
(Refleksi Idul Adha 1429 H)
Sering kita mendengar kisah Ibrahim as. sedari kecil yang meminta anaknya supaya bersedia diqurbankan. Lalu kesediaan Ismail as. yang menyatakan kebersediaannya. Legenda qurban pun terus berjalan dan pembahasan kisah itu pun selalu berulang. Saat ini ada satu pertanyaan yang menggelitik dalam hati saya.
- Benarkah Ibrahim as. adalah orang yang thaat kepada Allah sehingga bersedia menjadikan putra terkasihnya sebagai qurban?
- Benarkan Ismail as. adalah anak yang shaleh sehingga bersedia diqurbankan oleh ayahandanya?
- Bagaimana Ismail menjadi anak yang shaleh?
Pertanyaan pertama akan mudah dijawab, ya.. karena baginda Ibrahim as. adalah seorang Nabi yang selalu ada dibawah bimbingan Allah swt. Pertanyaan kedua dan ketiga inilah yang menjadi esensi dari tulisan ini. Kalau jawabannya benar Ismail anak shaleh, bukankah banyak saat ini anak shaleh namun belum tentu mampu dan siap untuk berkorban seperti itu. Mungkin pertanyaan kedua akan dapat terjawan oleh pertanyaan ketiga.
Yang sering terlewatkan dalam pembahasan kisah ini adalah bagaimana Ibrahim serta sang Ibunda Hajar dalam mendidik Ismail kecil. Di sana ada kurikulum yang sangat terukur, ada evaluasi yang holistik, serta reward and punishment yang sangat tepat. Karenan tanpa kurikulum yang baik, tidak mungkin Ismail kecil bersedia menjadi kurban tanda bakti ayahnya.
Pertanyaan berikutnya adalah kurikulum seperti apa sih yang digunakan?
Jawaban saya sederhana saja, kurikulum yang digunakan adalah kurikulum yang memang diajarkan oleh Allah kepada Ibrahim as. yang saat itu sebagai nabi. Singkatnya, kurikulum yang dipakai adalah kurikulum kitab suci. Sebuah pernyataan bombastis tapi kenyataannya memang seperti itu. Tapi dari sana akan muncul kembali pertanyaan berikutnya, apakah setiap orang yang mengajar dengan menggunakan kurikulum kitab suci akan menghasilkan anak didik yang sama seperti Ismail? Bisa ya bisa tidak! Jawaban ini pasti membingungkan, tapi inilah yang ada dipikiran saya melihat fenomena pendidikan saat ini. Ada beberapa faktor yang muncul dalam konteks pendidikan yang diperoleh Ismail kecil. Salah satu hal esensi tersebut adalah cinta dan kasih sayang. Ismail, yang dibesarkan di tanah gersang namun ia tidak pernah merasakan kegersangan hati dari sang Bunda. Curahan ketulusan dan cinta seolah mengalahkan curahan zam-zam yang muncul dari dalam tanah. Subhanallaah… sunggu kisah mulia dari sekian juta kisah mulia yang ada.
Refleksi yang paling ideal adala, sudah sejauh manakah kita mau merefleksikan kasih dan cinta kita kepada anak-anak kita. Kurikulum apa yang mau kita pakai dalam kehidupan keluarga kita? Kurikulum apa yang mau dipakai untuk anak didik kita?
Semoga kita bisa menjadikan momentum besar hari ini demi kebaikan kita di dunia dan akhirat. Amin…


It seems that reading your posting in klubguruindonesia@yahoogroups.com is not enough, so I decided to visit your very impressive blog. You are right that Ibrahim is (I don’t say was) a real great teacher. That is why he deserved a great title too, the father of prophets, because he has successfully produced the most distinguished descendants, till the last prophet, the lord Muhammad (I love to call him Baginda) .
My best regards
Mampuono
The friend indeed, the friend in need.
By: Mampuono on 08/12/2008
at 9:53 am
Buku saya bertajuk “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” mengutip pendapat M. Yasin (alm), guru besar IKIP Surabaya, “tiga dasar pendidikan, yaitu (1) kasih sayang, (2) kepercayaan, dan (3) kewibawaan. Kasih sayang menghasilkan kepercayaan, dan kepercayaan melahirkan kewibawaan. Makasih.
By: suparlan on 08/12/2008
at 10:10 pm
Thanks for visiting my blog. It is fantastic when I read your comment… I can’t believe it. Hope I can improve, improve, and improve….
viva klub guru Indonesia.
Cheers,
By: sopyanmk on 09/12/2008
at 1:55 am
Wow… dari semua comment… saya jadi banyak feed back dan inspirasi… Terima kasih telah memberi banyak ilmu dan tambahan idenya.
Ayo.. berjuang!!
By: sopyanmk on 09/12/2008
at 2:14 am
Nimbrung, ya Pak.
Saya ingin menggarisbawahi peran Bunda Siti Hajar pada pendidikan Ibrahim.
Jadi, siapakah Bunda Siti Hajar?
Ia adalah seorang hamba yang punya kebergantungan utuh kepada Allah swt.
Ia yang mencoba menggugah belas kasihan suaminya ketika ditinggalkan di padang pasir bersama bayinya, bisa terpuaskan dengan jawaban bahwa itu adalah perintah Allah.
Ia yang dalam kebergantungannya itu tidak membuatnya malas berikhtiar. Ikhtiar yang sungguh hebat hingga dijadikan pelajaran abadi bagi kita semua dalam ritual Sa’i.
Sungguh, perempuan istimewa, istri yang hebat, ibu yang luar biasa.
Jadi, bagian dari pendidikan holistik adalah siapkan anak perempuanmu meneladani Bunda Siti Hajar, didiklah istrimu meneladani Bunda Siti Hajar, didiklah ibu-ibu meneladani Bunda Siti Hajar.
Ayo .. berjuang! Allhu Akbar
By: Lisda Fauziah Harahap on 10/12/2008
at 2:05 pm
Wow… ide baru dan sangat fantastik. Sepertinya saya harus mengembangkan ide ini untuk lebih luas lagi. Terima kasih Bu Lisda…
By: sopyanmk on 11/12/2008
at 2:32 am
Kepercayaan Ismail kepada ayahandanya Ibrahim tentunya bukan kerana pembelejaran dan suri tauladan yang diperlihatkan sang ayah dalam satu hari. Tetapi selama mereka berstatus ayah dan anak, Ismail telah mendapatkan contoh suri tauladan dari sang Ayahanda. Lalu penolakan seperti apa yang harus dilakukan Ismail, jika selama ini ayahandanya adalah orang yang amat sangat bisa dipercaya setiap kata dan tidak tanduk nya?
Kita perlu belajar dari Ibrahim, pembelajaran macam apa yang telah ditanamkan kepada sang anak, sehingga dimata Ismail perintah yang disampaikan ayahnya tidak perlu diragukan kebenarannya.
By: Rita on 11/12/2008
at 7:09 am
Assalamu’alaikum Bang Sofyan and Shobat2 smua..
Ada hal lain yang juga perlu bahkan HARUS , kita teladani bersama…
1. Seberapa besar Keimanan yang ada dan tlah
kita yakini dalm Qulbu masing-masing??
adakah hanya sebatas Pengakuan dalam hati
dan tlah kita buktikan dengan ritual Lima
waktu saja?? Namun kita masih enggan dan
belum mau memberikan Manfaat kepada
saudara yang lain dengan MENGORBANKAN
sedikit saja dari yang Allah titipkan pada kita..
2. Kawan-kawan, Insya Allah Komunitas ( baca :
Jamaah / Bangsa & Negara ) kita ini akan Adil
dan Makmur manakala kita juga meneladani
segala yang pernah dicontohkan oleh
Nabiyullah Ibrahim.as, Bagaimana Beliau
menterjemahkan Iman dan Cintanya pada
Allah, dengan merelakan satu2 nya Putra yang
sangat dia cintai. Untuk Kita smua ??Allah
Tidak lagi memerintahkan pada kita tuk
mengurbankan Anak kesayangan kita, sekali
lagi BUKAN ANAK kita, tapi sebagian dari rizki
yang tlah Alah Anugerhakn pada kita, mungkin
harta kita, jabatan kita, waktu, kesehatan dan
entah apalagi, terlalu banyak kalo kita harus
menyebutkan betapa Allah SANGAT sayang
pada kita. Berapa Rupiahkan setiap Minggu
kita memasukkan ke Kotak Amal masjid, atau
bersedekah tuk saudara kita yang lain, atau
berapa kalikah kita bisa mengurbankan sedikit
waktu kita tuk berjamaah di masjid?? Dan
sudah kita bisa berkurban yang hanya
setahun sekali ?? Tanpa harus menunggu
Bagaiamana Allah MAMPU harus mengambil
yang kita cintai dengan car NYA . Shobatku,
sedikit tambahan ide ini smoga mampu
menggugah hati saya pribadi , dan shobat2
lain yang tlah digariskan Allah harus mampir di
Blog nya Mas Sofyan. Semoga Allah snatiasa
meng Anugerahkan keberkahan pada kita
smua ..Amiin
Wassalam.
By: Ted_Marzuki on 12/12/2008
at 2:35 pm
Subhanallah, sungguh luapan kebenaran yang luar biasa. Semoga akan banyak saudara-saudara kita yang bisa membaca dan terus memperbesar peningkatan keimanan.
Terima kasih sudah mampir dan memberikan pencerahan yang luar biasa… saya jadi speechless Mas…
By: sopyanmk on 12/12/2008
at 2:50 pm
goooood21
By: toni on 07/03/2009
at 7:32 pm