Posted by: sopyanmk | 03/05/2008

Apa yang dicari guru pada Hardiknas?


Apa yang dicari guru? Gaji tinggi? popularitas? Disayangi anak murid sehingga rela membiarkan anak-anak menyontek pada waktu ulangan? Prestasi prestisius dengan lulus sertifikasi walau minjem sertifikat dari mana-mana? Apakah mutu pendidikan semakin tinggi saat ini? Hmmm ternyata untuk meluluskan anakmuridnya saja sudah sedemikian berat rasanya. Guru yang harusnya menjadi motivator bagi siswanya bahwa mereka mampu mengerjakan soal malah menjadi orang yang sangat tidak percaya diri. ketakutan akan kegagalan siswanya menjadi bayang-bayang gelap dalam karir sang guru yang kebetulan di UN kan. Akibatnya, Densus 88 pun menjadi aktif dan memperlakukan guru sebagai seorang teroris. Padahal para koruptor saja bisa ditangani KPK. Ujian nasional? Densus 88 man!!!!😦

Fakta ini mengejutkan dan menimbulkan trik-trik lain. Bayangkan begitu ketakutannya guru disadap tim densus 88 banyak sekolah yang menutup rapat pintu informasi untuk publik. Padahal, mereka lebih canggih dan tidak mudah dipatahkan kemampuan operasionalnya oleh akal sang guru. Sudah pantaskah guru diperlakukan demikian?

Mulai banyak orang yang menyalahkan pemerintah, ada juga yang menyalahkan murid yang memang kelihatan seperti hilang motivasi ketika berada di sekolah. Anak-anak terlihat jenuh dan enggan untuk belajar. tugas dikerjakan hanya asal-asalah, teknik copy-paste semakin menggila. Kalau mau memeriksa LKS atau pekerjaan siswa sangat mudah saat ini. Cukup ambil sample satu lembar dari satu anak, periksa, dan berikan nilainya untuk semua anak. Mengapa demikian? Karena 99% jawaban anak akan sama semuanya seisi kelas atau semua paralel kelas. Mau bukti?

Pernah saya melakukan dialog dengan siswa dengan beberapa pertanyaan.

  1. Tunjuk tangan jika kalian pernah masuk TK! 95% anak-anak tunjuk tangan.
  2. Tunjuk tangan jika kalian selalu percaya diri dan mau menjawab semua pertanyaan guru! 100% anak-anak tunjuk tangan.
  3. Tunjuk tangan jika kalian selalu berebut untuk tampil di depan! Semua anak tunjuk tangan.
  4. Tunjuk tangan jika kalian masih melakukannya waktu SD! Semua anak tidak ada yang tunjuk tangan.

Saya mengingatkan kepada mereka dengan dua pilihan. “Mana yang lebih baik belajar kalian, apakah waktu di TK, SD, atau SMP?” Mereka semuanya menjawab waktu TK. Pertanyaan selanjutnya adalah “Apakah kualitas belajar kalian semakin maju atau semakin mundur?”. Jawabannya sudah bisa di tebak. Ketika ditanya “Apa yang menyebabkan kalian mundur?” Anak-anak menjawab takut… peraturan guru TK berbeda dengan guru SD dan SMP. Pelajaran lebih susah, jam pelajaran banyak, dan persaingan semakin ketat.

pertanyaan saya berikutnya adalah “Memang di TK pelajarannya gampang? memang di TK tidak ada persaingan?” Bukankah semuanya ada dalam kapasitas yang berbeda. Jadi guru harus bekerja keras untuk mencari solusi bagaimana mengembalikan motivasi anak-anak untuk lebih aktif, percaya diri, ekspresif, dan siap menjadi pejuang untuk hidupnya.

Bayangkan generasi 10 tahun kedepan jika mereka disiapkan dengan fase mencontek, fase rendah diri, fase ketakutan dan stress. Apakah mungkin bisa bertahan?

Jadi ritual 2 Mei buat saya menjadi asing dan tidak tahu apakah hanya seremonial? Saresehan? Lokakarya? Mungkin kita perlu gerakan untuk maju kedepan bersama-sama. Banyak sekali guru yang mengajar puluhan tahun, tapi banyak diantara mereka hanya punya pengalaman setahun. Tahun berikutnya sampai saat ini hanya mengulang,mengulang, dan mengulang!!!

Ayo berubah bersama-sama menyiapkan generasi hebat di masa yang akan datang.

Salam perubahan.


Responses

  1. MOhon ijin untuk memuat tulisan anda di weblog saya…., semoga berkenan

  2. Sangat sepakat, mari kita ubah paradigma lama-guru (wagu-saru,minggu-turu, dst..) ke guru (..?..)

    ? itu apa ya pak Sopyan.. ?🙂

  3. Sebuah refleksi yang bagus tentang peran dan posisi guru di kelas. Keep writing Pak Sopyan!
    Salam
    Satria

  4. Mas Sugeng, saya tidak mengerti bahasa Jawa :)) jadi mohon “petunjuk” untuk mendapatkan pencerahan tentang hal itu🙂.

  5. Saya setuju kang, paradigma guru harus berubah. tapi banyak yang nggak sadar lho, bahkan kalau diajak diajak diskusi tentang bagaimana mengajar saja sudah menghindar. Kalau kita renungkan sebenarnya setiap anak itu punya fitrah sebagai pembelajar : banyak bertanya tentang hal-hal baru yang mereka nggak tahu, tapi begitu bersekolah malah fitrah sebagai pembelajar itu lama-lama padam karena layanan guru yang nggak tepat. Jadi guru (sebagian) bukan mendidik dan mengembangkan potensi malah (maaf) membunuh potensi.

  6. Ada sebuah kisah yang menurut saya cukup menarik. Kisah tersebut saya dapatkan dari internet (maaf sumbernya lupa) yang dapat dijadikan sebuah renungan bagi kita seorang guru.

    KISAH SEBUA POT
    Alkisah, seorang ayah memiliki pohon bonsai yang ditanam dalam sebuah pot. Begitu sayangnya terhadap tanaman tesebut, sang ayah merawat dan menyiraminya setiap hari. Suatu ketika sang ayah jatuh sakit, maka dia memanggil anaknya dan berkata “ Nak, tolong sirami pohon di pot itu ya?”. Si anak menuruti pesan ayahnya untuk menyirami pohon bonsai tersebut. Hingga tibalah umur si ayah, ketika menjelang ajal dia berpesan kepada anaknya, “Nak, tolong kau rawat tanaman di pot itu?” pintanya. Lalu meninggalah si ayah itu. Si anak melanjutkan pesan ayahnya dengan baik. Setiap hari ia merawat dan menyirami tanaman di pot itu.
    Waktu terus berlalu, dan si anak kemudian menjadi seorang ayah. Dia pun memiliki seorang anak. Setiap hari si anak melihat ayahnya menyirami pot. Tak lama kemudian meninggal juga si ayah ini meninggalkan seorang anak yang berbakti. Sepeninggal ayahnya, si anak ini ingat bahwa ayahnya dulu sering menyirami tanaman di pot itu. Maka dia pun melanjutkan dengan terus merawat dan menyirami tanaman di pot tersebut.
    Waktu berlalu,si anak pun tumbuh dan menjadi seorang ayah. Kemudian, dia pun memiliki seorang anak. Ketika ajal menjemput, sang ayah berpesan kepada anaknya, ”Nak, kakekmu dulu mewariskan tanaman itu dan beliau amat menyayanginya. Tolong kamu jaga dan merawatnya, ya?” Lalu sang ayah meninggal dunia, meninggalkan seorang anak yang berbakti. Namun sayang, suatu ketika si anak pergi keluar kota cukup lama. Dan ketika kembali pulang, tanaman di pot itu telah mati sehingga daunnya bergeguran dan tinggal hanya seonggok tunggul batang kering. Namun, si anak ini tetap mengingat pesan ayahnya, maka dia sirami tunggul batang kering itu setiap hari.
    Si anak kemudian menjadi seorang ayah. Dia pun memiliki anak yang berbakti. Dia melanjutkan pesan ayahnya dulu kepada anaknya, ”Nak, kakekmu mewasiatkan agar kita menjaga pot ini. Siramlah setiap hari.” lalu tibalah ajalnya, dan anak yang berbakti itu melanjutkan menyirami pot itu. Setelah lama waktu berjalan, tunggul pohon mati dalam pot itupun lapuk dan akhirnya musnah. Tinggallah pot itu tanpa tanaman. Namun, si anak tetap menyirami pot itu dengan penuh kekhusukan.
    Akhirnya dari generasi ke generasi, keluarga itu terus mewariskan tradisi menyiram pot keramat itu.

    Itulah gambaran yang sering terjadi di kehidupan kita. Baik menyangkut ritual keagamaan, pendidikan, sosial dan budaya. Kita terkadang menyiram pot tanpa tahu maknanya. Padahal menyiram pot akan berguna bila di dalam pot itu ada tanamannya. Kita mengajar terkadang hanya meneruskan tradisi yang sudah ada. Kita terkadang tidak tahu apa makna mengajar itu yang sebenarnya. Mari kita cari tahu apa makna mengajar yang sesungguhnya. Bila kita tahu makna mengajar yang sesungguhnya , insyaallah kita akan dapat menyiapkan generasi hebat di masa yang akan datang.

  7. Edit alinea terakhir:
    Mari kita cari tahu apa makna mengajar yang sesungguhnya. Bila kita tahu makna mengajar yang sesungguhnya , insyaallah kita akan dapat menyiapkan generasi hebat di masa yang akan datang.

  8. Salam kenal dari Sigit.
    Apakah Hardiknas adalah juga Hargunas (Hari guru nasional)?

  9. ah andaikan pemikiran guru2 seperti k”oyan, InsyaAllah dunia pendidikan kita maju. mmh…btw miris liat kenyataan di tempat saya kerja skrg orang lebih bangga sekolah dgn embel2 Internasional, BIS (Bandung Internasional School),SIS (singapura Internasional School), Mutiara Nusantara, BPK kelas Internasional….. wah2 ada apa ini???belum sekolah domestik yang muatan plus2…tau ga Di BIs bayaran Playgroup, I bulan 6 jt rupah (gila..). Padahal profesor2 kita sekolah dasar, menengah ke atas pada sekolah muatan “negeri”. Saya termasuk penganut paham anak2 dari Playgroup sampai SMU lebih ideal diberikan pelajaran “nasional?muatan lokal”,paham agama,&budayanya sendiri. Sudah besar terserah…kalo pinter ya bisa cari beasiswa ke luar negeri. Cerdas itu sudah ada dalam diri anak, semua anak sudah punya kapasitasnya sendiri. Sekolah hanyalah fasilitator bgmn kecerdasannya itu bisa terasah&optimal. So, mendidik anak bangsa bukan semata-mata tanggung jawab sekolah.TAPI tanggung jawab ORTU di rumah, eX : Bagaimana anaknya mau suka baca, ortunya juga ga suka, gmn anak musti cas cis cus berbahasa Inggris, ortunya buta sama sekali berbahasa ini, so budayakan anak untuk ” suka belajar ” dan belajar “bukan paksaan”…

    sory kalo kurang berkenan, just my opinion:)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: