Posted by: sopyanmk | 24/07/2008

Sejarah Imigrasi dan Perkembangan Penduduk Amerika (2)


Setelah diawali dengan sarapan pagi seperti biasa, kami berangkat dari Hotel menuju ruang di AED (Academy for Educational Development). Kami bertemu dengan Dr. Gary Weaver. Beliau menjelaskan mengenai sejarah amerika dan kebudayaanya. Dia menjelaskan materi fokus ke perkembangan kebudayaan di Amerika. Orang yang sangat santun, dia menjelaskan materi seperti alur cerita dengan deskriptif yang sangat kuat. Sehingga ketika kita dapat membayangkan  kejadian-kejadian di kota-kota yang disebutkan.

Pada saat dia menjelaskan, dapat terungkap betapa USA memberikan peluang sebesar-besarnya kepada setiap orang untuk datang dan berkembang di Amerika. Karena secara umum dengan cara itulah maka perekonomian terdongkrak. Dia bilang rata-rata para pendatang mau bekerja keras dan berhasil. Artinya income perkapita Amerika akan naik. Dia membandingkan dengan Jerman dan Jepang yang sedang kelimpungan karena hampir zero growth. Orang dewasa merasa tidak perlu punya anak. bayangkan seperti apa jadinya 50 tahun kedepan dua negara itu. Makanya sekarang Jepang mulai membuka keran buat imigrasi.

Mobilitas penduduk dari negara bagian ke negara bagian juga cukup tinggi. Dan itu jelas akan merubah peta perokonomian negara bagian tersebut. Namun rata-rata di tiap negara bagian ada spesifik core ekonomi yang cukup jelas. Misalnya di Texas dengan core bisnis minyak. Pada akhirnya setiap daerah akan maju secara ekonomi karena produk dari tiap daerah akan diperlukan di daerah lain. Mungkin bahasa kerennya seperti sentra bisnis. Saya juga membayangkan kalau saja di Indonesia mampu menciptakan seperti itu, mungkin ekonomi para pekerja kecil akan berkembang.

Misalnya para petani beras ya biarlah di Jawa, para penghasil kayu ya biarlah di kalimantan, para pembuat kerajina perak dan batik ya biarlah di Jogja. kalaupun ada di tempat lain itu jelas bukan dalam konteks industri besar. Saya tidak tahu apakah ini disebut proteksi? Tapi mungkin tidak seperti sekarang yang semuanya ada di tiap daerah tapi semuanya tidak berdaya ketika berhadapan dengan para pengusaha korporasi yang besar dan rakus.

Ada ide yang menarik dari perkembangan sejarah Amerika, rakyatnya sekarang sekitar 99% pendatang. Ini menjadi aset buat mereka, karena dalam konteks perkembangannya tidak ada seorangppun di Amrik yang merasa paling berkuasa. Kalau di Indonesia sering terjadi konflik antara pendatang dengan pribumi. Kaum pribumi yang malas jelas akan kalah dengan kaum pendatang yang sudah pasti akan berjuang sekuatnya untuk dapat survive dan sukses di tempat baru. Akibatnya, perkembangan ekonomi yang mulai berjalan hancur lagi dimakan kerusuhan atau ditinggalkan oleh kaum pendatang. Mungkin perlu kajian mendalam oleh para sosiolog dan antropolog di negeri kita untuk mengatasi dan meminimalisir hal itu.

Dia mencontohkan, di Belanda pemerintahnya memishkan antara kelompok satu dengan kelompok lainnya dalam pelayanan misalnya sekolah buat imigran afrika, rumah sakit untuk orang muslim dll,. Mereka menganggap hal litu akan meningkatkan kenyamanan. Ia bilang, betul akan nyaman tapi akan berapa lama bertahan. Dia bilang, bagaimana jika si anak tumbuh besar dan sudah saling berkenalan atau berkencan. Bukankah itu akan menyulitkan. Di Amerika semua harus mendapatkan pelayanan yang sama tidak ada pemisahan. Sehingga semua dapat beradaptasi dengan baik. Dan tempat untuk melakukan itu semua adalah sekolah.

Perjalanan selanjutnya adalah menuju ke gedung “Old Post Office” gedung yang cukup besar dan kantor pos pertama pusat pertama di Amerika. Waw… gedung yang sangat luas. Di sana ada kantor NEH (National Endowment for The Humanities). Di sana kami disambut oleh 6 orang staff ditambah suguhan kue yang sebelumnya tidak terjadi. Hmmm obrolan yang cukup ramah dan seru. Sehingga waktu 2.5 jam berlalu begitu cepat. Kami dapat beberapa informasi termasuk ada program fullbright untuk teachers exchange selama setahun.

Nah buat guru-guru silahkan cari informasi ke US Embassy. Dia bilang begitu. Sayang euy, nama-nama profesornya lupa. Kebanyakan orang dan susah melafalkannya. Tadinya mau lanjut nonton baseball. Tapi karena di prakiraan cuaca akan ada badai, gak jadi deh… sampe rumah jam 7 siang bolong (harusnya malam). Belum lagi mandi, mata sudah mengajak tidur beranjak ke alam mimpi. Malam bangun sebentar dan mendengar gelegar petir yang menakutkan.

Washington, Carlyle hotel Suites (24 Juli 2008)


Responses

  1. Thank You


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: