Posted by: sopyanmk | 28/09/2008

Laskar Pelangi, realitas yang masih terjadi…


Kamis kemarin, saya menonton film laskar pelangi bersama istriku. Sungguh suatu pengalaman yang luar biasa. Saya merasa tidak bermakna apa-apa ketika melihat perjuangan Ibu Muslimah yang divisualkan sebagai guru dengan penuh keberanian, pengorbanan, dan pengabdian. Atau Pak Kepala Sekolah yang begitu kukuh memegang prinsip bahkan syahid di medan jihad. Rasanya, saat ini say hanyalah mahluk yang masih penuh dengan jiwa keegoisan dan belum melakukan apapun. Saya belum membuat anak yang sedemikian antusias pada waktu belajar. Belum mampu memotivasi anak yang dapat menunjukkan kreatifitasnya. Belum mampu membuat anak menjadi dirinya sendiri dan sadar bahwa ia harus belajar.

Saya baru bisa menyampaikan, baru bisa menjelaskan, baru bisa menunjukkan. Sungguh sebuah pembelajaran yang sangat luar biasa bahkan dibandingkan pada waktu kuliah untuk pengantar PPL. Kami diajarkan didaktik, metodik, serta setumpuk materi yang bisa digunakan untuk belajar walau malah tidak ada yang bisa disampaikan. Organisasi kemahasiswaan digeber habis dengan beragam organisasi dan pelatihan untuk menumbuhkan jiwa aktivis. Namun rasanya hampir tidak menemukan sebuah statement yang membuat semua mahasiswa rela melakukan apapun untuk melakukan pembelajaran yang menghasilkan siswa yang bisa membangun negeri ini dari keterpurukan.

Betepa jiwa toleransi mereka terbangun bahkan terus abadi diantara mereka. Tidak terbatasi oleh kekayaan, lokasi, dan agama. Sungguh kelas ideal yang pernah kulihat. Memang ada yang sekolah bagus tetapi iklim itu tidak pernah terlihat tulus. Bahkan jeleknya sudah sekolah apa adanya iklim antar siswanya jg jelek… naudzubilahimindalik. Semua guru harus menonton ini, semua orang harus belajar bahwa semua kesempatan selalu ada dan terbuka kalau kita mau menjalaninya. Lihat Lintang, dengan segala keterbatasan ia mampu menembus batas intelegensi di usianya hanya dengan membaca koran bekas. Lalu mengapa anak-anak yang fasilitas dan keadaan sosial ekonominya tidak sehebat Lintang?

Kita bisa menunjuk bahwa siswa saat ini bertambah malas, namun siswa juga bisa berkilah kalau ia malas karena pelajarannya yang disampaikan gurunya tidak ia mengerti. Guru saya galak dan tidak memberikan toleransi. Sepertinya titik temu itu tidak ada lagi. Ketulusan untuk saling memahami itu seolah terabaikan dan semuanya penuh dengan sikap curiga dan saling menyalahkan. Siswa hanya respek di depan muka, dibelakang hampir semuanya mencibir. Di ruang guru, yang ada hanya gunjingan guru yang menjelekkan salah satu siswa tanpa ada keinginan untuk merubah dan tahu asal muasal mengapa siswa itu begitu. Semuanya seolah hitam putih.

Kecerdasan guru dalam memberikan kepercayaan kepada siswa untuk memimpin karnaval sungguh luar biasa. Kepercayaan dan dukungan di antara murid-murid itupun timbul dan semuanya bertanggungjawab walau mereka tidak mengerti dan paham tujuannya. Komitmen akan tugas yagn diberikan guru itulah yang dilakukan. Tanpa interupsi dan intevensi rasanya saat ini mustahil. Guru selalu merasa yang paling hebat dan paling tahu. Jadi malu… jangan-jangan saya juga seperti itu. Guru selalu merasa orang paling tahu, paling pintar. Padahal… siswa sudah jago internet, sudah sering baca majalah ilmiah, bahkan informasi terbaru sering lebih dulu didapatkan. Bandingkan dengan guru yang baru bisa menguasai buku pelajaran semata.

Bayangkan ketika kepala sekolah dengan gayanya yang selalu membuat siswa penasaran bahkan mampu mengalahkan teriakan guru dengan kata “siapa yang mau belajar kisah nabi nuh yang membuat perahu paling besar di dunia?”. Siswapun berlari untuk belajar dan meninggalkan permainan. Atau bagaimana berkesannya ketika Bu Mus mengajak siswanya mengejar pelangi. Sungguh luar biasa. sutradara mampu memvisualkan bagian2 yang menyentuh itu. Membaca, menonton selalu ada perbedaan. Ada sisi emosional yang ditunjukkan. Ada sisi kekurangan yang menjadi terlihat dan jauh dari imajinasi pada waktu membaca. Namun semua itu adalah bagian dari sebuah kreatifitas.

Dari semua itu, setelah semua tetesan haru air mata. Rasanya kita semua harus jujur bahwa kita masih jauh tertinggal dalam pendidikan. Scene sekolah yang terlihat bukanlah masa lalu. Saat ini kita masih melihat, saat ini masih sangat banyak, saat ini masih banyak yang belum peduli, saat ini masih banyak omong kosong tentang pendidikan, saat ini masih banyak ketidak pedulian, saat ini masih banyak korupsi, saat ini masih banyak yang tidak setia dengan janji. Bisa kita mulai berubah….?

Spirit laskar pelangi bisa dijadikan momentum langkah bukan lagi omong kosong.

28 ramadhan 1429 H


Responses

  1. Wah.. Ternyata bpk yang satu ini udah duluan nonton Laskar Pelangi nih daripada Anton.
    Hehe😀

    Tapi Pak filmya beneran seru kan??
    soalnya anton dah baca novelnya berkali-kali dan emang ceritanya seru..
    Tapi, sampe saat ini lum bisa nonton cz trmakan waktu.
    Haha..

    Anton yakin pak, suatu saat nanti bapa kbisa merubah/menyongsong dunia pendidikan ini menjadi lebih-lebih baik dan kreativ..

    GooD Luck Ya pak….
    dan
    Sukses Slalu…

  2. Mudah-mudahan banyak hati yang tersentuh dengan film ini, supaya semangat memuliakan manusia dengan pendidikan tumbuh subur lagi di negri ini.
    Dengan begitu antusiasnya orang0orang menonton laskar pelangi, saya yakin harapan iru masih ada… Semangat yuk.. semangat.. Allahu Akbar!

  3. a mediocre teacher tells
    a good teacher explains
    a superior teacher demonstrate
    a great teacher inspires…

    laskar pelangi mencoba mevisualisasikan perjuangan hebat tidak hanya dari seorang guru yang penuh pengabdian, pengorbanan dan dedikasi sebagai guru, tapi juga murid-murid “pelangi” yang terinspirasi dengan kata-kata mengobarkan semangat dari sang kepsek dan kepercayaan bu Mus yang diberikan kpd laskar-laskar cilik mereka yang penuh semangat dan cita-cita, serta nilai-nilai akhlak dan budipekerti.

    Tentu ini menjadi tontonan educaktif yang mutlak disaksikan bagi mereka para pendidik, dan siswa agar mengambil pelajaran dari realitas yang ada di nusantara ini akan sebuah hak…pendidikan untuk semua. Semoga bagi mereka yang sudah terpenuhi segala kenyamanan dan fasilitas belajar dan mengajar dapat terus maju mendidik anak bangsa ini menjadi lebih cerdas, berakhlak dan berbudipekerti yang baik…

    Salut buat laskar pelangi!!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: