Posted by: sopyanmk | 15/07/2008

Susahnya Dowload Buku Sekolah Elektronik


Inginnya malam ini memberikan kado terindah dengan cepat untuk anak saya yang baru masuk kelas 3 di SD Negeri di daerah Kemang Bogor. Setelah hari pertama ia pulang sedih karena tidak kebagian kursi yang layakakibat rebutan kursi. Payahnya guru tidak memberikan support pada anak yang memang belum mendapatkan tempat duduknya. Aneh ya, bagaimana mungkin mereka mengajar dan berbicara kepada murid dengan nyaman sedangkan ada anak yang belum nyaman di kelas. Tapi itu pilihan, saya hanya bisa mendukung anak saya bahwa semua itu pasti ada hikmahnya.

Anak saya berurai air mata dan bercerita bahwa ia sudah dapat tempat duduk duluan (ia tidak diantar ke sekolah karena ayah dan ibunya juga ngurusin hari pertama di sekolah masing-masing. Duh nasib anak guru….😦 ). Ternyata tempat duduknya disuruh pindah oleh orang tua yang dengan gagah perkasa menunjukkan kehebatannya kepada anak kecil. Anak saya jelas ketakutan dengan intimidasi seperti itu dan dia bercerita beberapa kali pindah terusir. Huh… mau marah sama gurunya, tapi gimana ya caranya…?

Akhirnya dibujuk untuk tetap tegar dan meyakinkan bahwa tidak diantar dan tetap survive adalah kehebatan yang tidak bisa dibeli dengan mudah. Mungkin kecewa karena hanya kebagian sepotong kursi (sekursi berdua), tapi lebih berarti dan bisa melihat betapa anak lain tidak bernyali walaupun laki-laki. Kalau masalah alasan sih guru memang ahlinya kali ya…🙂. Dalam tangisannya ia pun berharap ibunya jadi ibu rumah tangga saja jangan jadi guru sehingga akan mengantar ke sekolah, menjemput, atau ikut rebutan bangku. Duh… kalau ini bikin miris juga… abis gimana ya. Tapi, harapan anak adalah suci dan tulus. Penjelasan adalah kata kuncinya. Walau alot, dia mengerti hanya saja harapan itu sepertinya terus menerus diucapkan.

Nah… untuk meredamnya saya janji akan download buku pelajaran dari http://www.bse.depdiknas.go.id dan akan di print. Dijanjikan bahwa buku itu boleh dibawa ke sekolah untuk ditunjukkan kepada guru dan teman-temannya. Biar gurunya tahu kalau ayahnya bisa dapat sumber yang tidak harus beli. Tapi, biasanya anak saya minder kalau gak beli dari sekolah. Takut katanya, apa iya guru menakutkan bagi siswa ya?

Diperjalanan download, waduh ribetnya karena memang harus per bab dan diformat dalam zip. Pertamanya dengan polos ditungguin satu-satu. Selesai satu download maka baru proses satu bab lagi. Dipikir-pikir gawat nih sewa internet bisa jebol (emang udah jebol terus menerusssssssssssssssssss). Akhirnya coba download beberapa bab sekaligus. Hasilnya? Lambat buanget euy!!!!

Walah… tinggal bab 8 IPA, kapasitasnya emang berat banget sampe 190.7MB. Ini pasti lama banget bahkan saya bingung ngapain lagi sambil nunggu padahal ini sudah 11.30 lewat. Hmmm demi anak, apapun dilakukan, bukan begitu? (Aa gym banget ya) Error nih udah malam.

Namun ada yang menarik, saya penasaran bidang studi apa yang ada. Ketika search… alhamdulillah buku yang tersedia baru sedikit. Atau… jangan2 saya yang rada bloon nih gak bisa cari yang bener. Ah nunggu yang koment aja ntar juga pasti ada jalan. bagi para reader, tolong ya kasih tahu mau cari buku IPS, bahasa sunda, bahasa Inggris, dan PKn. Padahal kalau PKn langsung aja sama bapaknya ya. Hihi bikin malu, nilai PKn anaknya ternyata hanya 7. Padahal ulangan hariannya 90an. Jadi bikin kesel, saya bingung dengan standar penilaian di sekolah negeri… swasta juga kali ya… mau bikin pelatihan evaluasi belum ada donatur yang mau. Ayo dong donatur, saya mau ajarin system evaluasi buat guru-guru di Kemang Bogor. Deket sih kejakarta, tapi ya tetep saja gitu gak ada bedanya dengan yang di daerah terpencil lainnya.

Memang selalu tidak mudah untuk mendapatkan kesenangan hati itu ya.

Salam perubahan


Responses

  1. Pak, mau konsul nih,saya masih bingung mengenai inovasi dalam pendidikan untuk merangsang anak supaya mau belajar tetapi tetap dalam jalur ktsp, kebetulan selama saya mengajar saya mengharamkan proses kekerasan tetapi anak-anak didik saya malah cuek karena mereka merasa bahwa pelajaran saya terutama saya sendiri merasa bahwa mereka tidak perduli terhadap pelajaran saya dan ogah-ogahan, nah kira-kira bagaimana cara menghadapi anak2 seperti tetapi masih tetap diluar paksaan,jadi istilahnya anak berinisiatif sendiri mau belajar tanpa terpaksa

  2. Mas Egi, jadi malu nih dimintai konsul🙂. Komentar saya adalah bagaimana menyiasati KTSP dalam konteks yang lebih modern. KTSP tidak diartikan buku paket tapi KTSP diartikan sebagai peluang untuk melakukan eksplorasi dengan kegiatan2 yang menantang dan merangsang anak untuk terus menunjukkan segenap potensinya.

    Saya mengerti konteks anti kekerasan yang diusung Mas Egi, namun bukan berarti pada waktu mereka ogah-ogahan tidak ada sanksi. Apapun yang terjadi semua ada aturannya. Kamu hebat karena mengerjakan semua tugas dan kamu mengapa tidak mengerrjakan tugas. Kalau mereka cuek dan tidak mendapatkan sanksi yang sesuai, maka anak jelas akan kehilangan respek dan tanggung jawabnya.

    Saran saya adalah kita harus buat rule selama mengikuti pembelajaran semuanya dengan konsekuensi. Toh tugas kita bukan hanya sekedar menyampaikan apa yang harus disampaikan (karena itu mirip radio), tapi kita punya tanggung jawab bagaimana murid kita dapat memahami dan menjadikan apa yang dia pelajarinya bisa berguna di masa yang akan datang.

    Sebetulnya dengan kegiatan dan project yang variatif anak dapat dipastikan akan tertarik. Nah bagaimana untuk menjadikan KBM KTSP menarik dan menyenangkan, semuanya bisa didapatkan di pelatihan atau surfing dari internet. Satu hal, kita harus berani melakukan eksplorasi dan jangan takut gagal dalam melakukannya.

    Salam perubahan,
    Sopyan

  3. Salam.
    saya sangat terharu membaca milis ini,dan saya salut pada pak sopyan yang bisa memberikan nuansa/wawasan pada anaknya ttg arti sebuah kemandirian. Mudah-mudahan dg ini orang tua bisa jadi lebih bijaksana dalam membimbing anak dam menghadapi suatu permasalahan. Maju terus pak guru,

  4. Allahu akbar,
    kang sopyan, cerita ini sangat menyentuh karena seorang anak yang sudah punya hak duduk tetapi dikalahkan oleh kuasa orang tua pengantar. parahnya lagi, koq gurunya tidak menunjukkan empati. Bukankah empati iyu bagian dari sikap kita yang harus kita aplikasikan? Bukankah guru sebaiknya memberikan dorongan kepada anak yang jelas sudah berhak duduk? Prilaku apa lagi yang sedang melanda para orang tua murid dan guru di negeri ini?
    Smile.
    Diding

  5. Drama menunjukkan bahwa “kursi” itu mahal bu dan sedari kecil anak HARUS dibiasakan berebut “kursi”,hehehe. Ikut prihatin bu. Tapi ikut bangga bu anaknya belajar mandiri.
    Kalau saja jumlah kursi = jumlah calon siswa.
    Kalau saja guru dan kepala sekolah mengatur sejak hari pertama anak sekolah.
    Kalau saja guru datang dan masuk kelas lebih awal untuk mengatur.
    Kalau saja orang tua sadar bahwa ‘kekuasaan’ mengatur tempat di kelas ada pada guru
    Kalau saja orang tua sadar bahwa yang sekolah itu anaknya bukan orang tua nya
    Kalau saja tidak ada kursi kelas satu yang “dilelang”.
    Kalau saja anak sejak dini diajar ‘mandiri’ untuk berbaris sebelum masuk kelas
    Kalau saja …..
    Salam

  6. Bisa-bisanya ada sekolah yang kekurangan bangku? Sebaiknya dipecah
    saja kelasnya supaya lebih nyaman untuk belajar.🙂

  7. Salam kenal Pak Sopyan,

    Di sekolah anak kami terjadi hal yang sama -rebutan kursi-, baru kelas 1 tahun ini. Cuma sama bundanya “dibiarkan” mandiri cari posisi sendiri, kemarin keluar kelas karena tidak kebagian kursi hari ini kebagian kursi paling belakang tapi akhirnya dipindah ke barisan paling depan oleh ibu gurunya.

    Jadi ingat masa sekolah dulu, posisi kursi secara rutin dirolling oleh guru. Kenapa sekarang harus ada acara rebutan? dan saya liat di Trans TV beberapa hari lalu di Brebes orang tua sampai datang jam 4 untuk “booking” kursi anaknya di kelas. :((
    Apa separah itu?.

    nuhun
    Ii

    Bukan “guru” di sekolah tapi Insya Allah peduli dunia pendidikan, anggota pasif milist SD Islam.

  8. Terharu…
    Bapak yang baik nih…

  9. Saya mendukung dengan penuh kebanggaan, segala kegiatan yang dilakukan Kang Sopyan MK Spd.salam saya untuk semuanya ….semoga kita bisa bertemu Di Makkah dan melakukan hajji bersama di Tahun ini.Amien…thank Luki Lukmantara From Saudi Arabia

  10. Buat Pak Sopyan:

    Coba Anda download buku-buku tersebut dari server Kambing-nya UI di http://kambing.ui.edu/bse/pdf/

    Insya Allah buku yang Bapak perlukan ada di sana semua.

  11. wow… makasih Mas

  12. Lukman apa kabar? gimana di Mekah? Duh kangen euy apalagi waktu Bapak Pilin dirawat, butuh pisan temen diskusi buat mutusin perawatan. Kalau mau online, sms dulu aja ya

  13. Ternyata bersekolah di Bogor sama juga dengan di Makassar ya, harus rebutan. Anak saya yang naik kelas enam, pada hari pertama sekolah minggu lalu juga minta diantar supaya cepat tiba di sekolah, katanya mau rebutan kursi, kecian deh anak-anak sekarang. Pengalaman ayahnya yang bersekolah di tahun 70-an yg gitu2an diatur ibu/pak guru, jadi tidak ada yang rebutan, yang kecil-kecil di depan dan agak besar di belakang, aman kan.

  14. jangan kan sekarang pak….
    dulu aja saya waktu SD begitu juga………..
    kira 2 taun 1993……….
    ternyata ampe sekarang ponakan saya juga kaya gitu………….
    mungkin hal ini sudah menjadi tradisi sekolah………
    sangat disayangkan jika guru2 SD tidak menanggapi hal ini……..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: