Posted by: sopyanmk | 18/12/2008

Sudah pulang dari M’sia (Alhamdulillaah)


dscn0680Visa bisa on arrival.

Passport masih ada

Baju belum di setrika

Oleh-oleh…. bawa jangan ya? tapi mungkin alakadarnya saja deh… Tidak masalah. Yang penting dapat ilmu (padahal alasan tidak ada dana buat oleh-olehnya) hahaha. Walau dengan sejuta masalah dan seribu beban yang datang dengan segala konsekuensi… harus aku hadapi satu persatu. Tidak ada yang harus ditinggalkan untuk diselesaikan, walau sudah pasti semuanya akan memakan energi yang besar. Selama Allah masih memberikan kesehatan… why not. Itulah salah satu tugas manusia dalam hidup ini.

Perjalanan menuju Kota Kinabalu, berbaur dan beredar mencari pengalaman di KK, pulang dari KK seolah-olah bagian dari rangkaian yang sering terlupakan. Padahal, dari sanalah kita bisa belajar. Kita bisa menjadikan masterpiece setiap moment kita dalam kehidupan kita. Masterpiece dalam beribadah akan menjadikan nilai tersendiri dalam melaju komitmen sebagai insan. Insan yang diridhoi lahir dan batin. Nikmat apalagi yang kita ingkarkan… (Surat Ar-Rahman).

Bertemu teman lama di AEC 7th Conference, bertemu teman baru dari Korea (Kim, Soo, dan Khyungah), Malaysia (Siti, Azni, dll.), Slovenia (Branimir), Italia (Daniella), serta masih banyak lagi seolah-olah mengingatkan padaku bahwa dunia ini kecil dan sempit. Jadi ingat dalam Qur’an: Sesungguhnya telah aku ciptakan manusia itu bersuku-suku, berbangsa-bangsa untuk saling mengenal. Perbedaan karakter, kehendak, kesukaan, serta nilai dan budaya menjadi tantangan dalam menimbulkan suasana persahabatan. Understanding, appreciation, and respect is one of the key to reach the peace in the world.

Rasanya, kita tidak harus saling menguasai untuk menjadikan kita eksis. Kita tidak harus selalu menjadikan diri kita menjadi manusia paling super. Orang akan melihat semua potensi kita hanya ketika kita berdiri sejajar tanpa pamrih. Ketulusan dan keinginan untuk menjadikan apa yang kita lakukan bernilai ibadah adalah prestasi yang akan terlihat luhur oleh orang lain, oleh bangsa lain.

Jutaan musuh Rasul Muhammad SAW hanyalah sebuah retorik, karena dibalik kebencian mereka tertanam pula kecintaan yang sebenarnya kepada mereka. Bayangkan, betapa mereka mencari kesalahan-kesalahan yang Baginda lakukan. Namun yang mereka temukan hanya kekaguman. Sudah saatnya kita bangkit dan menjadi sejajar. Kita tidak harus memproklamirkan kebesaran kita, namun bertindaklah sebagaimana orang merdeka.

Syukron ya Allaah atas semua nikmat yang telah engkau berikan. Semoga, hambamu dan semua keluarga dan orang-orang terbaik dalam hidup saya (muslimin-muslimat) mendapat hidayah untuk selalu berada dan komitmen dalam jalan-Mu. Amin…

(Doa tulus dalam penantian anak ketiga)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: