Posted by: sopyanmk | 08/01/2008

Hijrah, Sebuah Sunatulloh


Tulisan ini dipersembahkan untuk saudaraku kaum Muslimin dan Muslimah serta seluruh manusia yang berkesempatan membacanya. Semoga hidayah dan berkah hijrah dapat menjadi wasilah bagi kita untuk mencapai derajat taqwa. Kita ini adalah mahluk hina yang semakin sombong, betapa tidak kini manusia bisa meniru burung terbang bahkan lebih dahsyat lagi, manusia juga bisa meniru jaguar sang pelari ulung bahkan jauh lebih cepat lagi, manusia sekarang bisa menyelam ke dasar terdalam lebih hebat dari ikan, namun sayang manusia ternyata menjadi kesulitan dan kehilangan jatidirinya untuk menjadi dirinya sendiri selaku hamba Alloh SwT. Semoga renungan ini bisa melecut hati dan meregang akal akan kesombongan yang sudah dilakukan selama ini.

Tulisan ini pun dipersembahkan bagi Baginda Rosululloh SAW tercinta, semoga tulisan ini menjadi shalawat dan tanda cinta dari seorang hamba. Amin.
!--more--

Saat ini firman Alloh yang sering kali dilupakan seolah-olah menjadi asing dan tidak bermakna. Manusia semakin tenggelam dalam gelimang dosa dan maksiyat yang tidak terperi. Segala macam dosa dan kenistaan terlihat dengan jelas dan terang-terangan, bandingkan dengan aktifitas pengajian yang harus bersusah payah untuk mencari tempat yang layak dan nyaman. Sungguh berbanding terbalik dan ironi. Pemanasan global dianggap sebagai fenomena alam biasa. Mungkin manusia lupa bahwa segala yang terjadi di muka bumi ini tidak ada yang kebetulan, ini semua tanda-tanda dari Alloh. Bisa jadi ini hanya peringatan, bisa jadi juga ini tanda-tanda azab dari Alloh atas keserakahan manusia. Manusia menjadi bingung dan kehilangan arah, sehingga manusia menjadi lemah dan mudah terbujuk oleh iming-iming Iblis laknatullah yang menyamar menjadi orang-orang sombong yang menganggap dirinya sebagai jelmaan atau titisan dari Tuhan… Entahlah, itu tuhan yang mana.

Derita manusia semakin tak terkira, kesusahan ditambah penipuan, ditambah bonus banjir dan longsor, puting beliung seolah tiada lagi cara untuk menggapai bahagia. Jalan pintas semakin jadi alternatif untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang sesat. Memuja setan dengan meminta bantuannya demi segenggam harta, menggadaikan iman ke orang yang mau menggantinya dengan kepingan rupiah dan tumpukan makanan, tak jarang manusia rela menyerahkan harga dirinya demi kesenangan semu. Lebih ekstrim? Bunuh diripun bahkan sekeluarga telah dianggap menjadi solusi keluar dari kesulitan.

Kemana kita harus pergi?

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 2:218).” Jika kita mau sebentar mabit (kontemplasi) dan kembali merenungkan kembali langkah-langkah kita sebagai insan yang memegang amanah khalifah, tidak ada salahnya merenungi lagi firman Alloh SwT tentang hijrah. Tidaklah bisa dipungkiri, untuk solusi hidup manusia hanya Hijrah dan hanya Hijrahlah yang bisa dibuktikan secara ilmiah dan memiliki saksi dan data yang paling akurat dalam menyelamatkan peradaban manusia. Qur’an sebagai satu-satunya buku panduan manusia untuk menjabat kholifah tentu tidaklah terbantahkan kebenarannya. Jika masih meragukan, pertanyaannya akan berdampak kepada keimanan kita sendiri. Terserah kita mau menterjemahkan apa kata hijrah, tapi intinya Hijrah adalah solusi untuk keluar dari kenistaan.

”Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong (mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. (QS. 4:89)”. Sudahkan kita jujur betapa agen-agen yang ingin memurtadkan kita semakin bertambah banyak dengan taring-taring tajam serta moncong yang siap menyongsong keimanan kita ketika kita lemah. Mereke ingin kita kafir dan sama bejatnya dengan mereka, coba tengok itu semua di rumah kita. Televisi, dvd, komputer, internet, handphone, serta segala macam aksesoris terus menerus mengancam. Beragam cara dan metode terus berkembang, ada yang terang-terangan ada juga yang menyarukan kepada kenikmatan duniawi semata. Mereka tetap akan mecacah kita kapanpun kita lemah dan tertinggal dari Quran dan Jamaah. Kita harus bangkit… kita harus keluar dari kubangan dosa ini kita harus melawan dengan segenap daya dan upaya kita, kita harus berhijrah untuk bersama-sama meraih kemenangan

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali, (QS. 4:97) Coba kita renungkan kembali firman Alloh di atas, Alloh sudah mengingatkan kepada kita bahwa tidak ada alasan bagi kita untuk berkata bahwa kita ini tidak berdaya atas kezaliman, keserakahan, dan kerakusan manusia kepada kita. Kita tidak bisa melakukan apapun…? dari ayat ini kita harus malu, karena alasan inipun tidak akan diterima oleh Alloh sampai kita berhijrah dan keluar dari kondisi yang menyesatkan ini.

”Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.” (QS. 3:195)” Hijrah dalam konteks ini adalah bisa bermakna banyak, intinnya adalah bahwa hijrah adalah sebuah manifestasi dari keinginan manusia untuk melakukan hal yang lebih baik dalam menjalan tugas suci Alloh sebagai khalifah. Caranya, Insya Alloh semua sudah terurai dalam mutiara quran dan uswah yang tak terbantahkan dari para Nabi. Pertanyaannya adalah… apakah kita sudah memiliki komitmen untuk hijrah… (bersambung)


Responses

  1. Salaam. Wah, betapa indahnya jika kita telah mencerap spirit hijrah. Semoga kita termasuk ke dalamnya. Btw, tapi ada sedikit yang rada-rada mengganjal nih, Kang…..Kenapa umat memperingati hijrahnya Rasulullah SAW dan para Sahabat di bulan Muharram, padahal kan mereka hijrah dari Makkah ke Yatsrib or Madinah itu bulan Rabi’ul Awwal ?

  2. terima kasih tulisannya pak
    semoga momen tahun baru, bisa dijadikan momen untuk hijrah bagi kita semua amin

  3. Pak Uy atau Bu Uy! terima kasih sudah berkenan mampir, mungkin tidak ada salahnya kita mulai sharing dan berbagi informasi. Semoga hal itu bisa menginspirasi

    Salaam

  4. Salaam juga Dindin, wah kita harus transfer dara research nih… aku mau publish lagi, mungkin aku juga gak ngeh dan belum terbebas dari paradigma lama. Yo, ada di buku apa atau situs apa and kirim cuplikannya ya… aku tunggu lhooo. Ini kan bagian dari dakwah…

  5. sebuah pergantian aturan dari aturan manusia kembali ke aturan Alloh itu sunatulloh yang paling mendasar yang menyebabkan rosul hijrah, “tanaman kalo mo hidup harus punya lahan sendiri” tidak numpang di lahan lain. Bukankah begitu sejarah peradaban manusia dari dulu hingga sekarang, “sunatulloh tidak akan berubah”. Nah sudah saatnya sekarang sunatulloh kembali berulang karena aturan yang berlaku sekarang bukan aturan Alloh, so sapa pemimpinnya? kemana kita hijrah?

  6. Wah pertanyaan siapa pemimpinnya itu tantangan yang luar biasa. Umat Islam sudah sekian lama terpuruk, sehingga kehadiran ratu adil, raja bijaksana, khalifah menjadi sebuah mimpi indah. Namun sedemikian essensinya sebuah nama dari seorang pemimpin? Bisa ya atau tidak. Karena sering banyak orang akhirnya terjebak dalam figuritas. Kemana hijrah> Itu bisa di jawab dengan sederhana. Dimana kita sekarang? Bumi Alloh itu luas, dimana kita bisa berjuang dan sekuat tenaga mengimplementasikan tugas kita sebagai mahluk Alloh paling sempurna (yaitu ibadah) disitulah kita harus berhijrah. Eksis adalah salah satu ini dari semuanya. So, how exist we are in the world?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: