Menjelang proklamasi kemerdekaan yang ke 63, terasa sekali betapa keringnya hingar bingar dan segala macam gejolak emosional yang ada di masyarakat. Betapa suasana pasif dan tidak kondusifnya suasana ini dari tahun ketahun. Keramaian hanya berpusat di kantor-kantor pemerintahan, itupun sekelas walikota atau kabupaten. Untuk tingkat kecamatan dan desa? Rasanya sulit untuk menjelaskan antusiasme itu besar. Kegiatan independen yang dilakukan masyarakat semakin berkurang. Atau mungkinkah karena sekarang sedang dilanda krisis ekonomi sehingga masyarakat enggan menyumbang, masyarakat disibukkan untuk mencari sesuap nasi dan biaya keluarga? Atau mungkin semakin tingginya kekecewaan terhadap para birokrat dan partai politik yang selama ini hanya mengumbar janji palsu dan menunjukkan gemerlap harta dari sisa korupsi.
Bisa jadi itu semua benar bisa jadi juga hal tersebut salah. Sudah terlalu kompleks dan sulit untuk diurai benang kusut negeri ini. Sepertinya ketika berdiskusi dan mencari solusi, semua orang akan terkendala oleh keprihatinan dan kekecewaan mendalam. Bahwa bangsa ini memiliki ekspektasi tinggi terhadap kemerdekaan setelah sekian ratus tahun dijajah oleh bangsa Eropa dan Jepang jelas menjadi eforia di awal kemerdekaan. Namun sayangnya diperjalanan sejarah bangsa ini sepertinya kesulitan untuk menentukan arah dan tujuan mengapa bangsa ini harus merdeka. Pemberontakan akibat kekecewaan dari tahun ke tahun, periode ke periode selalu terus berulang dan seolah menjadi api dalam sekam dalam sejarah bangsa ini.
Rendahnya pendidikan kebangsaan untuk menjelaskan arah dan tujuan bangsa ini semakin memperparah keadaan ini. Pendidikan kebangsaan bahkan pernah menjadi media indoktrinasi di zaman orde baru. Bahkan menjadi guru PKn seolah-olah menjadi ujung tombak dalam menjelaskan orientasi kebangsaan dan kepentingan penguasa. Hasilnya, luar biasa… setelah rezim tumbang dan disusul dengan membludaknya budaya aji mumpung di kalangan politisi, aparat negara, serta para pemilik modal di negeri ini seolah-olah menjadi pembenaran bahwa pendidikan kebangsaan selama ini telah gagal. Bahkan banyak yang berpikir untuk apa pendidikan kebangsaan ini masih dilakukan, karena selama ini pun tidak menunjukkan hasil yang signifikan.
Benarkah demikian? Bisa benar bisa juga tidak. Ada banyak faktor penyebab tidak maksimalnya kurikulum pendidikan kebangsaan, diantaranya:
- Rendahnya orientasi kurikulum yang ideal dengan aplikasi yang dilaksanakan oleh para pengajar. Program yang hebat akhirnya terdampar hanya mendaji muatan kognitif yang akhirnya wawasan dan hasil psikomotor terhempas pada selembar kertas yang menjadi angka di halaman-halaman buku raport.
- Rendahnya orientasi guru dalam mengembangkan pelajaran sehingga materi hanya sekedar sebaran informasi yang harus dihapal dan dijadikan catatan
- Sistem pembinaan guru yang masih terbatas top-down menjadi kendala, kreatifitas dan inovasi yang muncul dari bawah seolah menjadi hal tabu dan tidak sesuai dengan kaidah keorganisasian yang ada di bawah naungan MGMP.
- Pendekatan “kekerasan” dalam mengajar sering membangkitkan ketakutan siswa dalam melakukan eksplorasi dan mengemukakan pendapat.
Untuk itu perlu dilakukan revolusi pendidikan kewarganegaraan sehingga dapat menentukan arah bangsa ini menjadi yang lebih baik dan mampu menciptakan generasi yang bangga akan bangsa dan tanah airnya.
Salam perubahan,
Menjelang agustus, 14 Agustus 2008


AslKum . . .
Pak, sxlagi maaf ni lancang bgt ksih comment2 . . .
Tapi apa boleh ga saya sharing dngn bpk??
cz saya tertarik bgt dng bLog yg bPk bwat.
dan Insya Allah saya selalu Exist.
he_
karena bnyak bermanfaat skali bg saya.
tapi apa boleh saya nOngkrong di Blog bpk.????????
Boleh kan???
Menrut bpk sndri kan telah dibilang klo di ngra qta tuh rendah pendidikan kebangsaannya kan??
Jika seandainya bpk dpt mengKoordinir sgalnya,, apa yg akan bpk lakukan atw RevOlusi penddikan spya aRah bangsa ini dapt mnjdi yg lebih baek???
Maksih ya . .. .
Sxlgi maav Mengganggu karna sya bener2 tertarik dng bLog ini yg dpt menambah wawasan saya
THX u
By: Anton Permana on 15/08/2008
at 8:34 pm
Hi Anton,
You welcome, gimana ya jawabannya rada panjang juga sih… yang ada dipikiran saya adalah bagaimana menyadarkan generasi muda “siswa/mahasiswa” untuk menyadari bahwa ada pekerjaan rumah yang sangat berat terutama amanat UUD’45. Kalau saya dikasih kesempatan mengatur itu semua, maka akan saya buatkan program total generasi muda sehingga mereka semuanya dapat maju, berkembang dan bertanggung jawab. hehehe pusing kan…
By: sopyanmk on 16/08/2008
at 12:46 am
Iaa . . . .
PuzInk Nih . .. .
ByasaLah . .
msIh naq KeCil.
he_
Tp GppLah . .
It’s Great i know.
Gmn skrng Pljran PKn dSmpn3??
Pzti Lbih maJu Lah da bpk.
he_
By: Anton permana on 16/08/2008
at 7:27 pm
Permisi, saya ngopi gambar benderanya ya pak buat profil facebook saya
By: Rasyidan Razak on 05/08/2009
at 2:49 am