu peran mereka walau saya tahu tujuan ia dibuat untuk apa.  Kejengkelan guru atas ketidak sewenang-wenangan ini seolah terganjal dalam sumpah setia yang mengharuskan menutupi rahasia dinas jika terjadi sesuatu. Ini sungguh aneh dalam era terbuka dan gerakan sadar hukum. Karena menjaga rahasia dalam konteks itu sama dengan persekongkokolan dunia pendidikan. Ketika guru prustasi dan hilang motivasi untuk mengajar, guru masih dihadapkan pada kritik tajam orang tua.

Lalu… kemana guru harus mencari perlindungan?

Apakah cukup menangis dan mengeluh?

Entah sampai kapan kondisi pendidikan akan terus seperti ini. Mudah-mudahan Pak SBY membaca tulisan ini. Sehingga beliau berani memangkas dan memutus rantai kebejatan dalam dunia pendidikan. Percayalah, BOS yang ditingkatkan nilainyapun tidak dinikmati siswa sebagaimana yang diharapkan. Semua hanya mimpi… entah keman uang BOS itu…


Responses

  1. Kang Cecep Yth,
    Jangan bersedih. Masih ada akhirat yang baik tempat kita berharap, jika memang dunia ini ternyata penuh kesumat.
    Masih ada teman sejawat untuk berbagi, berdiskusi, dan saling isi tentang betapa di dunia ini selalu ada dua sisi, baik-buruk, atau hitam-putih, jika ternyata kemaksiatan, kejahilan, kemunafikan, dan pebunuhan hati nurani yang terumbar dahsyat, melembaga ke semua tempat.
    Tetaplah semangat, karena bukan hanya Kang Sopy yang mengalami. Jika kita guru, apalagi berpikiran maju, maka hal pertama yang harus dihadapi adalah pimpinan yang pandai menyaru, membujuk, berdalih, dan akhirnya mempengaruhi orang untuk menciptakan citra buruk pada pembaharu.
    Janganlah kamu menyebut diri beriman sebelum kamu diuji. Semoga lulus ujian dengan nilai terbaik Kang.

  2. Aduh terimah kasih Mas Mampu Ono, hiburan yang menarik… memang banyak hal yang harus kita lakukan dan saya bersyukur bisa berbagi dalam komunitas yang luar biasa. Insya Allah saya tetap semangat… dan kita sebagai guru perlu melakukan revolusi nyata untuk mewujudkan pendidikan yang berkeadilan di Indonesia. Caranya????😉

  3. memang menyedihkan dan menyebalkan kalau kita melihat perkembangan dunia pendidikan saat ini. bagaikan benang kusut yang sangat susah untuk diuraikan karena mental-mental busuk masih bertahan dan bersarang di balik otoritas. rupanya tahun ini bukan lah kemenangan bagi dunia pendidikan. padahal harapan kita begitu besar terhadap perkembangan dunia pendidikan yang menuju ke arah pendidikan yang jujur dan adil serta profesional. saat ini kita masih harus berharap dan berharap entah sampai kapan harapan itu dapat diwujudkan. hanya keikhlasan yang dapat mengobati gundah di hati. semoga guru-guru pembaharu tidak patah arang menghadapi kondisi tersebut ya bro. selamat berjuang ah. semoga selamat di perjalanan ……loh…..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: