Posted by: sopyanmk | 02/11/2008

PKn VII: Mendeskripsikan Norma saja?


Pada waktu membaca Standar Isi 2006 mengenai materi pertama di kelas 7, ada beberapa hal yang menggelitik dalam pikiran saya. Ide nakal itu adalah:

  1. Apakah harus mengajarkan teori dari norma, nilai, dan hukum?
  2. Apakah penugas yang cocok untuk anak-anak sehingga tidak sia-sia?
  3. Apakah aktivitas yang cocok untukmembuat sebuah pengalaman belajar yang menyenangkan buat anak-anak?
  4. Haruskah mencari jalan mudah dengan diisi ceramah dan dongeng-dongeng yang belum tentu dimengerti oleh anak?

empat pertanyaan di atas membuat saya bekerja keras untuk mencari formula tepat ditengah kondisi siswa yang memang akhir-akhir ini sepertinya dilanda kebosanan. Motivasi siswa untuk belajar memang semakin membuat kita mengurut dada. Tapi itu semua bukan salah anak-anak, betapa tidak materi yang disampaikan di sekolah hampir dikatakan cukup membosankan setelah rata-rata enam tahun dijejali dengan teori serupa sejak SD. Kemudian di SMP mereka harus mendengarkan dan mengalami hal yang sama. Kasihan sekali mereka.

Adat-istiadat yang ada di Indonesia yang cukup beragam akan menjadi menantang dalam materi ini. Celakanya guru sudah dapat dipastikan hanya memiliki resources sedikit saja mengenai keanekaragaman suku-suku, adat dan budaya di Indonesia. Saya juga sangat senang beberapa guru sudah ada yang menugaskan muridnya mencari sumber di Internet. Sayangnya penugasanpun tidak terstruktur karena guru tidak pernah mencari sendiri di internet. Akibatnya hasil penugasan menjadi sia-sia dan memboroskan. Padahal untuk menggali nilai budaya lokal, ada beberapa trik yang bisa dilakukakn. Diantaranya:

  • Mengundang nara sumber untuk berceramah
  • Melakukan interview dengan orang tua melalui video atau melalui tulisan
  • Mengunjungi museum
  • Library research
  • Internet research (di lab komputer)
  • Magazine research
  • Mobile internet research (melalui handphone di kelas)
  • Group assignment dengan produk powerpoint

Namun saran saya untuk semua itu adalah guru harus mencoba dan mengukur tingkat keberhasilannya terlebih dahulu. Wah bisa jadi PTK PKn nih, karena jika tugas hanya diberikan begitu saja dapat dipastikan hasilnya tidak optimal. Bagaimana tidak, sang guru saja tidak mengerti apa yang ditugaskan.

Materi konsep?

Saya pikir ini sangat perlu, tapi tidak menjadi dominan dalam setiap pertemuan. Siswa harus diberi kesempatan untuk eksplore dan melakukan sesuatu untuk dirinya. Sehingga materi ini menjadi sebuah pemahaman yang mempribadi dan bukan hanya sekedar informasi. Untuk bahan-bahan kajian tradisional dari berbagai daerah, saya menyarankan guru-guru ikut milis pendidikan sehingga bisa mendapatkan bantuan dari berbagai daerah untuk memperkaya informasi secara akurat. Data yang ada diinternet kadang-kadang terlalu general.

Kegiatan akhir

Pada kegiatan akhir saya menyarankan guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk membuat sesuatu (self evaluation) yang memang menjadi kesimpulan dirinya. Dari sana kita bisa memantau sejauh mana siswa mencapai target yang sudah ditetapkan oleh guru di RPP.

Selanjutnya, buatlah sistem evaluasi yang holistik sehingga semua potensi siswa mampu dianalisa dan diapresiasi. Kalau evaluasi hanya mengedepankan kognitif, maka bersiap-siaplah akan kehancuran bangsa ini dari orang-orang yang tahu hukum namun tidak merasa bahwa hukum adalah bagian penting dalam kehidupannya.


Responses

  1. Wah Pak kayaknya output nya bagus ya. Cuma pengaplikasiannya yang butuh support banyak pihak. Mau tuh bantu2 buat library research. -Lita-


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: