Posted by: sopyanmk | 30/11/2007

Kesan-kesan mengikuti KGI (Konferensi Guru Indonesia) II


dscn1103.jpgdscn1103.jpgHari Pertama

Setelah lebaran waktu itu Pak Jalu sms saya yang isinya ajakan kolaborasi untuk jadi pembicara di KGI. Saya sebetulnya tidak terlalu ngeh kalau KGI ini adalah Konferensi Guru Indonesia. Sebab sebelumnya saya juga ngurus KGI (Klub Guru Indonesia) di CBE. Saya juga berpikir kegiatan ini adalah kegiatan intern sampoerna. Sampai saat ketemu dengan Pak Jalu baru saya sadar kalau kegiatan itu untuk KGI. Wah… anugerah luar biasa, soalnya saya selalu berminat untuk memasukan proposal materi ke panitia selalu tidak selesai karena kesibukan atau memang belum niat kali ya…

Lima hari sebelum hari H, saya dikejutkan dengan undangan dari Pemda Kota Bogor untuk menghadiri sumpah jabatan. Pertama, sangat dilematis antara peluang perform dengan status sebagai PNS. Tetapi, setelah berkonsultasi dengan Pak Jalu, akhirnya saya memutuskan menghadiri sumpah jabatan dan berdoa semoga Bapak Wali Kota sambutannya tidak panjang. Subhanalloh, doa saya terkabul. Pak Diani memberikan sambutan yang padat namun berkesan dan menyadarkan hakikat bekerja. Pengabdian…, pengabdian…, dan pengabdian…. Harus tetap jadi motivasi diri.

!--more--

Sayang, menjelang keberangkatan Fredy, Yayat, dan Asep memaksa untuk sedikit mengadakan ritual pesta dengan di traktir oleh Boss Fredy J Padahal ingin sekali mengejar sesi Pak Bahrudin dengan Sekolah Alternatif Qaryah Thayibahnya.

Sampai di lokasi dengan mengendarai motor ojek dari Stasiun Gondangdia akhirnya sampai di Balai Kartini. Serasa bermimpi, walau sempat bingung karena name tag tidak ada di conter penerima tamu karena dibawa Mas Ibnu (beliau ingin memastikan name tag sampai tepat ke orangnya). Terima kasih Mas Ibnu…

Secepatnya saya shalat dzuhur untuk memastikan tidak terlambat masuk kelas karena peserta yang akan sholat akan berjubel, sehingga saya bisa melakukan persiapan dengan segera. Setelah shalat, saya antri makan bersama dengan Pak Jalu sekalian berkoordinasi mengenai sedikit perubahan materi dan melakukan strategi dan teknis di podium. My heart was beaten ketika Pak Satria datang dan akan melihat presentasi saya. Jujur saja, beban moral karena saya sangat mengagumi kapasitas, ide, produktifitas, dan kepedulian beliau terhadap dunia pendidikan. Rasanya seperti pertaruhan… Beruntung saya sempat menenangkan diri ketika bertemu dengan Pak Fidelis (Koordinator LVEP Indonesia).

The time is come… AC ruangan serasa bertambah dingin. Terutama setelah MC memperkenal kami berdua. Bahkan beberapa kali saya harus menarik nafas panjang. Keyakinan saya hanya satu, guru-guru belum banyak yang melakukan pekerjaan ini dan kesadaran orang akan pemanfaatan ICT akan menjadi inspirasi bagi mereka. May be more… Ketika maju ke depan, sempat sesaat agak sulit menyusun kata-kata. Apalagi tatapan peserta dan Pak Satria yang sangat antusias. Setelah terkendali… kata-perkata pun meluncur sampai-sampai Pak Jalu memberikan reminder waktu. Bakat bawaan kali, setelah bicara lupa stop…

Sayang di sesi tanya jawab hamper tidak ada pertanyaan yang cukup menantang. Masih saja ada keluhan walaupun saya sudah menjelaskan bahwa kegiatan yang dilakukan hamper tanpa fasilitas di sekolah. Everything is volunteer, hanya untuk kepuasan diri. Ibadah, ibadah, dan ibadah seperti nasihat Bapak Walikota Bogor. Tak terasa sesi itupun usai, gemuruh tepuk tangan serta ucapan selamat serta genggaman erat tangan Pak Satria cukup melegakan, seolah-olah pertempuran sudah dimenangkan. Ada tawaran yang bikin geer juga sih…karena beliau mau mengajak ke Balikpapan untuk sharing dengan guru-guru di sana. Terima kasih atas kepercayaannya.

Sesi selanjutnya, saya malah keluar dengan Pak Jalu untuk menghirup udara segar sambil menghilangkan ketegangan.

Beruntungnya, kami berdua dihampiri oleh Mas Doni dari Radio BBC yang tertarik dengan presentasi kami. Mas Doni pada waktu itu sedang membuat cerita di BBC mengenai pendidikan yang akan disiarkan pada hari Selasa jam 18.00 petang. Dengarkan ya… J jangan lupa rekam. Narsis juga ya… Pak Jalu memutuskan kami berdua bersedia di wawancarai pada waktu istirahat atau pukul 15.30 – 16.00. Wah… jadi kepikiran terus, sampai-sampai saya agak kurang menyimak presentasi Pak Fidelis (maaf ya Pak Fidel).

Wawancara pun tiba, luar biasa kalau ngobrol dengan wartawan. Pertanyaanya cukup mendalam dan selalu susul menyusul, padahal rasanya saya jarang keteteran kalau berdebat. Kalau ini, saya harus bekerja keras untuk menjawabnya. Untungnya yang diwawancara berdua, sehingga waktu yang ada dibagi dengan Pak Jalu. Sampai akhirnya sesi berikutnya tidak bisa masuk karena asyik ngobrol dengan Mas Doni.

Lucky berikutnya, saya bertemu dengan Kang Bambang eh maaf maksud saya Bapak Bambang Sumintono, Ph.D J yang sedang berkumpul dengan Mas Nanang ups salah lagi maksudnya Bapak Ahmad Rizali. Mereka berdua adalah pentolan CBE (The Centre for the betterment of Education) mudah-mudahan tidak salah menjelaskan. Maklum dulu sebelum kesibukan sekolah sempat magang dan berguru kepada mereka, selain tentu saja Pak Satria Dharma. Wah, reuni deh…

Rasanya hari itu hidup menjadi luar biasa, dari jauh saya melihat Pak Bahrudin (The maestro of Alternative School Qaryah Thayibah di Salatiga). Saya merajuk ke Kang Bambang agar memperkenalkan dan bisa berbincang dengan sang maestro. Soalnya saya tahu Pak Bahrudin tidak mungkin menolak kalau yang mengenalkannya Kang Bambang… biasa ada rahasia dan pengalaman bersama J. Wah… lagi-lagi saya harus menyiapkan mental, rasanya selama ini saya cukup ekstrim untuk bicara system pendidikan. Ketika ngobrol dengan Pak Bahrudin, saya seperti belajar lagi untuk ekstrim. Luar biasa, cukup menginspirasi hasil obrolannya. Walau secara pribadi saya punya catatan-catatan kecil jika saya melakukan hal yang sama (ada juga sih rencana bikin sekolah alternative, doakan ya). Soalnya kalau saya kemukakan, bisa jadi beliau tidak menerima. Maaf kalau asumsi saya salah, beliau lebih senang mengatakan ini yang saya mau. Kalau anda tidak suka ya… tidak apa-apa. Padahal kalau sudah akrab mungkin pendapat saya salah. Amin.

Kejutan berikutnya datang dari para kepala Sekolah Lab School Cinere. Di sana pengalaman besar didapatkan berkat CBE juga. Kangen sekali bertemu dan berbagi dengan pejuang-pejuang seperti mereka. Lucunya, kepala sekolahnya ternyata hadir di sesi saya dan tidak nyadar kalau yang bicara itu Sopyan…J. Kadang-kadang dunia suka begitu ya…

Jadi, hari pertama sesi terakhir berakhir manis dengan beragam kejutan, walau sudah pasti saya tidak mengikuti sesi kelas tapi sesi khusus yang luar biasa.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: