Posted by: sopyanmk | 14/02/2008

Sekulerisme dalam Kehidupan Ekonomi


Karya ini adalah hasil tulisan Sahabat J. Arifin M.MA.

Suatu waktu seorang teman pernah mengeluh bahwa ia tertipu oleh rekan bisnisnya. Padahal, kata kawan tersebut, rekan bisnisnya adalah seorang haji dan selalu taat beribadah sehingga ia percaya saat bertransaksi dengannya. Karena kejadian yang menimpa kawan saya itu tidak hanya sekali, akhirnya ia berkata bahwa ia lebih senang berbisnis dengan orang keturunan daripada dengan pribumi.

Persoalan di atas merupakan gambaran dari keadaan umat Islam bangsa ini dalam berperilaku ekonomi. mereka taat menjalankan aspek ritual islam bahkan mengenakan juga simbol-simbol Islam, namun mengabaikan syariah dalam perilaku ekonominya. Sebagian mereka malah menganggap usaha ekonomi tersebut sebagai ibadah hanya karena hasilnya dipergunakan untuk menghidupi keluarganya atau dipakai untuk berhaji. Padahal, dalam Islam sesuatu baru disebut ibadah bila sesuai dengan konsep dan syarat-syarat ibadah.

Hal demikian disebabkan masih banyaknya kalangan umat  yang melihat Islam secara parsial dimana Islam hanya diwujudkan dalam bentuk ritualisme ibadah semata dan menganggap bahwa Islam tidak ada kaitannya dengan dunia perekonomian. Bahkan yang lebih parah lagi mereka beranggapan bahwa Islam dengan sistem nilai dan tatanan normatifnya sebagai penghambat majunya perekonomian, sebaliknya kegiatan ekonomi dan keuangan akan semakin meningkat dan berkembang bila dibebaskan dari nilai-nilai normatif dan ketentuan Ilahi.

Sikap yang memisahkan antara agama dengan sebagian aspek kehidupan manusia disebut sekuler. Faktanya, sekulerisme – baik dalam cara pandang maupun kenyataan hidup sehari-hari – merupakan bagian tak terpisahkan dalam keadaan umat Islam dewasa ini. Panjajahan yang panjang yang diderita umat Islam menyebabkan inferiority complex (perasaan rendah diri), dan kemudian mengambil pola hidup masyarakat penjajah yang malah sebenarnya makin membenamkan umat Islam sendiri ke jurang kehinaan dan kemiskinan.

Dari asas sekularisme inilah, seluruh karakter bangunan ekonomi non Islam ini diarahkan kepada hal-hal yang bersifat materi dan menafikan aspek ruhiyah serta keterikatan pelaku ekonomi pada nilai-nilai halal dan haram (baca: syariah) dalam perencanaan, pelaksanaan dan segala usaha untuk meraih tujuan-tujuan ekonomi. Kalaupun ada nilai-nilai etika didalamnya, maka itu tidak ada kaitanya dengan dosa dan pahala.

Berbeda dengan ekonomi non Islam, ekonomi Islam dikendalikan oleh aturan halal dan haram baik bukan hanya dari segi pemanfaatan, namun juga dari cara perolehannya. Oleh karena itu ekonomi Islam tidak hanya mempunyai tujuan materi namun juga mempunyai tujuan yang lebih mulia, yaitu beribadah untuk mendapatkan ridha Allah. 

Ekonomi Islam sebenarnya lahir dari kenyataan bahwa Islam adalah sistem yang diturunkan Allah kepada seluruh manusia untuk menata seluruh aspek kehidupannya dalam seluruh ruang dan waktu. Tidak ada satu aspek pun dalam kehidupan manusia baik itu individu, keluarga, negara, sosial, politik, ekonomi, militer maupun spiritual, melainkan Islam telah memberikan penjelasan dan ketentuan yang khas. Sistem Allah ini tidak terbatasi oleh geografis dan  tidak akan lekang oleh zaman. Artinya di manapun, dalam kondisi dan zaman bagaimanapun syariah Islam akan selalu cocok dan harus dilaksanakan.  

Zat yang menurunkan sistem tersebut adalah Zat yang telah menciptakan manusia beserta alam semesta, ruang dan waktu dimana manusia menjalani kehidupannya. Dengan begitu, berbeda dengan sistem lain, sistem Islam ini melahirkan kesesuaian dan kebenaran mutlak yang menempatkan manusia pada fungsi dan tugas yang sebenarnya. Karakteristik sistem Islam lainnya adalah ia merupakan konsep utuh dan sempurna yang satu dengan lainnya tidak bisa dipisahkan. Islam tidak mengenal keberpihakan pada salah satu aspek kehidupan dengan mengabaikan aspek lainnya. Memotong salah satu bagian dari Islam tidak akan menjadikan Islam sebagai Islam yang sempurna. Bahkan beriman kepada sebagian dan mengingkari sebagian lainnya dari Islam akan membawa kepada kehinaan. Sikap demikian tidak akan membawa kepada kemuliaan dan kebaikan bagi umat Islam sebagaimana firman Allah, ”Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-kitab dan ingkar kepada sebagian lainnya? Tiadalah balasan kebaikan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang amat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. Al Baqarah : 85.

Dengan melihat karakter yang dimiliki, ekonomi Islam hanya dapat hidup secara ideal dalam tatanan sistem dan lingkungan yang islami pula. Dalam lingkungan yang tidak islami, sebagaimana yang kini terjadi, disadari atau tidak, suka atau tidak suka, pelaku ekonomi akan mudah sekali terseret dan sukar berkelit dari kegiatan yang dilarang agama. Mulai dari uang pelicin saat perizinan usaha, menyimpan uang dan mendapatkan kredit dari institusi ribawi, hingga iklan yang menyesatkan, dan lain sebagainya.

Namun tentu saja hal tersebut tidak menjadi aspek legalitas  atau pembenaran berbisnis non syariah. Sebagaimana firman Allah dalam Annisa : 97 yang menyatakan bila kondisi tatanan tidak memungkinkan untuk beribadah, maka Allah menyuruh untuk berhijrah kepada tatanan sistem Islam yang kaafah.

Wallahu a’lam

Abu syafiq

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: