Lebaran sudah usai, walau entah dari mana kosa kata lebaran itu datang. Lucunya saya tidak terlalu
tertantang untuk mengetahui asal-usul dari kata lebaran. Kalau melihat dari akar kata sih berasal dari kata “Lebar”. Dalam bahasa Indonesia itu bisa berarti lawan kata sempit, atau bisa jadi pasangannya “panjang” (panjang x lebar) haha. Tapi tradisi ini jelas menjadi sebuah komoditas yang multi dimensi. Malah sejak kapan tradisi itu datang juga memang semakin aneh. Karena dalam kisah “Shirah Nabawiyah”, rasanya tidak ditemukan perayaan jor-joran yang malah cenderung berlebihan demi merayakan selesainya Ramadhan. Yang saya tahu malahan perayaan Idul Adha, bahkan Islam memberikan cuti bersama 3 hari yang dikenal dengan tasyrik. Tapi pertanyaannya mengapa bisa terbalik?
Ada beberapa hal yang selalu menggelitik nurani iman saya tentang budaya mudik?
- Mengapa harus mudik hingga banyak yang batal shaum karena lelah di perjalanan?
- Mengapa mudik menjadi kontradiktif dengan nilai kesederhanaan Ramadhan?
- Mengapa Ramadhan menjadi sangat konsumtif?
Pertanyaan-pertanyaan itu selalu datang pada waktu ramadhan menjelang. Belum lagi genap sehari menjalankan Shaum sudah muncul wacana THR, tanggal mudik, serta segala macam tetek bengek makanan yang malah melupakan essensi dari sebuah proses spiritual. Sehingga, semakin banyak orang bahkan saya sendiri sudah terjebak pada rutinitas dan sekedar melakukan ritual yang kurang bermakna. Terlalu materialistis. Bayangkan, sahur harus dijejali dengan produk iklan di TV, rasanya kita ini tidak afdhal kalau sahur tanpa nonton tv yang penuh dengan iklan jebakan. Siang hari dipenuhi promosi tempat makan yang luar biasa. Menjelang maghrib banyak orang yang antri demi sekedar membeli gengsi agar berbuka dengan segelak kolak. Bahkan makanan sederhana menjadi pantangan kala Ramadhan. Ini sungguh menjadi sesuatu yang kontradiktif.
Entah mengapa hal itu terus terjadi dan semakin tidak terkendali. Imbauan para ulama untuk melakukan shaum dengan benar hanya sebatas wacana dan informasi. Semuanya terlelap dalam kenikmatan ragawi dan duniawi yang fana ini. Perlu kerja keras besar untuk merubah tradisi yang sudah mengakar namun belum tentu ini bermanfaat dan sesuai dengan Syar’i. Perlu ada pembenahan dan pembelajaran terstruktur dari para ulama dan para pemegang kebijkana
Semoga lebaran yang akan datang dapat semakin baik dan lebih meningkatkan sisi-sisi ruhani dan spiritual dibandingkan dengan sisi-sisi komersial yang semakin menggurita


Pak sopyan, salam kenal saya Yosi Guru sekolah Citra Alam, kemaren kebagian tiket LP dari Yuli. makasih banyak yah…btw dibelakang cover profil bapak kayanya saya lihat orang atau apa yah i am very curious…he…he…bales ya Pak saya penasaran
By: yosi on 12/10/2008
at 8:46 pm
Terima kasih kembali… dan terima kasih untuk kunjungan ke blog saya… photo itu diambil di Yunani di kota Serres th 2006. Kebetulan gedung itu adalah balaikotanya… jadi itu adalah para pekerja kantor yang keluar karena pada waktu di photo sedang jam istirahat. Di Yunani… jam istirahat digunakan orang untuk makan siang dan tidur siang. masuk lagi bekerja jam 4 sampai jam 10 malam… Semua toko tutup kecuali toko makanan. Keren dan cukup aneh…
By: sopyanmk on 13/10/2008
at 3:37 pm