Posted by: sopyanmk | 28/08/2008

bagaimana SD di Jepang?


Ini hanya ingin memberikan gambaran di Jepang. Negara kaya, teknologi tinggi dan penduduk yang sedikit. Ini udah back ground yang jelas beda banget sama Indonesia. Tapi bukan berarti Jepang jadi negara dengan pola hidup pemboros, ada beberapa fakta yg simple dan mudah dilihat,

– zaman PM Koizumi, saat musim panas peg. kantor dilarang pake jas dan dasi, tp kemeja katun lengan pendek saja. Ini menghindari pemborosan AC. Coba aja ini masalah sederhana, masa sih nge hemat AC larinya ke pakaian? tapi ya da emang gitu pola pikir orang Jepang selalu dimulai dari hal yang sepele justru.Dan ini masihberlaku sd sekarang sekalipun PM nya udah ganti 2 kali
– Anak saya karena muslim, tdk bisa memakan makanan dari sekolah saat makan siang kecuali nasi dan susu murni, krn menu di sekolah tidak halal. paling jg tambah buah or jelly jika ada. Krn itu sy harus bikin bekal tiap hari. Nah saat puasa sangat repot, krn keburu dingin ketika dimakan jam 2 siang misalnya, krn anak masih taraf latihan ber puasa shg belum pol sd maghrib. Saya tanya wali kelas nya, kenapa makanan anak saya tidak bisa sekedar numpang di hangat kan? bukan kah punya microwave di Jepang itu hal yg umum? jawaban sang sensei sangat mengejutkan, Karena kami SD negeri kami tdk ada subsisi untuk microwave yg listriknya minimal 1000 watt. Sy bengong, masa sih? padahal dari segi bangunan nya aja, SD negeri di Jepun rata-rata besarnya mirip lahan dan bangunan sebuah universitas di kita.
– Lalu di play group anak saya ke dua. Setiap kran air selalu di tempeli di bagian atasnya dengan gambar “Mottainai obaachan” . Mottainai artinya sia-sia or percuma. Obaachan artinya Nenek. Nah pengertian yang dijelaskan pada anak play group sd TK Jepang oleh senseinya adalah, segala hal yang sifatnya menghamburkan atau membuang2 seperti penggunaan air yang terlalu besar ketika diputar lalu tdk rapat ditutup kembali, akan membuat marah nenek mereka nanti, begitu katanya.
– Lalu masalah sekolah. Setiap satu wilayah, misal nya. Wilayah Tamansari deket ITB, itu ada 1 SD negeri yang guede. Lalu semua anak yg tinggal di Tamansari sekolah di SD itu. Lalu semua anak sekalipun ortunya ber mobil harus jalan menuju sekolah itu. Cara berangkat bukan sendiri tapi per kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 6 orang yg rumahnya deketan, dg leadernya anak kelas 6 dan 5. Mereka wajib menjemput anak kelas 1-4 yg masuk ke kelompoknya.

Alasannya, menjaga agar tidak ada gap antara miskin dan kaya,krn tdk ada yg bermobil. Lalu semua ortu kebagian piket menyebrangkat sebulan 2 kali. Jadi gak heran kalo saya pas kebetulan kebagian nyebrangin dari arah kanan sambil make daster dan jilbabab, di sebrang saya ada ibu2 yang nyebrangin juga make stelan safari formal dan sepatu highheels yang mau kantoran tapi nyebrangin dulu..^-^

Dan tidak ada yang mangkir, karena tanggung jawab moral semua ortu pada prinsipnya adalah menjaga anak2 dari bahaya. Kalau ibu x mangkir maka dia harus siap jika ada ortu lain mangkir juga saat harus nyebrangin anak ibu x, lalu terserempet misalnya. Pemahaman itu ditanamkan terus pada kita sbg ortu.

Kesimpulannya, jumlah SD negeri wajib ada 1 di setiap wilayah dg luas dan fasilitas disesuaikan dg jumlah penduduk disekitarnya. Sehingga SD swasta itu keberadaannya bisa di itung pake jari. Karena selain mahal, memang sangat tidak umum menyeolahkan anak di SD swasta.

Wajib belajar di Jepang sama saja 9 tahun. Dan saat pembukaan kelas 1, sudah ada edaran sejak 3 bulan sebelumya, plus keterangan jika tidak mampu membayar uang muka maka di subsidi penuh termasuk uang makan dan sebagainya.

Uang masuk sektar 30.000 yen atau kalau dirupiahkan 2 koma 5 juta an. Itu aja sekali bayar. tapi setelah itu tiap semesteran dapet buku paket yang jenisnya se JEPANG sama semua. Dg kualitas kertas yang bagus (kalo yg ini bisa dimaklum wong negara kaya, tapi sistem menyamakan buku paket nya itu yg udah gak ada di kita). Jadi maaf tdk ada sekolah x kerjasama dg penerbit Y, dan sekolah Z kerjasama dg penerbit O.

Nah jadi, mengapa jumlah SD- SMA di Jepang tdk menjamur seperti di kita?, karena agar kontribusi masyarakat bisa terbagi dengan baik demikian pula kontribusi pemerintah pusat dan daerah.

Bisa jadi kita ber argumen, loh kan populasinya dikit gak kayak kita?.. Yah itu memang bener, tapi Jepang memang membuat sistem setiap daerah terpusat anak2nya sekolah di SD daerah tsb, agar PEMDA justru bisa memberikan jaminan yang optimal, dibanding puluhan SD di 1 wilayah, tapi gak tersentuh perhatian PEMDA or pusat.

Wallohu alam bi showab, ini hanya sekedar gambaran saja. Bukan berarti ini sample yang terbaik dan paling pas untuk semua negara, tapi hanya sekedar gambaran bahwa di Jepang, Hemat itu pendidikan moral yang wajib diterakan dari masalah sepele.

gitu aja deh kalo ada yg kurang tepat mohon di beri koreksi, maklum sy baru 6 th disini, dan wilayah research sy juga belum mencakup wilayah luar Nagoya tempat sy tinggal.

makasihh..
Nining


Responses

  1. Jepang disusun dan dilaksanakan programnya dengan penuh Tanggung Jawab. Kita di Indonesia hanya dengan penuh pertanggungjawaban.
    BEDA SEKALLLII
    Salam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: