Posted by: sopyanmk | 28/12/2007

Perlunya Merubah Paradigma Guru


Senin minggu lalu (24 Desember 2007) saya diajak Pak Jalu untuk sharing di salah satu SMP negeri di Jakarta Barat. Setelah menyantap isu kooperatif learning oleh Pak Jalu, saya melanjutkan sesi berikutnya dengan tema perlunya merubah paradigma guru. Ada banyak tantangan yang sulit untuk dilepaskan oleh seorang guru (mungkin saya juga saat ini yang mulai dikerangkeng secara fisik agar aktifitas diluar tidak terlalu berlebihan).

Kesan pertama adalah keterkejutan karena dihadapkan pada sosok sepuh para guru, mungkin hanya 20% saja guru-guru muda yang ada di sekolah itu. Selebihnya mereka yang siap-siap nunggu pesangon dari pemerintah (pensiun).

!--more--

Ketika diajukan satu pertanyaan “Apa yang membedakan cara Bapak/Ibu waktu dulu SMP dengan anak-anak murid Bapak/Ibu sekarang?”.
Jawabannya:
– dulu menghormati guru sekarang guru kurang dihormati
– dulu fasilitas belajar terbatas, sekarang lengkap
– dulu anak-anak siap belajar, sekarang anak-anak lebih pintar
– dulu tradisional, sekarang murid sudah tahu internet, handphone dll.

Ada dua hal yang menjadi titik masalah dari para guru, yaitu:
– sekarang guru kurang dihormati dan
– anak-anak sekarang lebih pintar dan menguasai tekonologi
kenapa jadi perhatian, kalau kita mau jujur sebetulnya guru sudah menjadi minder ketika banyak sekali murid-muridnya memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan sang guru. Mungkin perlu survey mendalam, namun di beberapa sekolah negeri yang saya tahu masih banyak guru-guru negeri yang tidak dapat mengoperasionalkan komputer apalagi memanfaatkan teknologi internet.

Untuk menutupi kekurangan itu, maka guru berupaya sekeras-kerasnya untuk menunjukkan eksistensinya supaya tidak kehilangan muka (emang muka bisa hilang ya?). Mungkin ada yang melakukan dengan smooth, ada juga yang arogan dan kasar. Tak peduli lagi tatakrama dan betapa murid akan semakin tahu kekurangan dan keterbatasan guru tersebut. Tindakan berikutnya sudah pasti bisa ditebak ….”Bullying”, bahkan bisa jadi dalam bentuk teror dan intimidasi.

Ketika guru merasa dijatuhkan martabatnya, tak segan nilai bicara.

Coba bayangkan, apa sih yang menjadi kebanggaan guru saat ini. Hampir bisa dipastikan guru-guru yang berada di kota besar sudah banyak yang kehilangan peran dan fungsinya sebagai guru. kenapa?
– para penyedia jasa bimbel sudah semakin marak dengan metodologi canggih serta layanan bergaransi. Mereka dijejali namun siswa tetap terus menikmati, rasanya jarang ada anak yang bolos bimbel karena takut ulangan atau belum mengerjakan PR. (Mungkin saja ada kalee)
– fasilitas belajar di rumah yang cukup memadai, internet, majalah, buletin ilmiah, televisi, video dan lain-lain.

Lalu guru dimana?

Apakah sudah sepantasnya guru ngotot minta diperhatikan oleh murid padahal bahan ajarnya kuno dan ketinggalan jaman.

Apakah harus guru membuat statement bahwa informasi yang benar hanya dari guru, semua pekerjaan yang dilakukan di rumah tidak valid? Anak saya saja marah kalu LKS nya diisi di rumah karena Ibu gurunya bilang kalau LKS itu harus dikerjakan di sekolah bukan di rumah. Kalau sudah diisi anak saya akan dibilang nyontek katanya… aneh kan…?

Atau haruskan guru mengeluarkan kebijakan melarang siswa ikut BIMBEL kecuali bimbel private dengan guru tersebut?

Padahal, semestinya guru haruslah dipahami tidak hanya sekedar menyampaikan informasi dari buku pelajaran atau LKS. Ada peran besar yang oleh sekelompok oportunis pendidikan jelas-jelas ditinggalkan, yaitu memberikan inspirasi bagaimana anak didik hidup dan berkembang sesuai dengan kaidah dan norma yang benar.

Di sesi ini saya suguhkan sebuah clip makingdifferentmovie.com tentang Teddy Stallard, mereka seperti tersentak dan melakukan refleksi yang dalam. Rasanya tantangan ini menjadi pukulan berarti buat peserta training, walau mungkin sesaat.

Statement saya terakhir adalah…
– jika bapak ibu mengajar di 7 kelas dengan jumlah siswa setiap kelas 40 orang, maka dalam setahun Bapak/Ibu telah menginspirasi anak didik 280 siswa. Jika dilakukan 20 tahun…. mungkin 10 tahun kedepan Bangsa ini akan semakin baik…
Bangsa ini akan semakin hebat…
Bangsa ini akan semakin disegani…

Semuanya berpulang ke tangan guru, apakah hanya diam? apakah hanya LKS dan buku paket? apakah hanya sertifikat? apakah hanya PR tanpa pemeriksaan? Apakah hanya penyesalan dan ketidak puasan? Apakah hanya menunggu waktu pensiun? apakah hanya menunggu gajian datang?
Atau… masih haruskan guru-guru betah bersandar pada paradigma “seperti guru yang terdahulu”

Bisa jadi, guru sekarang memang tak jauh dari guru yang lalu. Sialnya, murid sekarang jauh lebih pintar dan percara diri dibanding murid jaman dahulu.

So, ayo berubah… Rubah dunia dengan langkah kecil kita, sekali melangkah insya Alloh dua kali berlari.

Salam,
Sopyan


Responses

  1. Dengan segala kelebihanyg telah tersedia terutama di kota besar, sebaiknya dipermudah anak yg diasuh dengan metoda honme learning untuk bisa ikut ujian. Maksudnya anak itu diberi fasilitas ikut ujian bulanan dan semesteran oleh sekolah-sekolah, Kalau perlu sekolah membuat program khusus itu, sehingga makin banyak orang tua terbantu tanpa harus bayar banyak SPP, uang gedung cs, dan kegiatan sosial yg mengajarkan informal anak jalanan bisa dengan mudah ikut ujian yg terstruktur juga. Memang saat ini ada ujian Model A, B, tetapi itu tidak membantu anak yg disebutkan diatas, karena sangat tertutup dan ikut ujiannya bersama hanya ketika UAN saja.

  2. Halo Ibeth (maaf, saya harus panggil Pak, Ibu, Mbak, atau Mas?) , saya setuju jika sekolah memberikan pelayanan ekstra seperti anggaplah community service kepada warga di sekitar sekolah yang kurang mampu. Namun, sekolah-sekolah pasti berkilah bahwa departemen yang mengurus itu adalah SMP Terbuka atau PLS. Sekolah terbuka bahkan dibebaskan segala kewajibannya dan diberi uang saku. Nah kalau udah gitu, sekolah induk akan dengan senang hati memotong dengan segala daya upaya….

    Mungkin sudah saatnya ada gerakan dari masyarakat untuk melakukan penyadaran seperti itu. Pembinaan masyarakat tentang hak dan kewajiban sebagai warga negara perlu disosialisasikan . Sehingga warga menjadi tidak sungkan untuk menuntut haknya.

  3. Paradigma perubahan memang menjadi sangat sulit ketika ditawarkan kepada guru yang puas dengan mengajar dengan gaya dan kebiasaan lama.
    Keluar dari comfort zone memang tidak mudah..
    Terima kasih sudah mau berbagi..

  4. Sama-sama Mas Agus,
    Adalah menjadi tantangan berat buat kita untuk meyakinkan kepada guru bahwa berubah adalah menyenangkan. Islam mengajarkan indahnya perubahan seperti yang dinikmati oleh Bilal, Umar Bin Khatab, Ubu Dzar, serta nikmatnya hijrah yang membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin.

    Kesabaran dan konsistensi bisa jadi alternatif mengajak mereka berubah. Kadang-kadang egoisme dan mekanisme pertahanan dirilah yang sering menjadi kendala.

    Tidak ada salahnya kita memulai.

    Salam,

  5. Hmmm…
    tantangan buat para yunior. Masalahnya, mungkin pendekatan kita ke gurunya langsung, secara pribadi, karena merubah sistem adalah hal yang tidak mudah.
    dikasih gratis pelatihan pun, senior sepuh kita ini, masih mikir, dan ada yang langsung nolak.
    iming2 materi pun ga mempan.
    ya… jadinya lari ke raport guru untuk kenaikan jabatan (opo sih istilahnya? lali aku)
    Yep. Kami di sini merintis, mengajak pelan-pelan tapi pasti….
    Apa karena: udah nyaman? jadi ga mau brubah?
    he..he… sorry kalo nebak… or nuduh….
    matur nuwun

  6. Mbetul sekali Mbak Desiree :)) kasihan juga ya mereka itu. Mengajar tapi yakin tidak menikmati dunia mengajar, datang ke kelas tetapi tidak menikmati kelas, kasih ulangan tapi tidak menikmati evaluasi… duh merana banget hidup guru. Sudah gaji kecil, hidup tidak dapat dinikmati.

    Kalo Sampoerna Foundation dan siapapun di negeri ini yang peduli terus bersinergi, aku yakin tak ada yang tak mungkin. Mungkin perlu sebuah momen revolusioner yang membuat semua guru tersentak dan tidak bisa mengelak.

    Yo…. yo… yo… kita buat buat perubahan!

    Salam hangat,
    Sopyan

  7. Sebenarnya bukan menjadi patokan apakah itu guru pd saat dulu maupun guru saat ini, yang terpenting adalah bagaimana guru itu mau berubah dengan terus mengikuti pekembangan zaman (supaya ngga minder thdp muridnya). Ada guru-guru saat dulu (yang sepuh) namun tetap update dgn perkembangan, begitu juga sebaliknya ada guru2 saat ini yang enggan untuk mengikuti perkembangan.
    Banyak faktor yang mempengaruhi penyebab tsb, mulai dari diri sendiri maupun faktor-faktor eksternal lainnya.

    Memang perlu perjuangan berat dan panjang untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Banyak pihak yang sampai saat ini terus menerus berupaya melakukan perubahan-perubahan tersebut dengan berbagai cara. Semoga usaha tsb menjadi bagian pembelajaran untuk kita semua.

    Ada sebuah pepatah mengatakan:
    Orang-orang muda tinggal di masa depan
    Orang-orang tua tinggal di masa lalu
    Orang-orang bijaksana tinggal di masa kini

  8. Sangat setuju, guru tidak semuanya jelek. Guru juga manusia ada pasang ada surut. Yang harus kita sikapi adalah bagaimana mengembalikan motivasi yang hilang dimakan oleh rutinitas. Mungkin ada banyak faktor yang menyebabkan guru terjerembab pada sikap apatisme.

    Apakah mungkin guru perlu konsultasi ke psikolog? hehehe

    Salam,

  9. eh..kumaha kabarnya? damang?
    guru = digugu dan ditiru. Apanya?? tentu tata kramanya, disiplin dan kepintarannya.
    sory, komen gue gitu doank haha..

  10. kabarku baik-baik teh Tuti, wah tepat sekali… bayangkan ya kalau semua guru mau jadi model seperti itu mungkin saja akhalaq siswa dan bangsa ini akan semakin baik….

  11. Ada beberapa hal yang menyebabkan guru tidak mau berubah.
    1. Tidak ada niat untuk berubah
    2. Sudah merasa nyaman dengan posisinya.
    3. Lingkungan tidak mendukung untuk perubahan.
    4. Tidak adanya kontrol dari penggagas perubahan.

  12. Guru sekarang, antara harapan dan kenyataan kayane masih jauhhhh…..

    Apakah guru perlu idealis atau pragramatis?
    Apakah guru perlu kreatif atau yang penting duit?
    Apakah guru perlu jujur atau yang penting mujur?
    Apakah guru perlu baik atau ….

    Ketika….

    Ada “guru” yang malsuin sertifikat demi lolos sertifikasi.

    Ada “guru” yang bocorin soal ketika ujian nasional

    Ada “guru” yang ngelesin muridnya sendiri di rumah atau bimbel dan ngbantu saat ulangan.

    Ups…. hanya ?

  13. Wah Pak Abdul emang luar biasa, terima kasih sudah memberikan ide lagi untuk menulis… malah kali bisa jadi topik diskusi… boleh kan tulisan itu di share ke milis… hahaha dasar males mikir kali ya. Eh tapi kan guru harus begitu, berkembang karena ide dan inovasi keterbukaan… tambah pusing kali ya

  14. Ah Pak Deni hahaha… tidak jauh harapannya. sudah banyak yang bergerak dan memiliki komitmen untuk menunjukkan siapa dirinya… pertanyaannya adalah apakah hanya konsumsi sendiri atau bisa menunjukkan diri di komunitas yang lebih besar…. gampang kan. Yo sama-sama sharing.

    Aku ada rencana ngadain seminar di Cianjur… datang ya…

  15. I agree to what you have written. Isn’t it true that Islam has taught us to be better today than what we were doing in the past, Mas? Anyway, what you have done is excellent. Keep going, brother! Subhanallah.
    diding

  16. Hi Mas Diding, thanks for your comments. Its make me more confidence to do more and more… just always remind and support me. Lets make the education as the best way for Indonesia tomorrow.
    Peace

  17. setiap generasi pasti punya pandangan yang berbeda. Generasi muda selalu berbeda pendapat dengan generasi tua. Sebuah paradigma, mungkin begitu bahasanya. Sosiolog menyebut muncul konflik antar generasi, karena memang ada sebuah mobilitas yang menuntut sebuah perubahan. Tetapi orang muda tidak perlu menuntut mereka berubah, tetapi bagimana yang muda mulai menunjukkan hal positip melalui pemikiran dan aktualisasi.Melelui artikel/buku atau sebuah lembaga. Saatnya aktualisasi diri sobat. Tidak sekedar basa basi. Kita ada karena mereka ada sebelumnya .Itulah dinamika kehidupan.

  18. Keren Buanget Mas Agus, yuk…!

  19. Masalah tidak mau berubah tergantung dari masing-masing individu guru tsb. karena manusia ini selesai belajar kalau sudah “dikubur”, bagi saya artinya kita harus belajar terus sesuai dengan peran yang kita jalankan, misalnya saya sebagai ibu rumah tangga, sebagai isteri, sebagai ibu, sebagai wanita karier, sebagai guru, sebagai seorang warga negara yang baik serta sebagai muslimah, tentunya untuk semua peran ini harus belajar tanpa henti, kita dihormati bukan karena prestasi semata, tetapi potensi yang terasahpun mutlak harus mendukung. Makanya sulit mengajak berkembang dalam masalah teknologi maupun ilmiah, karena training tentang personal development bagi pendidikpun hampir belum pernah ada (?)so kalau lebih pinter dan kurang dihormati murid jangan menyalahkan jaman atau murid, tetapi evaluasi terlebih dahulu konsep diri kita masing-masing secara jujur pasti akan menemukan jawabannya. APAPUN MASAKANNYA TERGANTUNG KOKINYA (meminjam istilah Pak Fuad Hassan mantan Mendiknas) agar convinience in the ages or all event.

    Selamat berbenah buat rekan pendidik !

  20. Terima kasih, yang muncul dibenak saya koki di sekolah adalah kepala sekolah. Benarkah?

  21. Guru adalah salah satu yang paling berperan untuk memperbaiki masa depan Indonesia. Kalo kita berbicara kemampuan teknologi mungkin guru akan kalah dengan muridnya. Tapi “making difference” dalam mengajar sehingga tujuan tercapai dan murid tidak bosan saya pikir juga penting pak sofyan. Murid juga bosan dengan cara tradisional yang ceramah atau catat, tulis, ingat. Di forum seperti inilah kita berbagi metode ataupun cara untuk membuat apapun mata pelajaran kita tetap menarik dan menantang buat murid-murid kita sehingga mereka menjadi generasi yang lebih baik daripada kita. Amien!!!

  22. itu yang saya mau Pak, jujur saja. Kalau hanya mengandalkan materi dari buku. Anak sudah lebih lengkap daripada gurunya yang kadang2 resourcesnya sudah out of date… nah making difference itu lah yang selalu menjadi target dan mimpi saya untuk guru2.

  23. Apakah ombak itu? ombak adalah kumpulan berjuta-juta titik-titik air yang bergerak bersama-sama ke arah yang sama jadilah sebuah gelombang besar. Mau berubah? berkumpulah…bergeraklah..bersama-sama, kearah yang sama …maka akan jadi gelombang dasyat perubahan!
    Daripada mencaci maki kegelapan mari kita mulai menyalakan lilin.

  24. Ya, itu yang saya alami Pak.Tapi bagaimana kitanya sajalah. kita jadikan mereka teman diskusi. Dan jangan lupa kita juga harus banyak mengembangkan diri dibidang lain. jangan mentang-mentang guru terus yang paling tahu. Alhamdulillah murid saya tahu menghormati guru, dan tidak mesti ditakuti. Karena kita menganggap manusia juga. Dan berubah tetap tergantung pada diri guru sendiri, Mau ditraining gaya apa juga mereka tidak akan pernah berubah kalau tidak niat. Saya kebetulan pengurus komite juga bagian Akademik. Dalam setiap rapat dengan guru terlihat arogan tidak semua memang tapi beliau kelihatan mendominasi, Apalagi membahas dan mencari solusi mengenai tuntutan orang tua murid yang mempertanyakan masalah Bahasa Bilingual karena dibrosur dijanjikan tapi nihil ya kadang sedih juga melihat guru begini. Padahal seharusnya beliau berpikir positif bahwa dia akan dapat ilmu tanpa harus mengeluarkan biaya. Sekolah SD Negri kerjasama Depag dengan Kairo jadi tetap ada pembayaran uang sekolah dan menuru saya mahal juga.Guru ada yang pegawai negri dan ada yang tidak.Sampai sekarang kami para pengurus komite terus berusaha untuk mengajak guru untuk mempraktekkan bahasa asing yang dijanjikan Walaupun hanya “saya mau pipis”. Dan Gengsinya dibuang… itu saja.

  25. entah lah …!!

    saya baru baca posting ini… kontars sekali(sungguh real)

    terutama guru SD banyak yg bergelar S.Ag, menjadi walikelas (tau sendiri model pembelajaran SD 1 guru memegang beberapa mata pelajaran) boleh jadi guru itu sendiri merasa minder… dan murisnya yg lebih pitar….!!

  26. Pak Jauhary,
    Its time to change…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: