Posted by: sopyanmk | 07/12/2008

Belajar Hikmah dari Mahatma Gandhi


mahatma-gandhi

Paradigm Shifting II

Karena keluhuran budinya, Mahatma Gandhi sering dimintai tolong oleh masyarakat sekitar. Syahdan di suatu daerah yang sangat jauh dari dari Rumah Gandhi, ada seorang Ibu yang kesulitan untuk menghilangkan kebiasaan anaknya yang suka makan permen. Giginya sudah rusak tapi orang tuanya tidak bisa mencari jalan keluar untuk mengehentikannya.  Setelah mendapat saran dari tetangganya, sang Bunda pergi menempuh perjalanan yang jauh berhari-hari untuk bertemu Gandhi. Setelah bertemu, ia menjelaskan semua permasalahannya. Mahatma Gandhi terdiam, melihat muka si anak dengan tatapan tajam. Ia berkata, “Bu, silahkan datang lagi tiga bulan”.

Sang Ibu pun pulang kerumah dengan penuh harap. Ia menanti tiga bulan untuk kembali menemui Gandhi dan dapat secepatnya mencari solusi terbaik. Waktu tiga bulan pun datang, ia segera berangkat dengan perasaan gembira menuju kediaman Gandhi. Sesampainya di rumah Gandhi ia menunggu untuk bertemu. Setelah duduk berhadapan si Ibu bertanya, apa yang harus ia lakukan untuk anaknya. Gandhi pun memegang anaknya dan berkata “Nak, berhentilah makan permen!”. Lalu Gandhi memerintahkan supaya Ibu dan anak itu pulang. Sang Ibu tentu kecewa dan kaget setelah dia diminta menunggu tiga bulan, dengan perjalanan yang jauh, setelah bertemu ia hanya mendapatkan kata-kata sederhana. Kalau hanya begitu, kenapa Gandhi tidak berkata tiga bulan yang lalu. Ia penasaran dan bertanya, “Gandhi, kalau hanya mengucapkan itu mengapa saya harus menunggu tiga bulan?”. Gandhi dengan tersenyum berkata “Tiga bulan lalu saya masih memakan permen”.

Jderrrrrrrrrrrrrrrrrrrr!!!!!

(Cerita ini disampaikan Mas Agi pada waktu ToT Paradigm Shifting II di ALIX)

Bayangkan, bagaimana mungkin kita mau membangun karakter murid-murid kita, anak-anak kita, orang-orang binaan kita, sedangkan kita masih melakukan apa yang sedang dilakukan dan digemari oleh anak-anak. Bagaimana mungkin kita melarang menyontek kepada anak-anak, sedangkan membuat RPP kita masih sana-sini. Bagaimana mungkin kita dapat menjelaskan bahaya korupsi, sedangkan banyak hal yang masih kita langgar (waktu misalnya hehehe).

Berkaca dari cerita di atas, salah satu langkah yang harus kita cermati adalah bagaimana melakukan proses perubahn ke arah yang lebih baik lagi dengan benar. Langkah lanjutannya adalah, kita harus merubah diri kita secara mendasar. Ayo kita berubah untuk kesempurnaan diri kita, demi menggapai Ridho Allah swt. Amin


Responses

  1. Bravo! Cerita yang sangat menggugah. Mas Agi memang punya banyak cerita seperti ini. Maklum memang kerjaannya membuat paradigm shift.🙂
    Salam”
    Satria

  2. Terima kasih atas kunjungannya, semoga akan semakin banyak guru berubah seiring program yang ditawarkan oleh Klub Guru Indonesia.😉

    Salam,

  3. salut atas ceritanya, tinggal kita motivasi guru2 kita utk melakukan hal yg sama dan sesederhana mungkin..

  4. Memang, Mahatma Gandhi. Tak akan memberikan nasihat kecuali nasihat itu ia lakukan. Yang tetap saya ingat dari beliau adalah “hak itu berasal dari kewajiban yang dilaksanakan dengan baik”. Makasih.

  5. Ceritanya bagus, bisa untuk tauladan kita.

  6. saya setuju tentang cerita dan pesan moral ini….faktanya kasihan anak-anak kita karena korupsi ternyata sudah membudaya minimal untuk 2 turunan kebawah…apakah ada cara untuk menghilangkan jejak yang jelek ini..?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: